18 July 2019

Terkutuklah Kalian, Bandit Bandit Zaman Peralihan

 

 

Juftazani

 

 

 

 

Mulai detik melangkah 20 Oktober 2014 pagi

Tangan-tangan berkuku besi mencengkeram negeri ini

Dengan senyum khas, cengengesan yang kini terasa berwibawa

Di belakangnya berbaris seribu bandit

Di depan rakyat yang serius – ingin bersetia agar negeri indah gemah ripah

Dibawa ke dalam panorama kejayaan

Saat itu kau berpidato tentang apa saja, tol  laut, tol langit, infrastruktur, ah

Entah apalagi aku sudah lupa semua

Rakyat tak tahu, kini masuk ke dalam sebuah kotak “Pandora”

240 juta rakyat yang sangat berharap, terjerat dalam lobang penuh ular, kalajengking

Dan buaya yang akan menguras seluruh isi perut mereka

 

 

Lama aku termenung

Usai beberapa minggu setelah pelantikan itu

Dunia memuji-muji gaya  kepemimpinanmu unik

Sebuah media internasional menulis besar-besar sebuah tajuk berita

Yang menggemparkan "A New Hope

Ke sanalah harapan itu dilemparkan

Untuk sebuah dunia besar di Asia Tenggara

Tapi…,

Tapi tuan-tuan dunia pemodal dan pelapak kelas raksasa dari Amerika dan Cina

Telah mengembangkan karpetnya di istana negara

Mengkapling-kapling gubuk reyotku jadi milik para taipan dan konglomerat

Dan terasa rakyat mulai megap-megap

Hidup susah tak berkesudahan

Negara mulai berhutang dalam jumlah yang mencengangkan

Kelaparan di Papua seakan menghabiskan satu suku terbelakang tinggal nama

Di atas papan nisan

                                                  

 

 

Setahun, dua tahun, tiga tahun dan sampai pemilu di depan mata

Anak-anak bangsa yang kian ringkih semakin nyata

Mati oleh narkoba, tewas oleh minuman keras

Dan para pejabat sibuk dengan korupsi, tertangkap tangan KPK

Presiden sama sekali melupakan janji-janji

Rakyat terperangah tak habis mengerti

 

 

 

Tibalah kini seseorang berpidato

Seperti Rendra yang membaca puisi dengan gaya salto

Wahai, negeri yang dirampas oleh seribu bandit

Terkutuklah kalian menjelang zaman peralihan

Kami akan kurung kalian dengan revolusi dan pemberontakan

“Siap !, kami anak-anak muda yang mulai garang melihat hampir 600 petugas KPPS

Mati jangkang habis mengurus Pilpres 2019

Dan anak-anak muda yang terus menggelepar disuntik kokain

Lihatlah, bangsa ini mati hanya karena dicekoki kopi beracun dan kecanduan narkoba

Siapa yang telah membuat negeri dan hati rakyat terpecah-pecah

Retak seperti padang tandus yang terbongkah, terbelah oleh panas kemarau panjang?

Para bandit tak henti menguras seluruh isi bumi negeri yang dikenal kaya dengan hasil alam ini

Kini dirampok para bandit yang bersenjata racun, pisau lipat, kekerasan di jalan tol

Dan fitnah yang dihunjamkan kepada ulama dan para tokoh panutan rakyat

Negeri ini kering kerontang, rakyat makin kelaparan

Dan bandit-bandit terus makan dengan lahap dan kenyang

Tanpa peduli rakyat mati kelaparan, putus sekolah,  rumah dan sawah tergadaikan

Hanya untuk mempertahankan hidup

Selama Presiden pro rakyat mengabaikan semua janji-janjinya

Selamat jalan Presiden Jokowi, kabinet dan seluruh para bandit yang menyertainya !

22 Mei 2019, kami akan menyaksikan presiden baru harapan generasi masa depan

Dengan penuh tanggungjawab yang sangat erat digenggam

Kami rindukan pemenang Pemilu Presiden 2019, Prabowo SUbianto dan Sandiaga Uno

Melangkahkan kakinya ke istana Negara

Karena telah menang mutlak di setiap sudut negeri

dan berhak dan sah memimpin atas negara yang telah centang perenang diacak-acak

bandit-bandit serakah dari dalam dan luar negeri."

 

 

 

 

Indonesia, detik-detik akhir 13 Mei 2019  

                                                                             

 

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...