20 November 2019

Dampak Aksi Massa 22 Mei Terhadap Ekonomi Nasional

KONFRONTASI-Pemilihan Presiden yang berlangsung pada 17 April 2019 berlangsung damai dan demokratis.

Selanjutnya pada 22 Mei, Komisi Pemilihan Umum mengumumkan hasil perolehan suara sebesar 55,50 persen diraih pasangan capres nomor urut 01 Joko Wido-Ma'ruf Amin, dan 44,50 persen untuk pasangan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno.

Namun, sehari sebelum pengumuman pemenang Selasa (21/5), situasi keamanan tercoreng dengan aksi demo di depan Bawaslu, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat di Jalan KS Tubun Raya, Jakarta Barat, dan di Fly Over Slipi, Jakarta Barat.

Pada Rabu dini hari (22/5) hingga malam hari aksi berlangsung ricuh yang mengakibatkan sebanyak 6 orang meninggal dunia dan sekira 200 orang luka-luka.

Peristiwa ini praktis mengundang kekhawatiran semua pihak, karena jika masih terus berlanjut bisa berdampak negatif, tidak saja terhadap situasi politik nasional, namun juga terhadap perekonomian.

Pemerintah selain berusaha menjaga situasi keamanan tetap kondusif juga langsung mengamankan sejumlah lokasi demo seperti Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Bawaslu, pusat-pusat perbelanjaan dan objek vital lainnya.

Dari sisi ekonomi, situasi yang kurang kondusif tersebut memicu harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia pada pembukaan pasar langsung anjlok sebesar 2,99 persen menjadi 5.948,38 poin. Selanjutnya pada penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot ke level 5.939,64 poin.

Sejalan dengan itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar uang juga melemah 45 poin atau 0,31 persen menjadi Rp14.525 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.480 per dolar AS.

Analis Indopremier Sekuritas, Mino mengatakan setelah pengumuman KPU yang memenangkan pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin masih direspon pasar yang cenderung positif. Namun, setelah ada demo, IHSG turun dan transaksi saham berlangsung sepi.

“Harapan pasar sebenarnya situasi politik kembali cair setelah penetapan KPU, sehingga pemerintahan yang baru bisa berjalan sebagaimana mestinya. Tapi setelah ada demo, IHSG turun," ujar Miko.

Sementara Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah pada hari ini dominan dipicu sentimen domestik yaitu aksi demo menolak hasil rekapitulasi nasional KPU.

Secara eksternal itu pelemahan rupiah tidak ada pengaruhnya, pengaruhnya lebih besar di dalam negeri. Pada saat KPU mengumumkan pemenangnya adalah Jokowi, yang terjadi paslon 02 menolak dan terjadi kerusuhan.

"Kerusuhan ini menyebabkan pelaku pasar meninggalkan dan melakukan 'profit taking' di pasar Indonesia," ujar Ibrahim.

Meski terjadi penurunan rupiah dan saham, namun sejumlah kalangan memperkirakan tidak akan terus berlanjut dengan catatan situasi keamanan dapat terjaga dan kondusif.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meyakini aksi demonstrasi 22 Mei 2019 tidak akan berdampak signifikan terhadap investasi dan pasar keuangan dalam negeri.

"Ya itu namanya euforia pasar. Pasar itu suka sentimental saja," katanya.

Aksi massa yang terjadi secara keseluruhan masih bisa dikendalikan oleh aparat keamanan, sehingga kepercayaan pelaku pasar masih bisa dijaga.

Pasalnya, tekanan di pasar keuangan domestik juga tidak hanya disebabkan kondisi dalam negeri, melainkan tekanan perang dagang antara AS dan China dari eksternal yang telah memicu pembalikan arus modal.

Pusat ekonomi

Aksi demo yang berlangsung dari pagi hari, siang hingga dinihari tersebut, sempat membuat lumpuh Pasar Tanah Abang, di Jakarta Pusat.

Aktivitas di pusat perdangangan tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara ini terpaksa tutup karena berada di dekat aksi demo Bawaslu, Jalan KS Tubun maupun Fly Over Slipi.

Toko-toko yang biasanya menjual oleh-oleh haji di Jalan Mas Mansyur tutup. Begitu pula dengan pertokoan Blok A, Blok B, Blok F dan Blok G.

