27 January 2020

Seniman Luar Kota Ramaikan Agenda Budaya Magelang

Konfrontasi - Para seniman dari luar Kota Magelang, Jawa Tengah, dilibatkan untuk meramaikan berbagai agenda pergelaran seni budaya yang diselenggarakan di daerah setempat, kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Pemkot Magelang Susilo Handoyo.

"Kami kerja sama dengan kesenian dan seniman dari luar kota, dari Kabupaten Magelang, untuk pentas di Kota Magelang," katanya dalam Diskusi dan Refleksi Problematika Seni Budaya Kota Magelang 2015 di Magelang, Senin (30/11) malam.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Komunitas Pinggir Kali Kota Magelang, antara lain dihadiri Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang Susilo Anggoro, budayawan Sutanto Mendut dan Alit Maryono, pekerja seni Mbilung Sarawita, dan pelukis Borobudur Dedy Paw.

Ia mengemukakan tentang manfaat keterlibatan seniman tidak hanya dari kota setempat, dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan seni budaya di daerah dengan tiga kecamatan dan 17 kelurahan itu.

Ia mengaku juga terlibat dalam kegiatan seni budaya di luar kota setempat, seperti halnya saat ikut menabuh gamelan pada pentas wayang kulit dalam rangkaian Festival Lima Gunung 2015 di kawasan Gunung Andong, Kabupaten Magelang.

"Kita tidak mengotak-kotakan antara kota dan kabupaten (Magelang, red.)," ujar Handoyo yang juga dalang itu.

Ketua Dewan Kesenian Kota Magelang Susilo Anggoro pada kesempatan itu, menjelaskan tentang peranan dewan tersebut yang membantu pemerintah kota setempat terkait dengan upaya-upaya pengembangan seni budaya.

"Masyarakat seni budaya sepakat tidak ada batasan antara kota dan kabupaten dalam kegiatan seni budaya. Kami juga setuju kegiatan seni budaya tidak harus formal tetapi juga informal," katanya.

Budayawan Sutanto Mendut mengemukakan pentingnya para seniman bergaul secara luas dengan berbagai kalangan dan mengembangkan wawasan untuk pembentukan diri serta memperkuat aktivitas seni budaya.

"Menurut saya, kalau bersatu, itu hal yang baik, tidak peduli kota dan kabupaten," ujar pengajar Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu.

Ia menyebut sebagai "omong kosong" figur seniman terbentuk secara mantap tanpa melalui suatu proses yang panjang, termasuk dalam membangun pergaulan dengan berbagai kalangan masyarakat.

Diskusi dan refleksi seni budaya tersebut juga dimeriahkan dengan sejumlah pementasan kesenian. (rol/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...