13 December 2019

Calon Dirut Bank BUMN Diharapkan Pro Konsolidasi

Konfrontasi - Pemerintah diminta untuk tidak asal memilih kandidat direktur utama bank BUMN, namun memiliki visi dan komitmen yang kuat terhadap konsolidasi perbankan atau pro konsolidasi.

Ekonom UI Lana Soelistyaningsih di Jakarta, Rabu menyatakan, konsolidasi perbankan amat dibutuhkan untuk menghadapi liberalisasi perbankan MEA 2020 di mana nanti bank-bank berstatus Qualified Asean Banks (QAB) akan bebas berekspansi ke berbagai negara ASEAN.

Menurut Lana, sebagai pemegang saham, pemerintah memiliki wewenang untuk mengatur aset dan pengelolaan bank-bank milik negara. Untuk itu, pemerintah harus mencari kandidat dirut bank BUMN yang mampu menjawab tantangan zaman dalam 10 tahun ke depan.

"Saya yakin pemerintah tentu akan memilih orang yang sesuai dengan visi konsolidasi perbankan," ujar Lana di Jakarta, Rabu (7/1).

Untuk menghadapi MEA 2020, lanjutnya, bank-bank BUMN harus melakukan konsolidasi dan itu dapat dimulai dari bank-bank BUMN. Tantangannya adalah bank-bank nasional menghadapi bank-bank ASEAN yang memiliki modal besar, jika tidak dapat menambah modal, satu-satunya cara adalah melalui konsolidasi.

"Dapat kita bandingkan dengan Maybank yang memiliki modal hingga 50 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp500 triliun. Bandingkan dengan Bank Mandiri yang modalnya hanya Rp100 triliun," kata Lana.

Lana menambahkan, pemerintah harus dapat menyuntik modal bank-bank BUMN untuk mengatasi persaingan dengan bank-bank asing. Namun, jika konsolidasi dilakukan, misalnya Bank Mandiri dengan Bank BNI, maka dapat menambah modal sekitar Rp200-300 triliun.

Sementara itu, Kepala Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FE-UI Telisa Aulia Falianty mengatakan, pemerintah sebaiknya tidak menerapkan sistem pilih kucing dalam karung saat mencari kandidat pengganti Dirut BNI Gatot M Suwondo dan Dirut BRI Sofyan Basir.

Selain harus mencari sosok yang ahli di bidang perbankan, pemerintah juga harus jeli mencari sosok yang tidak alergi terhadap konsolidasi perbankan.

Intinya jangan pilih sosok yang belum apa-apa sudah antipati sama konsolidasi. Harus cari yang open mind. Alasannya sederhana, karena konsolidasi perbankan itu memang perlu untuk menghadapi MEA tahun 2020 di industri keuangan. Kalau Dirutnya lebih pro tentu proses ini lebih mudah," ujar Telisa.

Menurut Telisa, Indonesia kini sudah jauh tertinggal dibanding bank-bank nasional negara lain. Singapura, Malaysia, Thailand, masing-masing sudah memiliki regional bank melalui DBS Bank, CIMB Bank, dan Siam Commercial Bank.

Sedangkan Indonesia belum memiliki satu bank kakap hasil konsolidasi, meski masuk negara dengan perekonomian 16 besar dunia.

"Jika konsolidasi perbankan sampai tidak dilakukan hingga 2020, bank-bank nasional kita akan kalah bersaing oleh serbuan bank-bank asing yang dari segi modal dan aset jauh lebih besar dan kuat," kata Telisa. (cptr)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...