22 March 2019

BI Prediksi Rupiah Membaik di Kuartal II/2019

KONFRONTASI -  Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi semakin membaik di triwulan II/2019 karena faktor fundamental ekonomi nasional yang baik dan tekanan eksternal yang berkurang.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17% di 2018 di tengah ekonomi dunia yang melesu jelas suatu yang positif.

“Begitu juga inflasi nasional juga mampu dijaga rendah, 3,13% di 2018,” ujarnya di sela-sela Kuliah Umum di FE dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang, Selasa (12/3/2019).

Kondisi makro perbankan, dia nilai, juga positif. Kredit perbankan juga mampu tumbuh positif sehingga dapat mendukung perkembangan sektor riil.

Defisit neraca perdagangan, juga mampu dikelola dengan baik. Tekanannya makin berkurang.

Hal itu terjadi karena proyek-proyek yang membutuhkan bahan baku impor, seperti proyek infrastruktur sudah banyak yang selesai sehingga tidak lagi membutuhkan impor bahan-bahan tersebut.

Selain, penggunaan bahan baku impor juga relatif bisa dikurangi dengan adanya kebijakan penggunaan barang substitusi impor.

Tekanan dari sisi eksternal, dia nilai, juga makin berkurang. Hal itu terjadi karena perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat dengan China menunjukkan tren positif, kesepakatan-kesepakatan konstruktif.

Tekanan dari penaikan dari suku bungan acuan FED, menurut Dody, juga berkurang karena lembaga tersebut sudah memberikan sinyal bahwa tidak banyak melakukan penaikan. Dengan begitu, antisipasi terhadap kebijakan FED menjadi lebih mudah untuk dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

“Karena itulah, pada triwulan II/2019 diprediksikan nilai tukar rupiah akan baik-baik saja,” ucapnya.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengaku  bersyukur karena di tengah perkembangan ekonomi global yang tidak kondusif, kinerja dan prospek ekonomi wilayah kerja Kantor Perwakilan BI Malang masih cukup baik.

Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja Bank Indonesia Malang yang tumbuh 5,57% pada 2017, lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur yang tercatat tumbuh 5,45% dan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,07%. Sementara itu, pada  2018 pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja Bank Indonesia Malang diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,5 – 5,9%.

“Struktur perekonomian daerah di wilayah Kerja KPw BI Malang terutama ditopang oleh sektor Industri pengolahan dengan pangsa sebesar 37,17%, sedangkan sektor Perdagangan memiliki share sekitar 17,92% dan sektor konstruksi sebesar 11,48%,” katanya.

Beberapa kabupaten di wilayah ini merupakan basis industri pengolahan diantaranya; Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, serta Kabupaten Probolinggo. Kabupaten Pasuruan memiliki satu kawasan industri utama di Jawa Timur yaitu  Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER), industri utama di kabupaten ini a.l industri pengolahan tembakau, industri logam, industri furniture, industri alas kaki, serta industri tekstil dan produk tekstil.

Sektor Industri Pengolahan di Kabupaten Malang terutama ditopang oleh agro-industri yang meliputi pengolahan industri hasil pertanian, perkebunan, dan peternakan.

Sementara di Kabupaten Probolinggo terdapat infrastruktur vital untuk mendukung distribusi industri pengolahan yaitu terdapat terminal pelabuhan yang mampu menjadi pendukung dari pelabuhan tanjung perak di Surabaya dan menjadi hub lalu lintas laut untuk daerah industri yang mengelilinginya.

“Saya memandang hal ini sebagai potensi yang besar dan perlu terus untuk dikembangkan, guna menopang kesinambungan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat ke depan,” katanya.

Dari sisi inflasi, ada 2 kota yang dihitung IHK-nya oleh BPS yaitu Kota Malang dan Kota Probolinggo. Sepanjang tahun 2018 inflasi Kota Malang tercatat 2,98% (yoy) dan Kota Probolinggo mengalami inflasi 2,18% (yoy), lebih rendah dari realisasi inflasi nasional yang mencapai 3,13% (Jft/Bisnis).

 

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...