6 December 2019

"Yerusalem" - Puisi Herdi Sahrasad

 

kita tertidur di halaman Musa yang kelam
kata-kata menjadi garam
gerimis berkeluh
dari gapura senja yang runtuh

sinagoga, masjid, dan gereja yang mengejar
suaramu hingga pegunungan yang jauh
tapi ledakan bom dan pembantaian di Hebron
memuntahkan kembali pemberontakan, gemuruh
airmata pecah, berpisah
seperti daun-daun zaitun jatuh ke tanah

pedih dari pohon-pohon menghitam
lebih legam dari lorong-lorong pelacur
yang melulur dan muram

di tembok ratapan: lelaki arab, yahudi
dan babilon lewat
saling mengutuk dan mendendam
seperti angin dan gerimis baku hantam
matahari parau mengigau, desa-desa huru-hara
mahoni menjadi lebih pahit dan bertuba

di tangan anak anak
ketapel, tali, dan bayang-bayang
menggetarkan intifada panjang
perang baru masih berkobar
masa lalumu terbakar
daun-daun palem mengekalkan darah,
perlawanan budak-budak yang kalah

kubawa luka masa kanakmu
yang koyak moyak
airmatamu menetes dari dinding-dinding retak

berulangkali kubangun tiang sembahyang, kalam, dan menara
dari ayat-ayat yang dikekalkan
dan berulangkali kusaksikan kata-kata berdarah
justru dirayakan

jiwaku yang gamang akhirnya penuh hujan
dan haribaanmu yang beku
ditinggalkan bulan, kejatuhan merjan
dari hari ke hari
ruhmu yang rapuh
mengembara ke lorong mati
luka yang dulu hanya nyeri,
telah meremuk seluruh hati

dan tanganku pun seperti pelepah
yang kau lumuri ludah:
kuku mengerat tanah
hari memuntah darah

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...