21 September 2019

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (60


Episode 43


Melawan Belanda Hitam


Bagian Kedua

 43
Tatkala Mosselman dengan pasukannya di Teunom,  membuyarkan gerombolan pejuang-pejuang Aceh yang memburu mereka dengan senapan dan kelewang. Di sebuah bivak, antar sesama tentara kaphe-kaphe Belanda saling menembak karena perebutan seorang perempuan. Tembak menembak antar sesama pasukan marsose itu sudah jadi hal biasa, ketika musim libur tiba. Setelah mereka lelah dan capek bekerja berperang melawan pejuang-pejuang Aceh yang liat dan sulit ditaklukan, ketika mereka libur dan beristirahat dengan istrinya atau simpanan seorang kapten yang tewas dan dikubur di kerkhof  (kuburan tentara Belanda di Kutaraja),  lalu perempuan itu direbut oleh temannya sesama marsose. Maka kemarahan memuncak muncul  pada marsose yang sudah meng-angan-angankan libur yang indah, tiba – tiba seorang lelaki tergeletak dengan kepala berlobang dan mengucurkan darah.
Tahu-tahu datang dari seberang yang jauh seorang perempuan cantik memanggil-manggil:”Ilenza! Ilenza!” Teriaknya.Padahal Ilenza sudah tergeletak diam tak bernyawa. Begitu hukum karma itu berlaku kepada tentara-tentara jahat yang  disebut  Pang Karim sebagai Yakjuj dan Makjuj.
Lho mengapaYakjuj dan Makjuj? Tanya Mat Hakim  saat makan pagi di sebuah persembunyian mereka di daerah gunung.  Lalu Pang Karim menerangkan bahwa yang namanya Yakjuj dan Makjuj itu adalah sifat. Yang menyandang sifat Yakjuj dan Makjuj itu adalah manusia. Manusia zaman kapan,Pang Karim mengangkat bahu dihadapan  Zakaria, sahabatnya yang bertanya. Kening Zakaria segera mengerut tanda tidak tahu. Apa yang dimaksud Yakjuj dan Makjuj itu. Mat Zakaria, yang aku tahuYakjuj dan Makjuj itu berasal dari bahasa Arab, Ya'juj yang berakar kata "ujaaj". Sedangkan Makjuj  berasal dari kata "al ajj". Ya'juj dan Ma'juj bukan isim musytaq, dia adalah  isim 'Ajam dan Laqab (julukan). Dia sebangsa manusia, tapi memiliki sifat-sifat sebagaimana julukan yang disandang. Yakjuj adalah yang mengering kemudian mengeras. Maksudnya apapun maksud mereka untuk menguasai Aceh, sekali keputusan mereka untuk menguasai, mereka kuasai.Mereka tak peduli   bahwa  dahulu nenek moyang mereka berhutang budi kepada bangsa Aceh, tapi mereka tak peduli. Karena hati mereka  yang kering (mongering) dari iman. Tapi bagi kaphe-kaphe Belanda, kebaikan bukanlah kebaikan, masa lalu adalah masa lalu. Masa kini adalah kini, mata kaphe-kaphe Belanda yang hijau melihat kekayaan bumi Aceh, langsung terbelalak besar matanya dan segeralah mereka mengirim balatentara untuk menaklukkan Aceh. Begitulah jika  hawa nafsu sudah dikuasai Iblis, langsung mengering dari
Sedangkan Makjuj, kaphe-kaphe Belanda itu  datang dengan cepat serta tergesa-gesa. Kondisi dan situasi langsung goncang dan terjadi kekacauan. Dalam perang (kedatangan mereka) jarang yang mampu meladeni mereka, dan mereka lebih banyak mendapat kemenangan.   membuat keadaan goncang kemudian tidak ada orang yang sanggup menghadapi mereka, maka harus lari dari mereka, tapi di Aceh tidak  terjadi seperti itu, sering yang lari itu adalah kaphe-kaphe Belanda, mereka sering kalah dan kalangkabut karena ketakutan.

Van Heutzs yang masih menjadi  gubernur besar di Kutaraja jatuh tersungkur di pintu kantor gubernemen dan bibirnya pecah di bagian  sebelah kiri. Lelaki ganas, rakus  dan buas itu segera dilarikan ke Rumah Sakit Kuta Alam. Mereka yang di lapangan tak mengerti apa yang tengah terjadi pada bosnya di Kutaraja. Seakan dunia ini mau kiamat, para marsose yang tak mampu menahan nafsu itu segera dibereskan oleh Pang Karim yang legendaris tak pernah terkalahkan oleh pasukan kaphe-kaphe Belanda.

