19 June 2019

Tiga Sajak Tentang Kata : Ribut Achwandi

DIORAMA ABAD KATA

kata terupa telanjang

nalar pikiran terlalu tajam

merobek lapis-lapis keteduhan

putuslah kata dari ikatan

dalam rajutan keindahan

tercerabutlah akar kebijaksanaan

menjadilah kini kata kerikil-kerikil tajam

membara nyalakan api permusuhan

 

inilah abad para pencipta berhala kata

dituhankannya kata sebagai kenyataan

didewakannya kata sebagai kebenaran

dimuliakannya kata sebagai kekuatan

 

oh abad kata-kata

Tuhan tergadai oleh selembar hasutan

kebenaran ditukarkan dengan rayuan

dan kenyataan dilempar opini tanpa dasar

hilanglah akar ilmu pengetahuan

kebijaksanaan

 

kata menjalang merupa lolongan serigala

siap menerkam mangsa

tanpa kenal kawan pun lawan

rumusan pertanyaan hanya berkutat

pada siapa beda itulah lawan

siapa sama itulah kawan

hilanglah akal kewarasan

dunia kata menjadilah belantara rimba

menghadirkan auman dan ketakutan

kata kehilangan keramahan

bahkan sekadar menyapa

pun tiada lagi tempat

sebab kata digenggam bagai batu

siap dilemparhantamkan pada lawan

 

oh abad kata-kata

di mana harus kami cuci kata-kata

lumuran darah terus menebal lekat pada kata

mungkin di sungai-sungai surga kata kembali bersih

tanpa dipenjara amarah dan dendam

atau di tungku-tungku neraka kata kembali murni

tanpa diikat prasangka-prasangka

tersembunyi di balik akal nalar

dibungkus retorika kepura-puraan nurani

 

kepada-Mu,

semua kata kembali

 

Pekalongan, 24 Mei 2015

 

KATA TANPA KEBIJAKSANAAN

tak aku pahami kata-kata

terangkai dalam bingkai opini

melayang-layang jauh dari dasar

pun tiada terikat tali

seketika menjadilah bola api

membakari gubuk-gubuk hati

kata-kata menjadilah muram

bukankah kata mestinya tunduk

pada kebijaksanaan-kebijaksanaan

tetapi, mengapa kini kata-kata

bebas berkeliaran tanpa keindahan

membuta mata batin

mengoyak-moyak hati

merobek nurani

kata-kata menanam luka

dan kebencian

hanya karena perbedaan

yang dipersalahkan

para pemabuk kata-kata

 

Pekalongan, 23 Mei 2015

 

TIRAH

dikuncinya pintu-pintu

menahan amarah merah padam

dikuncinya jendela-jendela

meredam dendam kusut membiru

ditahtakannya rembulan

meneduh dibasuh bening embun

perlahan tiba di ujung hijau daun

disimpannya mimpi dalam bayangan

menenggelamkan pucuk-pucuk cemara

dilelapkannya mata telinga

menjaga nalar akal

menjaga hati rasa

dipelihara kata

agar tak sia-sia

 

Pekalongan, 22 Mei 2015

_____________________________________________________________

Ribut Achwandi, Dosen Universitas Pekalongan (UNIKAL), dan Aktif Berkesenian di Daerahnya. (K)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...