14 November 2019

Awas, Investasi Bitcoin, Tak Cuma Risiko Investasi Tetapi Juga Mengandung Virus

KONFRONTASI -  Kalangan investor yang berinvestasi di cryptocurrency atau mata uang digital seperti Bitcoin, Monero, Ethereum dan Litecoin diminta harus hati-hati. Pasalnya, tak cuma berpotensi bermasalah dari sisi investasi, sebab di Indonesia belum dianggap mata uang, tapi juga uang digital ini dianggap mengandung virus malware.

Memang cryptocurrency sejauh ini di tahun 2017 mengalami kenaikan yang luar biasa. Di awal tahun nilainya setara US$ 1,000 tapi saat ini sudah senilai US$ 17,000 dalam satu kepingnya.Kalangan investor yang berinvestasi di cryptocurrency atau mata uang digital seperti Bitcoin, Monero, Ethereum dan Litecoin diminta harus hati-hati. Pasalnya, tak cuma berpotensi bermasalah dari sisi investasi, sebab di Indonesia belum dianggap mata uang, tapi juga uang digital ini dianggap mengandung virus malware.

Memang cryptocurrency sejauh ini di tahun 2017 mengalami kenaikan yang luar biasa. Di awal tahun nilainya setara US$ 1,000 tapi saat ini sudah senilai US$ 17,000 dalam satu kepingnya.

“Cirinya, ketika pengguna masuk ke suatu situs web untuk mengakses cryptocurrency itu, komputer pengguna mulai melambat dan kipas berputar dengan kencang karena temperatur naik, ini karena daya komputer dimanfaatkan untuk menambang cryptocurrency tanpa seizin pemiliknya,” ungkap CTO Sophos, Joe Levy, dalam keterangan yang diterima, Minggu (24/12).

Biasanya, program penambang yang resmi meminta persetujuan pengguna untuk dijalankan. Tapi penambang berbahaya tidak meminta izin tersebut, melainkan diam-diam bekerja di balik layar. Mereka berwujud script yang disembunyikan di situs-situs web, menambang cryptocurrency ketika pengguna membuka situs lainnya.

“Cirinya, ketika pengguna masuk ke suatu situs web untuk mengakses cryptocurrency itu, komputer pengguna mulai melambat dan kipas berputar dengan kencang karena temperatur naik, ini karena daya komputer dimanfaatkan untuk menambang cryptocurrency tanpa seizin pemiliknya,” ungkap CTO Sophos, Joe Levy, dalam keterangan yang diterima, Minggu (24/12).

Biasanya, program penambang yang resmi meminta persetujuan pengguna untuk dijalankan. Tapi penambang berbahaya tidak meminta izin tersebut, melainkan diam-diam bekerja di balik layar. Mereka berwujud script yang disembunyikan di situs-situs web, menambang cryptocurrency ketika pengguna membuka situs lainnya.“Jika sebuah perangkat lunak berjalan tanpa ijin dari penggunanya, maka ia digolongkan sebagai parasit, dan harus dikategorikan sebagai malware karena tidak ada kategori ‘parasiteware’. Jika sebuah perusahaan memang mau mendonasikan kekuatan proses CPU/GPU mereka, dan proses penambangan berjalan dengan lebih resmi dan mudah dikenali/dibedakan antara yang resmi dan yang tidak, maka kita bisa meninjau ulang lagi klasifikasinya agar lebih spesifik,” papar dia.(Jft/Aktual)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...