21 September 2019

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (62


Episode 45


Melawan Belanda Hitam


Bagian Kedua

 45


“Aku sudah meyakini bahwa perempuan itu sungguh bejat,dan tak mungkin menjalin sebuah cinta yang suci dengan perempuan bejat seperti itu” Sebut Flavianus Dando dengan kemarahan yang tak terbendung. Lelaki Flores yang menjadi Belanda hitam itu naik pitam ketika mengetahui istrinya Paula Ngada ketahuan bermain gila dengan seorang Letnan kulit putih. Menghadapi masalah berat seperti ini,  Flavianus tak mampu menembak bosnya yang kebetulan dari Groningen , Belanda itu. Tapi kalau istrinya selingkuh dengan Belanda hitam, pastilah pistolnya meledak dan saling bunuh terjadi dengan sengit. Begitulah jika terjadi perseteruan dengan atasan, apalagi atasannya melakukan hal yang teramat keji dengan istri bawahanya dalam jajaran militer kaphe-kaphe Belanda. Seorang bawahan cenderung pusing sendiri  marah-marah tak menentu, baik sendiri maupun didepan istrinya.Tapi sejak Paula selingkuh dengan Letnan Devoss van Groningen, ia tak mampu  keluar dari pelukan lelaki selingkuhannya itu. Akhirnya Paula Ngada tetap dalam pelukan Letnan Devos, dan suami resminya hanya tinggal nama sebagai suami. Kekuasaan dan hak memilikinya sudah hancur-lebur digasak sang  arjuna Letnan Devoss van Groningen itu.

Letnan Devos dengan seluruh anak buahnya, termasuk Flavianus  yang istrinya diselingkuhi dan direbut dari  status resmi sebagai istri anak buahnya, resmi berpakaian warna hijau kelabu.Kerah bajunya ada lambang jari berdarah. Pasukan ini disebut-sebut sebagai pasukan yang menyeramkan dengan julukan ‘pembunuh berdarah dingin’. Tapi para mujahidin Aceh sering menemui darahnya hangat dan berwarna hitam agak kotor -  sebagai lambang Belanda Hitam yang tak lepas dari apa yang mereka peroleh untuk makan dan minumnya dari hasil kerja haram dan kotor.Ya menjadi Belanda hitam itu, menurut pandangan mujahidin-mujahidin Aceh adalah pekerjaan kotor yang hina dan keji. Tapi anehnya Belanda-belanda Hitam itu menikmati  status mereka yang hina di bawah telapak kaki sepatu lars tentara kaphe-kaphe Belanda.  Ya, menjadi  serdadu kaphe-kaphe Belanda adalah bagian dari perampokan terhadap bangsa-bangsa lemah, dan itu sangat dinikmati oleh Belanda-belanda hitam yang dungu dan mau menjadi komprador - pengantara bangsa pribumi yg dipakai oleh perusahaan atau perwakilan kephe-kaphe Belanda untuk menanamkan kaki dan kekuasaannya di tanah air bangsa Indonesia, dan khususnya tanah air bangsa Aceh.

Belanda-belanda Hitam itu adalah kaki tangan dari kejahatan besar yang tengah berkuasa.  Bangsa-bangsa yang tak mempunyai ketauhidan dan kenyamanan iman dan konsep perdamaian jelas dalam agama bawaan mereka dari Eropa,  selalu ditaroh di bawah kaki raja atau penguasa. Dan semua mereka harus tunduk  kalau tidak  diinjak-injak, baik para imam  dalam agama mereka, atau rakyat tertindas dan terjajah di seluruh dunia. Dalam upaya menginjak-injakharkat dan martabat umat manusia itu kaphe-kaphe Belanda atau kaphe-kaphe lainnya seperti Inggris, Perancis, Amerika  membuat segitiga kaki, yang biasa disebut Oligarki.

Oligarki itu merupakan bentuk pemerintahan yang otoritas politiknya dipegang para kelompok elit kecil dalam masyarakat/. Dan menganggap kalangan agama tidak masuk ke dalam kekuasaan tiga kaki tersebut, karena mereka (terutama Islam) sangat sulit diajak berkompromi. Kekuasaan tiga kaki tersebut adalah orang kaya  (konglomerat), uleebalang (keluarga bangsawan) dan terakhir kekuatan militer.

Dengan tiga kaki inilah kata kolonialisme  digaungkan ke tengah masyarakat Aceh. Kata kolonialisme ini berasal dari bahasa latin yaitu colonia.  Artinya tanah, tanah pemukiman atau tanah jajahan. Secara defenisi  kolonialisme ialah suatu sistem pemukiman warga suatu Negara (kaphe-kaphe Belanda) di wilayah induknya .  Bisa juga disebut begini, kolonialisme adalah  penguasaan  suatu negara atas negara lain dengan maksud untuk memperluas  daerahnya  atau negaranya. Dan ini sebagaimana kebiasaan penjajahan yangsudah-sudah, Negara jajahan itu biasanya terletak di seberang lautan,  dengan tujuan menghisap sumber-sumber kekayaan daerah koloninya demi negara penjajah yang biasa disebut neara induk.

Atas pandangan dan cara berpikir sebagian besar bangsa kaphe-kaphe Eropa inilah bangsa Aceh mengadakan perlawanan.

