25 November 2017

Tarian Asli Indonesia yang Melibatkan Aksi Kesurupan

Konfrontasi - Indonesia merupakan negara dengan kaya akan suku dan kebudayaannya. Dengan keragaman seni tradisional yang unik dan menarik, negeri zamrud khatulistiwa ini kerap menjadi destinasi utama para wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Kesenian yang ada di Tanah Air itu bahkan sudah ada sejak puluhan hingga ratusan tahun silam, dan masih eksis hingga sekarang. Namun, ada beberapa kesenian yang atraksinya berbau mistis serta melibatkan aksi kesurupan.

Berikut ini beberapa kesenian yang atraksinya dibumbui oleh aksi kesurupan, seperti disitat dari boombastis.com :

1. Kuda Lumping

Siapa yang tidak mengenal tari kuda lumping. Tarian ini adalah kesenian tradisional yang banyak ditemukan di Pulau Jawa. Seni tari ini menampilkan tentang sekelompok prajurit yang tengah menunggang kuda. Tarian ini juga dibumbui atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis lainnya.

kesenian tari kuda lumping (Foto: Dok. Okezone)

Pada salah satu permainan kuda lumping, tidak jarang para penari dan bahkan penonton ikut kerasukan roh halus alias kesurupan. Mereka yang kesurupan biasanya akan ikut menari dengan enerjik dalam keadaan tanpa sadar.

2. Tari Seblang

Seblang ialah salah satu tradisi unik masyarakat Banyuwangi. Ritual ini bisa ditemui di Desa Bakungan dan Olehsari, Kecamatan Glagah.

Ritual tersebut dilakukan saat melakukan kegiatan bersih desa dan tolak bala. Tujuannya, agar desa tetap aman dan tentram. Biasanya, tari seblang dilaksanakan sepekan setelah perayaan Idul Fitri di Desa Olihsari, sedangkan di Bakungan dilaksanakan sepekan setelah Idul Adha.

Tari Seblang dilakukan oleh seorang gadis yang belum akil baligh di Desa Olehsari. Sedangkan di Desa Bakungan dipilih wanita yang sudah menopause untuk melakukan tarian itu. Adapun pemilihan penari ditentukan secara supranatural oleh tetua adat setempat yang masih memiliki hubungan darah dengan leluhur seblang terdahulu.

Tarian ini juga melibatkan kegiatan mistis karena si penari akan dirasuki roh halus agar bisa menari. Seorang pawang akan mengasapi penari seblang dengan asap dupa sambil mengucapkan mantera tertentu. Pembacaan mantera bertujuan agar roh leluhur masuk ke dalam tubuh si penari, sehingga dapat menari dengan mata terpejam mengikuti arahan si pawang dan irama gendhing.

3. Sintren

Kesenian Sintren adalah seni tari tradisional dari Cirebon, pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Timur. Kesenian ini kental dengan aroma mistis dan magis. Dalam kesenian ini, penari haruslah seorang gadis yang masih perawan.

Sebelum tarian dimulai, sang pawang akan memegang tangan calon penari dan meletakkannya di atas asap kemenyan sambil mengucap mantera. Selanjutnya, tangan penari akan diikat dan ia dimasukkan ke dalam sangkar ayam bersama dengan busana sintren dengan perlengkapan merias wajah.

Selang tak berapa lama, kurungan akan dibuka dan penari sudah lengkap berdandan dalam keadaan terikat tali. Sintren kemudian ditutup kembali dengan sangkar, dan jika sangkar tersebut bergetar, itu artinya sintren sudah memakai pakaian tarian lengkap dan ia siap menari.

Dalam keadaan tidak sadar atau kesurupan oleh roh Dewi Lanjar, sintren akan menari mengikuti iringan musik. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian dengan gerakan lebih lincah.

4. Bantengan

Bantengan merupakan salah satu kesenian di Jawa Timur yang melibatkan aksi kesurupan. Tari bantengan dimainkan oleh dua orang, satu sebagai kaki depan dan memegang kepala banteng, satu lagi sebagai kaki belakang dan ekor banteng, mirip kesenian asal Tiongkok, barongsai.

Permaianan akan semakin menarik saat pemegang kepala banteng mulai kerasukan arwah leluhur banteng.

Seorang pawang akan membantu si penari kesurupan sehingga tariannya akan semakin menjadi. Kesan mistis semakin kental dengan menyengatnya aroma kemenyan, lecutan cambuk, dan suara musik khas kesenian tradisional ini.

5. Kebo-keboan

Kebo-keboan adalah kesenian khas masyarakat Banyuwangi. Tarian ini sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen serta merupakan upacara bersih desa agar warga diberi keselamatan. Ritual ini dilaksanakan setiap setahun sekali pada bulan Muharram atau Suro pada penanggalan Jawa.

Pada ritual ini, pelaku yang bertubuh besar berdandan seperti kerbau lengkap dengan tanduk buatan, lonceng di leher, serta melumuri tubuh dengan cairan berwarna hitam. Mereka akan menarik bajak keliling desa dengan diiringi musik khas.

Dalam ritual ini, pemain akan kesurupan roh leluhur dan perangainya berubah mirip kerbau. Sesekali mereka bahkan akan mengamuk dan menyeruduk penonton sehingga perlu dikendalikan oleh petani.

Usai berkeliling desa, para pelaku ritual ini akan menuju pematang lalu membajak sawah layaknya kerbau sungguhan. (oke/mg)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...