24 August 2019

Terbang ke Moskwa, Singgah di Dubai: Catatan Perjalanan ke Rusia (bagian 7)

 

TIBA DI DUBAI.

            Pesawat yang membawa kami sebentar lagi akan mendarat di Dubai, jam tangan SWATCH Mahalku pemberian abang ipar menunjukan pukul 7.45 pagi. Pramugari pun memberitaukan bahawa dalam waktu 15 menit pesawat ini akan mendarat di bandara internasional Dubai. Saya bersiap dan semua penumpang pun mengikuti. Lampu tanda mengenakan sabuk pengaman menyalah. Saya melihat keluar jendela, diluar sana terlihat daratan berwarna coklat, dengan matahari yang masih malu-malu menampakan sinarnya, darata itu sunggu seperti dalam film horor, mengerikan. Tapi menariknya terlihat bangunan dan jalan sangat rapih tertata tidak seperti kota Jakarta. Dubai emiret adalah kota yang sangat modern saat ini, yang saya ketahui dari internet kota itu di pimpin oleh seorangn muslin yang bernama Mohammed bin Rahsid Al Maktoum. Negara yang pendapatanya dari pembangunan real estat dan pelayanan keuangan dan yang menjadi pusat ekonomi islam dunia ini benar-benar sudah menarik mata dunia. Gedung-gedung modern yang inovativ, Hotel-hotel megah, tempat wisata dan ajang olahraga seperti Moto GP menjadikan dubai adalah negara salah satu tujuan orang-orang kaya mengahmburkan uang mereka disini. Tetap dalam hati saya Jakarta adalah kota terindah tak tergantikan oleh kota manapun, walaupun dengan kondisi yang memprihatinkan tetap jakarta number on for me.

            Sampai juga di Dubai, tuturku. Turun dari pesawat untuk beristirahat selama 2 jam. Saya berjalan menuju ruang tunggu untuk penumpang transite. saya dan pandawa 5 duduk dikursi yang sudah disediakan rapih berjajar. Ramai sekali bandara ini pikirku, saya lihat dari wajah mereka bermacam-macam rupanya. ada sipit, belo, hitam, putih, coklat, berjengot, baju seksi, bercadar, banyak sekali. Bingung bercampur penasaran. Sekali lagi saya tidak perdulikan. Yang ada dalam pikiran ku saat itu saya rindu istriku. Sedang apa dia skrng. Lalu saya coba nyalahkan hp mahalku ini, ternyata kartu perdana Indonesia masih bisa digunakan namun untuk internet tidak, rugi saya udah membeli paket internet sewaktu di jakarta. Memang negara ini sangat kaya dan modern. Setiap sudut bandara ini dilengkapi dengan fasilitas free wifi dan bandara ini sangat memanjakan para pendatang dengan suasanya yang nyaman bagi para Turis atau penumpang yang hanya transit sepert saya. Saya aktifkan wifi HP, clik seketika banyak masuk massage dari wasap. Saya baca satu-satu, kebanyakan dari istriku, dia dilanda rindu padaku. lalu saya hubungi istriku, saya beritau kondisi sangat baik sekali. Senang dia.

            Sifat udikku pun muncul, tapi saya tetap keren. Saya liat kesana kemari, keatas ke bawah, kesamping kiri dan ke kanan, semua sudut saya jelajahi dengan kedua mata ini. Hal itu sama dilakukan oleh teman pandawa. Wajar saja ini baru pertama kalinya kami jalan jauh dari rumah. Sejauh-jauhnya paling  masih di Indonesia, tapi kini saya jauh dari rumah bahkan sampai Dubai. Tertawa saya memikirkanny, saya bercakap-cakap dengan teman pandawa, entah apa yang kami bicarakan yang jelas semua senang. Tak lupa saya mengambil pose di semua sudut bandara, tak ketinggal di toilet pun kamu berfoto, yang terpenting tertulis indah dengan  Arab. Udik memang, tapi tetap keren. Sudahlah, saya menunggu duduk dengan tenang sampai waktu menunjukan pukul 10.

 
pengumuman pesawat yang akan membawa ku ke Rusia sudah siap, jadi para penumpang dipersilahkan untuk menaiki pesawat. Saya kemas barang-barang ku, sebelum berangkat tak lupa kami berfoto kembali. Oiya sebelum kami berfoto kami berkenalan dengan wanita kisaran 26 tahunan. Saya lupa namanya, dia adalah mahasiswa indonesia yang sedang studi di Prancis, dia juga sedang transite di Dubai. Lalu kami berfoto bersama untuk kenang-kenangan.

            Sampai aku dipesawat, saya duduk di samping bapak-bapak sudah sedikit tua, dan songong pula. Bapak itu orang Rusia, tapi dia hebat sekali bahasa Ingrisnya, kalah saya. Saya bercakap-cakap dengan dia. Niatku ingin sombong dengan menggunakan bahasa Rusia yang sebenarnya itu hanya akan menjadi bumberang bagiku. Ternyata benar saja, bapak itu menyuruhku menggunakan bahasa Rusia, akupun palingkan wajah dan belaga tidur.
 

            Pesawatku sebentar lagi akan lepas landas, para penumpang dipersilahkan menggunakan sabuk “pengaman perintah pramugari”. Waktu perjalanan memakan waktu selama 5 jam, jadi diperkirakan saya akan tiba di Rusia sekitar pukul 2 siang. Sisa ngantukku semalam masih melanda, akupun coba untuk tidur dan benar saja aku tidur pulas. (bersambung)

Nurbayu Nandes Manan, menulis dari Moskwa

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...