Nah ketika kata kolonialisme dikawinkan dengan imperialisme, maka ikutilah lebih dulu apa maksud atau arti dari imperialisme sebagai satulapis dari  dua lapisan roti yang saling mendukung dalam menjajah suatu bangsa. Kata imerialisme  berasal dari bahasa Latin, “imperare”,yang berarti     sebagai  kerajaan besar  yang berhak memerintah, menjajah atau  menguasai negara lain  guna  memperoleh  kekuasaan ,  wilayah dan kekayaan  yang lebih besar dengan  jalan menguasai  semua bidang kehidupan  seperti kehidupan  politik,ekonomi,sosial, budaya, idiologi dan lain sebagainya.Maka dua kata inilah yang bersatu dan babak belur dihajar oleh kekuatan iman, islam dan Ihsan di tanah Aceh. Inilah kekuatan inti islam yang paling ditakuti oleh kaphe-kaphe Belanda atau kaphe manapun di bagian lain dunia.

Apa makna Belanda Hitam dalam menegakkan kekuasaan oligarki penjajahan kaphe-kaphe Belanda di tanah Aceh? Sebenarnya, yang menyerang Aceh, yang menggegerkan Aceh yang mengoyak=-koyak bumi Aceh berpuluh tahun tanpa henti, adalah kaphe-kaphe Belanda Hitam yang tak tahu diuntung ini. Karena kebodohan merekalah mereka mau menjadi alat bagi kejahatan besar bertingkat dunia itu untuk mengharu-biru sebuah bangsa.

Baik Kolonialisme maupun kapitalisme dengan tiga kaki oligarki yang menginjak-injak tanah Aceh, itu berasal dari ilmu Iblis yang pertama kali memproklamirkan kejahatan di alam azali dulu. Manusia, apakah ia kaphe-kaphe Belanda,Amerika,Inggris atau Perancis,  telah menyerahkan diri kepada  teori –teori Iblis laknatullah ini.

Dan sebagai satu-satunya konsep yang berpadu antaraagama,ideology dan budaya yaitu apa yang disebut Aceh, atau kekuatan Sufi Aceh yang secara asal-usulnya murni datang dari sisi Allah, menjadi satu-satunya tandingan yang tak terkalahkan dari kejahatan manapun didunia,termasuk kolonialisme dan imperialisme. Yang jelas, kaum Muslim, dimanapun berada teruslah mempoerkuat rasa tauhid, bahwa satu-satunya kekuatan adalah kekuatan yang berasal dari Allah. Dan Allah mengirim para ulama sebagai kepanjangan tangan nabi Muhammad Saw yang disebut Guru Mursyid  untuk mempersatukan umat islam dan menggumpalkan kekuatan dan kesatuan dan melanggengkan zikir kepadaNya baik dalam damai apalagi dalam perang seperti di tanah Aceh.

Cepat atau lambat, kekuatan-kekuatan Iblis yang dibungkus dengan istilah canggih dan hebat, imperalisme dan kolonialisme pasti tumbang. Merobohkan oligarki dan feodalistik politik sudah dibuktikan di tanah Aceh. Oligarki dan feodalistik politik kaphe-kaphe Belanda babak-belur dihajar  kaum tarekat Sufi yang telah diturunkan dari syekh dan ulama besar Aceh sejak syekh Syamsudin Al-Sumatrani, syekh Hamzah Fanshuri, sykeh Nurudin Al-Raniri sampai sykeh Abdul Rauf al-Singkili. Kesemuanya ulama-ulama besar Aceh yang memberikan spiritu dan kekuatan yang begitu hebat kepada bangsa Aceh di abad-abad dimana mereka ditinggalkan oleh para ulama besar Aceh itu dan warisan-warisan sangat berharga dari para ulama itu disambut oleh ulama besar berikutnya dan kaum tarekat sufi Aceh yang tgerus bersemangat dan tak pernah kehilangan semangat berperang walau didera oleh berbagai kekalahan dan kehancuran olleh kekuatan-kekuatan Iblis Frans de Pute, Iblis JHR Kohler, Iblis Sbnouck Hurgronje, Iblis van der Geijden, iblis van Heutsz sampai iblis van Daalen yang membunuh bangsa Aceh tanpa pandang bulu, orang tua, perempuan hamil dan lemah, anak-anak sampai bayi-bayi Aceh yang hampir musnah di daerah Gayo pada titimangsa 1904. Tapi perlawanan dan penghancuran kekuatan-kekuatan Iblis  pasti bisa dilakukan, yang penting terus melawan dan tidak berhenti melawan, Allah tak pernah ingkar janji, seperti ingkar janjinya Iblis, manusia-Iblis dan kaphe-kaphe Belanda dan orang –orang munafik di dalam Islam itu sendiri.

Setiap kedatangan tangan-tangan kolonialis dan imperialis ke suatu negeri bangsa merdeka di dunia, adalah kedatangan Iblis-iblis yang ingin menggonjang-ganjingkan kehidupan damai umat manusia di atas dunia. Dan Iblis-iblis besar yang mengeksekusi gonjang-ganjing itu tentulah selama ini bangsa-bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis,Belanda, Itali, dan yang paling jahat dari segala penjajah itu adalah Inggris dan Amerika. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...