14 November 2019

Akuilah, Ekonomi RI Tidak Baik-baik Saja

KONFRONTASI-Perlambatan ekonomi domestik semakin nyata di depan mata. Berbagai data terbaru menggambarkan bahwa ekonomi Indonesia tidak baik-baik saja.

Teranyar, Bank Indonesia (BI) merilis data penjualan ritel periode September yang hanya tumbuh 0,7% year-on-year (YoY). Melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 1,1% dan menjadi laju terlemah sejak Juni.

Secara kuartalan, BI menyebut penjualan ritel pada kuartal III-2019 tumbuh 1,4% YoY. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mampu naik 4,2% YoY, apalagi periode yang sama tahun sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan 4,6% YoY.

Kemarin, BI sudah mengumumkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang juga menunjukkan perlambatan. IKK pada Oktober berada di 118,4, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 121,8.

IKK menggunakan angka 100 sebagai titik awal. Angka di atas 100 menandakan konsumen masih optimistis menghadapi kondisi perekonomian saat ini dan masa mendatang.

Namun IKK Indonesia menunjukkan penurunan yang konsisten dalam lima bulan terakhir. Bahkan angka Oktober merupakan yang terendah sejak Februari 2017. Artinya, tingkat optimisme konsumen kian luntur.

Dua hal ini menjadi penegas bahwa konsumsi rumah tangga domestik sedang melambat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,01% pada kuartal III-2019. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,17% dan menjadi laju terlemah sejak kuartal III-2018.

Padahal konsumsi rumah tangga adalah kontributor utama pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal III-2019, peranan konsumsi rumah tangga mencapai 56,52%. Tidak heran kala konsumsi rumah tangga melambat pertumbuhan ekonomi juga ikut lesu menjadi 'hanya' 5,02%, terendah sejak kuartal II-2017.

Masih Kecanduan Komoditas

Inilah akibatnya kalau perekonomian masih bergantung kepada komoditas. Berdasarkan data BPS, ekspor Indonesia didominasi oleh lemak dan minyak hewan/nabati (terutama minyak sawit mentah/CPO) dan bahan bakar mineral (utamanya batu bara).

Sepanjang 2019 harga batu bara acuan di pasar ICE Newcastle (Australia) anjlok 32,94%. Akibatnya, laba perusahaan batu bara turun parah. Selama Januari-September 2019, laba PT Bayan Resources Tbk (BYAN) ambrol 45,99% sementara PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) malah berbalik dari untung menjadi buntung.

Begitu korporasi minim laba, maka dampaknya tentu dirasakan oleh para karyawannya. Konsumsi rumah tangga pun terpukul.

Oleh karena itu, jangan pernah bosan untuk mengingatkan para pembuat kebijakan agar membangun industri pengolahan/manufaktur. Sumber daya alam Ibu Pertiwi yang begitu melimpah jangan dijual begitu saja. Jadikan sebagai bahan baku untuk industri manufaktur.

Dengan begitu, Indonesia akan menikmati nilai tambah dari sumber daya alam. Lapangan kerja pun terbuka luas, sehingga pada akhirnya mampu mendongkrak konsumsi rumah tangga.

Masalahnya, deindustrialisasi di Indonesia sudah sulit untuk disangkal. Sudah cukup lama pertumbuhan industri manufaktur berada di bawah pertumbuhan ekonomi umum.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...