17 September 2019

Syekh Samman Ahmad Hasanain Paparkan Perkembangan Kesusastraan Arab Dalam Gelaran LILFEST 2019

KONFRONTASI-Syekh Samman Ahmad Hasanain, yang merupakan utusan dari Universitas Al-Azhar Kairo untuk Indonesia memaparkan perkembangan sastra Arab pada gelaran La Tansa International Literary Festival (LILFEST) 2019 di Pondok Pesantren La Tansa, Lebak, Banten, Jumat (6/9/2019) lalu.

Dalam paparannya, ia membagi periode sastra Arab secara garis besar ke dalam tiga periode, yaitu periode Jahiliyyah (pra-Islam), periode Islam, dan era modern saat ini.

Dalam sejarah kesusastraan Arab tercatat bahwa yang di maksud era jahiliyah adalah sejak satu abad menjelang kedatangan Islam hingga tahun pertama hijriyah. Penetapan ini di setujui oleh mayoritas sejarawan sastra atau penulis buku Sejarah Sastra Arab. Hanna Al fakhuri, seorang sastrawati sekaligus kritikus sastra Libanon, menambahkan bahwa Sastra Arab Jahiliyah muncul pada abad ke-5 M dan mencapai puncaknya pada paruh awal abad ke-6 M.

Pada periode Jahiliyyah, menurut Syekh Samman, perkembangan sastra di Jazirah Arab didominasi oleh penulisan syair-syair karena memang lisan orang-orang Arab kala itu dikenal fasih dalam mengumandangkan syair-syair.

Salah satu ciri khas dari periode ini adalah penggunaan bahasa yang cukup sulit dimengerti oleh masyarakat awam sehingga diperlukan kamus untuk dapat menafsirkan syair-syair yang berkembang kala itu.

Syair-syair yang berkembang dalam periode Jahiliyyah ini di antaranya meliputi: Ghazal (syair tentang percintaan), Fahr (syair yang berisi pujian untuk suatu kaum), Madah (syair pujian untuk seseorang), Rotsa (syair untuk mengenang jasa orang yang telah wafat), Hijaa’ (syair untuk menghinakan musuh), I’tizar (Syair permohonan maaf) dan Wasf (syair yang menceritakan suatu kejadian.

Di antara tokoh-tokoh kesusastraan Arab yang dikenal di era Jahiliyyah menurut Syekh Samman antara lain: Amr Qais, Thorfah bin Abd, Amr bin Kalsum, Zuhair bin Abi Salmi, Harits bin Halzah, dan Lubaid bin Robiah.

Ketika Islam mulai tersebar di Jazirah Arab, kesusastraan pun mulai berubah, tak hanya keindahan bahasa yang diangkat, tapi nilai-nilai keislaman mulai ditanamkan. Dakwah menuju perilaku yang mulia (akhlakul karimah) mulai menghiasi karya-karya sastra pada periode ini.

Syekh Saman membagi kesusasteraan Arab pada era ini ke dalam tiga fase: Pertama, fase awal penyebaran Islam; Kedua, kesusasteraan era Umayyah, dan; Ketiga, era Abbasiyah. Kesusasteraan dalam ketiga fase tersebut memiliki ciri khas masing-masing dan memunculkan para tokoh di era tersebut, yang tentunya membutuhkan kajian akademik tersendiri untuk membahasnya.

Adapun perkembangan kesusateraan Arab era modern, menurut Syekh Samman, dimulai pada abad ke-19 Masehi. Pada periode ini mulai diterjemahkan karya-karya sastra Eropa ke dalam bahasa Arab, berbeda dengan periode sebelumnya dimana orang-orang Eropa yang justeru menerjemahkan karya-karya sastra Arab ke dalam bahasa mereka.

Di antara tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam kesusasteraan Arab modern antara lain: Hafidh Ibrahim, Ahmad Syauqi, Ibrahim Thuqani, Jabran Khilil Jibran, Nazar Qubbani, Mikhail Na’imah, Najib Mahfudh, dan banyak lagi yang lainnya.

Diberitakan, LILFEST 2019 yang digelar selama tiga hari (6-8 September 2019) di Ponpes La Tansa menghadirkan para budayawan, sastrawan dan akademisi dari berbagai negara yang memaparkan tentang kesusasteraan dan keislaman dalam perspektifnya masing-masing.[mr/k]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 16 Sep 2019 - 20:09
Senin, 16 Sep 2019 - 20:05
Senin, 16 Sep 2019 - 19:59
Senin, 16 Sep 2019 - 19:57
Senin, 16 Sep 2019 - 19:53
Senin, 16 Sep 2019 - 19:46
Senin, 16 Sep 2019 - 19:44
Senin, 16 Sep 2019 - 19:41
Senin, 16 Sep 2019 - 19:39
Senin, 16 Sep 2019 - 19:37
Senin, 16 Sep 2019 - 19:35
Senin, 16 Sep 2019 - 19:32