Pang Karim membacakan sebuah syair yang membuat takut kaphe-kaphe Belanda, walaupun marsose terlatih sekalipun, bila syair perang sabil yang dibacakan di saat bertempur, maka tentara kaphe-kaphe Belanda itu menjadi kecut apalagi yang sudah berbau maksiat,senang dengan perzinahan – tentara marsose seperti itu akan mudah dibabat habis oleh mujahidin Perang Sabil.Begini bunyi syair Pang Karim yang indah dan menggetarkan itu dibacakan:

Di dalam cahaya-Mu
aku belajar berperang
Di dalam keindahan-Mu
aku belajar memenuhi panggilan jihadMu

Di medan perang aku pun ikut menari bersama-Mu
Dan Mata Agung ini yang menjadi inti
Dari kehadiranku di tengah kaphe-kaphe yang melupakanMu

Hakikat Yang Maha Pengasih hadir secara langsung
laksana sinar matahari memancar di tanoh Aceh
Akan tetapi cintaMu tak berasal
dari berbagai benda di tanah ini
Kasih-Nya melampaui setiap wujud
yang ada di sini
sebab bumi dan segala isinya tercipta
sebagai perwujudan dari cintaMu

kapan dan di mana saja kau berada,
apa pun keadaanmu, beerperang atau dalam damai
selalulah menjadi seorang pecinta
tada henti dimabuk kasih-Nya
Sekali kau digenggam kasih-Nya
hidupmu menjadi seorang pecinta
hidup bagaikan dalam pusara.
kau tak pernah mati, hidup sampai kiamat tiba
lantas kau diboyong ke surga
hiduplah kekal selamanya
Dalam perang yang paling heboh
kau harus menjadi seorang pecinta,
di padang mahsyar pahalamu tak akan dihitung

lihat, manusia berjalan sempoyongan
Di depan-Mu, mereka akan menggigil
dengan wajah pucat karena ketakutan.
Maka, aku akan memeluk kasih-Mu
dan berkata kepada mereka:
Mohonlah kemenangan, atau jika tidak kukabulkan disini
Kemenangan akan mengiringimu di sana


Saat aku syahid
Lihat malaikat-malaikat itu mengajakku
terbang ke langit tertinggi
bila aku syahid sebagai malaikat,
gerangan siapakah yang akan mengajakku?
Pada Hari Kebangkitan,
Kau senantiasa menari di dalam jiwaku,
dan kaphe-kaphe Belanda itu nyemplung kedalam apiMu
Menerima kenyataan yang menyedihkan dan menyayat jiwa

Dan kini Pang Karim melibas semua bentuk rintangan yang ada di depan. Datang ke medan tempur dengan 12 orang mujahidin (pejuang) Aceh, sedang tentara kaphe Belanda sebanyak 40 orang. Yang tersisa di pasukan Pang Karim hanya 8 orang.Dan yang tersisa pada kaphe-kaphe Belanda 14 orang. Kemana yang 26 orang lagi? Tewas dibabat Pang Karim dan pasukannya. Dan yang 14 orang kaphe-kaphe Belanda itu lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Sedang darah telah menjadi danau kecil di Padang Kleng menjadi merah darah, dan tubuh-tubuh 26 kaphe-kaphe Belanda dan 4 mujahidin Aceh yang syahid bergeletakan mengelilingi danau kecil itu. Dan keempat mujahidin Syahid Aceh itu hilang dilarikan sahabat-shabatnya untuk dikubur jauh di pedalaman Panton.

Dari tempat dirunya Van Heutsz menangis sedih mengenang tentara-tentaranya habis dibabat pasukan Pang Karim. Ingin ia membalas dendam kepada Pang Karim, tapi ia tak tahu,siapa Pang Karim? Tibat-tiba asisten pribadinya mendekat dan membisikkan :”Pang Karim, orang baru di jajaran mujahidin Aceh Bis!” Ujarnya saat berbisik dikuping Van Heutsz.  Mendengar itu, Van Heutsz tambah pusing dan ia ingin tidur beristirahat. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...