Demikian juga pusat perbelanjaan Sarinah Thamrin, yang berhadapan langsung dengan Gedung Bawaslu titik utama aksi demo, tutup sejak Selasa (21/5).

"Demi alasan keamanan dan keselamatan, juga dikarenakan banyak akses menuju Sarinah yang ditutup yang menyulitkan para pelanggan untuk datang, maka kami mengambil kebijaksanaan menutup toko," kata Corporate Secretary Sarinah Haslinda Triekasari.

Sedangkan di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, dan Pasar Glodok, Jakarta Barat, akvitas perdagangan masih berlangsung, meskipun tutup lebih awal untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Biasanya pasar Jatinegara yang terkenal menjadi pusat penjualan pakaian jadi ini tutup jam 17.00 atau 18.00, namun ditutup lebih cepat sekitar 14.00.

"Saya biasanya per hari bisa membawa pulang penghasilan sampai dengan Rp3 juta, kalau hari ini tidak sampai angka segitu," ujar pedagang pakaian bernama Ari.

Sementara aktivitas perdagangan di Lindeteves Trade Center (LTC) Glodok Jakarta Barat berjalan normal seperti biasa, tidak terpengaruh dengan adanya aksi unjuk rasa 22 Mei.

"Memang sepi pengunjung sekarang ini karena takut keluar rumah. Tetapi toko masih tetap buka seperti biasa. Tetap melayani pembeli seperti biasa," ujar salah satu pedagang, Yuliana.

Meski sempat khawatir dengan aksi 22 Mei yang memicu bentrok meluas, Yuliana mengaku tidak khawatir beraktivitas karena aparat TNI-Polri telah menjaga kawasan LTC Glodok.

Sektor wisata

Sektor pariwisata biasanya merupakan industri yang paling sensitif terhadap keamanan suatu wilayah.

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) optimistis situasi politik yang terjadi di Indonesia khususnya terkait aksi demonstrasi di Jakarta tidak akan berdampak pada sektor pariwisata.

"Memang banyak pertanyaan. Itu sudah biasa ketika selesai Pemilu. Saya meyakinkan kepada wisatawan bahwa Indonesia aman dan optimistis tidak akan berpengaruh," ujar Ketua Umum Asita Nunung Rusmiati.

Aksi massa yang terjadi masih bisa dikendalikan oleh aparat keamanan, dinilai efeknya juga tidak besar untuk sektor pariwisata.

Di sektor transportasi, situasi keamanan juga masih kondusif. Terkait aksi masa yang terjadi di Bawaslu dan sekitarnya, tidak mempengaruhi pelayanan penerbangan terutama di Bandara Soekarno-Hatta.

Untuk itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi langsung memerintahkan operator bandara untuk memperketat pengamanan.

“Di saat situasi politik tengah memanas dan jelang Angkutan Lebaran ini, saya meminta agar pengamanan diperkuat, ‘sweeping’ mulai besok dilakukan,” ujar Budi.

Tidak hanya hanya di bandara, melainkan juga di seluruh simpul-simpul transportasi, seperti pelabuhan, terminal dan stasiun.

Ketegangan politik seusai pemilihan merupakan hal yang pasti terjadi, meskipun diperkirakan hanya sesaat. Kondisi diyakini tidak akan mempengaruhi kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance Abra Talattov menilai bahwa pemerintah harus memperhatikan stabilitas ekonomi jangka pendek, terutama pascapengumuman hasil rekapitulasi nasional pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Apalagi, aksi demo memprotes hasil rekapitulasi KPU dinilai dapat menjadi sentimen negatif bagi perekonomian apabila aksi-aksi tersebut cenderung anarkis dan berlarut-larut. Rupiah sudah menembus di atas Rp14.500 per dolar AS, salah satunya didorong oleh sentimen ini.

Diharapkan, pemerintah melalui aparat keamanan dapat memperketat penjagaan terhadap lokasi-lokasi strategis seperti areal perkantoran, pasar, mal, bank, dan lainnya sehingga tidak kecolongan terjadi aksi perusakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab karena dampak psikologisnya ke pelaku pasar akan lebih besar.[mr/tar]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...