23 October 2019

Berlanjutnya Tren Pelemahan IHSG dan Rupiah

KONFRONTASI- Seperti yang kami khawatirkan sebelumnya dimana lalu IHSG mengawali pekan ini dengan pelemahan. Kembalinya pelaku pasar melanjutkan aksi jualnya membuat IHSG kian terbenam di zona merah. Tidak banyak indeks sektoral yang menguat dimana hampir mayoritas mengalami pelemahan. Penguatan yang terjadi lebih banyak dialami saham-saham lapis bawah.

Sebelumnya kami sampaikan, Peluang penguatan tertutupi dengan maraknya aksi jual. Jika aksi ini terus berlanjut bukan tidak mungkin pelemahan lanjutan dapat terjadi. Akan tetapi, kami harapkan jikapun terjaid pelemahan maka tidak terlalu signifikan agar tidak membuka peluang tren pelemahan.

Pelemahan yang terjadi cukup lumayan besar sehingga dimungkinkan membuka peluang tren pelemahan. Masih berlanjutnya transaksi net sell asing yang dibarengi tidak banyaknya saham-saham big caps dalam top gainer dan berbalik melemahnya laju Rupiah jelang RDG BI memberikan sentimen negative pada IHSG. Investor asing berbalik melakukan nett sell (dari net sell Rp Rp 74,91 miliar menjadi net sell Rp 682,35 miliar).

Meski laju bursa saham Tiongkok tampaknya tidak banyak terpengaruh dengan turunnya neraca perdagangan Tiongkok secara keseluruhan namun, rilis tersebut memberikan sentimen negatif pada laju Yuan. Tidak hanya itu, tetapnya kebijakan moneter BoJ juga turut membuat laju Yen melemah. Pelemahan tersebut berimbas negatif pada laju mata uang kawasan regional sehingga berpengaruh juga pada laju Rupiah. Laju US$ tentu saja memanfaatkan pelemahan-pelemahan tersebut untuk berbalik naik. Akibatnya harapan kami akan pelemahan laju US$ pun tidak terjadi, Dengan sentimen rilis data-data AS yang kurang mendukung, diharapkan dapat memberikan ruang bagi Rupiah untuk mampu bergerak positif. Laju Rupiah berada di bawah target level support 12.925. Mulai meningkatnya laju US$ dapat memberikan peluang bagi US$ untuk kembali melanjutkan kenaikannya sehingga dapat berimbas pada kembali melemahnya laju Rupiah. Tetap cermati dan antisipasi jika terjadi pembalikan arah melemah. Rp 12.955-12.930 (kurs tengah BI).                    

Laju bursa saham Asia cenderung variatif dimana laju bursa saham Jepang cenderung melemah seiring aksi profit taking dan masih lemahnya machinery order MoM. Sementara, laju bursa saham Tiongkok masih dapat melanjutkan pergerakan positif meski rilis data ekspor, impor, dan neraca perdagangannya mengalami penurunan. Tampaknya pelaku pasar di bursa saham Tiongkok lebih memperhatikan kesempatan melakukan pembelian melalui sistem koneksi antara bursa saham Hang Seng dan Shanghai dibandingkan rilis data-data makronya. Bahkan adanya pemangkasan perkiraan pertumbuhan China oleh bank dunia juga tidak terlalu dihiraukan bursa saham Tiongkok dan sekitarnya.

Pergerakan variatif juga dialami laju pasar saham Eropa di awal pekan ini. Tampaknya rilis melemahnya data neraca pedagangan China yang diriingi pemangkasan proyeksi pertumbuhannya turut berpengaruh negatif pada bursa saham Eropa. Melemahnya current account Perancis turut menghambat potensi kenaikan meskipun laju CAC40 masih dapat berada di zona hijau.                                                    

Laju bursa saham AS diharapkan masih dapat melanjutkan pergerakan positifnya meski tipis yang kemungkinan akan terpengaruh dari rilis kurang baiknya data-data perdagangan di China. Di sisi lain, menguatnya kembali laju US$ turut berpotensi menghambat peluang kenaikan.

 

Pada perdagangan Selasa (14/4) IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5415-5426 dan resisten 5455-5490. Evening star lewati ke bawah area middle bollinger band (MBB ). MACD cenderung melemah death cross dengan histogram negatif yang lebih panjang. RSI, Stochastic, dan William’s %R cenderung bergerak turun. Laju IHSG gagal mendekati area target resisten (5500-5516) dan berakhir di bawah area target support (5468-5482). Jika aksi jual tidak terbendung maka pelemahan dapat dimungkinkan terjadi. Apalagi IHSG juga masih menyisakan utang gap lama di level 5342-5372 (17-18 Februari) dan utang gap di level 5397-5411 (27-28 Maret 2015). Meski kami berharap pelemahan dapat lebih terbatas namun, tetap cermati dan antisipasi bila terdapat potensi pelemahan lanjutan.

Pertimbangan saham-saham a.l :

GJTL 1260-1325|White marubozu bertahan di MBB. Volume beli mulai naik diikuti peningkatan stochastic|Trd buy slm bertahan di atas 1280

DILD 580-635|Black marubozu menuju MBB. %relative performance cenderung turun diiringi berbalik turunnya MFI|Trd sell jika 585 gagal bertahan

SSMS 2050-2125|White marubozu menuju upper Bollinger band (UBB ). Mass index bergerak naik diikuti peningkatan momentum|Trd buy slm bertahan di atas 2090

LPCK 11300-11650|Inverted hammer di bawah MBB. MACD cenderung turun tipis & diimbangi dengan naiknya RSI serta parabolic SAR|Trd buy slm bertahan di atas 11300

UNVR 38950-39975|Separating lines bertahan di atas MBB. Volume beli berbalik naik diikuti berbalik naiknya stochastic|Maintained buy slm bertahan di atas 39700

SCMA 3340-3425|White marubozu lewati MBB. RSI bergerak naik diikuti peningkatan william’s %R. Target support 3300 dapat bertahan|Trd buy slm bertahan di atas 3370

Data-data ekonomi di minggu ini:

Indonesia: Interest rate decision, balance of trade, exports, imports

China: New yuan loans, balance of trade, exports, imports. Fixed asset investment, GDP growth rate, industrial production, retail sales, FDI

Australia: NAB business confidence, Westpac counsumer confidence

KorSel: -

Jepang: Machinery orders, BOJ monetary policy meeting minutes, capacity utilization, industrial production

Jerman: Wholesale sales price index, inflation rate

Perancis: Current account, inflation rate

Spanyol: Consumer price, inflation rate

Inggris: PPI input, PPI Output, retail price index

Italia: Industrial production, Consumer price, inflation rate

Zona Euro: Industrial production, balance of trade ZES economic sentiment indexm, ECB interest rate decision

AS: Monthly budget statement, retail sales, PPI, business inventories, MBA mortgage applications, NY empire state manufacturing index, capacity utilization, industrial production, manufacturing production, beige book, initial jobless claims, housing starts, building permits

 

Reza Priyambada

Head of Research

NH Korindo Securities Indonesia (NHKSI)* d.h Woori Korindo Securities Indonesia (WKSI)

 

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...