17 October 2019

Terimakasih ya Allah, Telah Menunjukkan Jalanku ke IPB

Oleh Hartadi

 

Menjelang lulus SMA di Cilacap, hanya ada 2 PTN yg menjadi cita citaku. ITB Bandung dan IPB Bogor. Ternyata, Allah memilihkan IPB sebagai tempat belajarku. Tidak banyak orang yang membimbingku, kenapa pilihan ke PTN di kota hujan ini. Saya hanya mengikuti nasehat ibuku saja. ” Bersyukur saja kamu sdh di terima di IPB Bogor. Berangkat dan belajarlah dg baik “, pesan ibuku saat itu.

 

Kondisi keluarga besarku saat itu, mungkin tepat di sebut dengan keluarga Islam abangan. Mengaku beragama Islam di Jawa , tapi tidak patuh dan tidak tahu pada ajaran-ajarannya. Saat itu, ibuku juga blm bisa sholat. Bapakku masih teguh jalankan tradisi bakar-bakar kemenyan, rawat pusaka dll. Saudara-saudara2u, ya sama, sedikit sekali pemahamannya tentang Islam. Termasuk diriku. Sangat minim tahu tentang ajaran Islam. Apalagi mempraktekannya.

Masuk ke IPB Bogor, tahun 1988. Kampusku ini yang membuka kesadaranku, akan makna hidup sebagai seorang muslim. Bagaimana semestinya seorang muslim bersikap , berbuat dan berfikir. Sederet dosen2 agama saat itu, mampu membuka alam sadarku. Ada Pak Didin Hafidudin, Pak AM Saefudin, Hasan Rifai, E Samsudin dan dosen lainnya. Di situ saya mulai belajar banyak tentang ajaran Islam. Apakah proses ini yang saat ini dinamakan radikalisme di IPB?

Berbekal dengan pembelajaran agama di IPB, mulai berubahlah pola fikir dan pola hidupku. Prinsip2 hidup seorang muslim mulai ku temukan. Setiap pulang liburan, kuajari ibuku ibadah shalat yg benar. Bacaan sholat yg hrs di hafal dan maknanya Menjelaskan hal-hal yang tidak boleh, dan mana yang boleh. Awalnya, ibuku masih suka konsumsi gorengan darah ayam yg haram. Juga sering membeli judi nomer buntut di kampung. Membuat berbagai macam sesaji di kamar. Pelan dan pasti ibuku mulai mau mendengarkan dan mengikuti perkataan putranya.

Bapakku selalu memperhatikan apa yang kulakukan pada ibu. Ibuku terlihat sekali perubahannya, mulai menjadi muslimah yang taat. Mulai mau menutup auratnya, dan taat jalankan ibadah yang kuajarkan. Demikian juga, saudara-saudaraku sangat senang bila saya pulang liburan semesteran di IPB. Mengajarkan mereka banyak hal tentang ajaran Islam, yang kudapatkan dari IPB.

Suatu saat Bapakku tetap bertahan akan tradisinya bakar kemenyaan setiap malam Jumat. Bapak punya banyak pusaka, keris jawa yang sangat di keramatkan di kamarnya. Pelan-pelan Bapak kuajak bicara, tentang prinsip ketuhanan menurut Islam. Tentang cerita Nabi Ibrahim AS menemukan Tuhannya. Dan banyak kisah nabi yang saya dapat dari materi kuliah di IPB. Mencoba dialog dengan Bapak hal kebiasaan ritualnya pada benda-benda pusakanya. Pada masalah prinsip tentang keyakinan seorang muslim.

Awalnya Bapakku menolak keras ajakanku agar tinggalkan semua yang berbau syirik atau menyekutukan Allah SWT. Tapi pelan-pelan Bapak mau mendengarkan perkataanku. Sampai pada suatu saat, aku pulang ke Cilacap, Bapak memelukku. Mengabarkan bahwa bapak sudah membuang semua pusaka yang selama ini disimpannya di kamar. Bapak mulai bertanya banyak hal tentang Islam kepadaku. Membuka diri untuk mau belajar Islam dengan baik.

Untuk terus menambah pemahaman Islam Bapakku, sering saya belikan buku keislaman dari Bogor. Jadilah Bapak menjadi muslim yang cukup taat. Ibadahnya sangat rajin. Mengurusi masyarakat di kampungku dengan semangat, sebagai sarana ibadah seorang Muslim. Membantu banyak orang yang susah. Tidak ada lagi ritual bakar kemenyan di rumah. Bapak mulai paham tentang aqidah Islam yang pernah saya sampaikan.

Demikian juga dengan keluarga besarku. Pelan-pelan mereka mau belajar Islam, dan mau mengamalkannya. Bukan lagi menjadi Islam abangan seperti dulu. Muslim yang buta akan hukum kehidupan. Tidak paham akan syariatnya. Tidak tahu hukum halal dan haram. Semua menjadi berubah ketika IPB membekaliku dengan kuliah agama Islam. Perubahan keluarga besarku ke arah kebaikan sampai sekarang. Seorang kakakku, Jendral TNI juga berubah menjadi baik.
Apakah perubahan yang kami alami ini tetap dituduh sebagai bagian dari radikalisme yang dilakukan oleh IPB?

Terimakasih IPB, alhamdulillah kami keluarga besar di Cilacap bisa berubah. Berusaha menjadi Muslim yang baik. Menjadi warga negara yang baik. Tahu akan hukum-hukum kehidupan ini . Membuka kesadaran hak dan kewajiban sbg warga negara dan sbg muslim. Berkat materi kuliah agama Islam di IPB Bogor. Tanpa belajar di IPB, entahlah nasibku dan keluarga besarku.

Terimakasih ya Allah.

 

Hartadi, merupakan salah satu dari ratusan ribu alumnus IPB, Bogor.(jft/Gontornews.com)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...