21 August 2019

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (59

 

Episode 42

 

Melawan Belanda Hitam

 

Bagian Kedua

 42

“Melesatkan semangat sufi  yang tak tembus peluru, bebaskan jiwa kami yang bersuara dengan senapan dan kelewang, kalian tahu  saat ini  adalah masa depan kami.” Kata-kata itu diucapkan oleh Pang Karim bin Kotak saat kontak senjata dengan kepala peleton kaphe – kaphe Belanda Hitam yang bernama Kapten Haans yang berkuilit putih dan tewas mengenaskan disambit kelewang seorang mujahid Aceh. Dan juga ketika menghadapi Jacobus (Belanda Hitam) yang mengamuk dan mensyahidkan 3 orang mujahidin Aceh.

Pasukan Marsose adalah kaphe-kaphe Belanda, bercampur dengan perwira dari Belgia, Swiss,Perancis, dan dicampur pula dengan tentara bayaran dari   Ambon, Menado, Afrika,  Jawa, termasuk pula segelintir orang dari pulau  Nias dan  pulau  Timor, NTT.  Mereka mengenakan karaben,  sebuah senapan yang lebih modern yang lebih  pendek disbanding senapan panjang, yang biasa digunakan kaphe-kaphe Belanda.Selain karaben, pasukan kaphe-kaphe Marsose juga  membawa kelewang yang berguna ketika terjadi duel saat perang jarak dekat,  sebagaimana lazim diperankan tentara mujahidin Aceh. Dan inilah yang sangat ditakuti oleh para perwoira Eropaberkulit p[utih, apakah itu kahpe Belanda, Swis, Perancis, Denmark, Jerman dan sebagainya. Biasanya orang-orang buangan dari Perancis, jerman, Swiss, Belgia yang diambil dan dibujuk saat mereka terkurung dalam penjara. Saat dibujuk itu,  mereka dijanjikan degnan gaji besar, tetapi jauh berlainan dengan kaphe-kaphe Belanda hitam dari Ambon, Madura, Jawa,Manado dan bahkan dari Ghana dan Seneghal (afrika), merekayang terakhir ini digaji dengan rendah.

Saat melawan pasukan di bawah koamndan Haans van Basten itulah, Pang Karim bin Kotak, mengucapkan kalimat yang menjadikan seluruh mujahidin Aceh seperti kesurupan dan menambah darah perlawanan yang mengobrak-abrik kekuatan kaphe-kaphe Belanda:” ….bebaskan jiwa kami yang bersuara dengan senapan dan kelewang, kalian tahu  saat ini  adalah masa depan kami.” Kalimat sebelumnya disimpan oleh Pang Karim, karena telah beberapa kali  ia suarakan saat perang berkecamuk dengan sengit dan dahsyat. Sehingga lapangan luas di Jantho yang tadinya bersih, paling ada dedaunan yang gugur diterpa angina, kini berserakian jasad-jasad kaphe-kaphe Belanda Hitam dan putih, dan juga jasad mujahidin Aceh yang syahid -  sementara genangan darah seperti danau-danau kecil yang digenangi darah.

Keadaan yang sering disaksikan kaphe-kaphe Belanda hitam dari Ambon, Manado atau Madura dan dari manapun sering menjadikan mereka kejatuhan semangat dan moalitas yang sangat diperlukan di medan perang. Begitu melelahkannya pekerjaan mereka sebagai kaphe-kaphe Belanda Hitam , alias Marsose yang berjalan kaki naik dan turun gunung, masuk dan keluar hutan, menyeberangi sungai dalam perjalanan menuju  Blangkejeren terjadi tembak menembak di antara si Ambon dan si Nias. Entah apayang dipertengkarkan, si Nias pun tewas. Ternyata  seorang istri marsose bernama Hethuela, yang sering marah-marah  dan naik darah menjadikan si Ambon (suami)nya pun balik marah. Karena Hethuela berdarah Ambon itu menempel terus sepanjang perjalanan ke bahu Luwoda, serdadu dari Nias itu. Sikap Luwoda yang terus ditempel Hethuela membuat Abarua, si kaphe-kaphe Belanda hitam dari Ambon  yang sudah stress, bertambah stress. Akhirnya Luwoda ditembus peluru senjata karaben pada kepalanya dan langsung tersungkur dan tewas seketika. Sementara istrinya Hethuela yang berpepetan dengan Luwoda yang tewas, pingsan. Namun tembakan karaben Abarua keluaran terbaru terus menyalak dan mengenai  tubuh istrinya yang sudah mengkhianati cintanya.  

Begitulah hukum karma yang mereka terima, setelah dididik oleh Kolonel Schepen di CImahi, Bandung, Jawa Barat waktu itu, dengan gemblengan yang keras dan tertata. Dialah pembuat kebijakan militer kaphe-kaphe Belanda yang akhirnya para tentara kaphe-kaphe Belanda Putih maupun hitam mengatakan: pekerjaan algojo sadis  bukan hal yang sesuai untuk  Scheepens.  Scheepens adalah perwira  kaphe Belanda putih yang selalu mengikuti latihan berat yang mau  bertempur berhari-hari di tengah hutan syunyi dan sepi. Mungkin para komandan yang lebih tinggi dari Schepens,menyimpulkan bahwa kolonel Haans Christoffel cocok  memimpin sekelompok algojo.

Saat para marsose hitam itu menggiring rakyat Aceh dari desa-desa dengan menyangkutkan clurit ke bahu atau ke dagu mereka, lalu sekelompok (gerombolan rakyat tertindas dan ketakutan itu), digiring menuju ke gunung untuk menunjukkan dimana para gerilayan tano Aceh yang selama ini mengacaukan keadaan dan keamanan di tano Aceh. Ya, berandal-berandal kaphe-kaphe Hitam itu lalu membunuh satu persatu rakyat yang mereka paksa naik ke dataran tinggi di pegunungan. Saat mereka tiba-tiba diserang gerilyawan-gerilyawan Aceh yang tangguh, mereka menjerit-jerit kesakitan dan memanggil emak-emak mereka yang sudah tua di Ambon, Manado, atau di Nias, Jawa atau pulau Timor. Tapi ketika mereka menemukan mujahidin Aceh yang kurang tangguh, mereka semena-mena membawa-bawa kepala-kepala mujahidin Aceh yang sudah dilepaskan dari tubuhnya. Lalu ditancapkan bambu runcing di bawah leher mayat kepala mujahidin Aceh itu, dan diunjukkan kepada rakyat Aceh yang peristiwa ini sungguh menimbulkan kemarahan dan dendam rakyat Aceh yang suatu saat nanti, pasti meledak.

Ketika kaphe-kjaphe Belanda hitam itu dalam keadaan lemah, kelelahan dan kecapekan, maka rakyat yang sebelumnya berlatih lebih tangkas dan lebih kuat melawan marsose-marsose yang lebih kejam dari binatang itu, tewas mengenaskan dan rakyat Aceh bersorak sorai merayakan kemenangan mereka. Dan selanjutnya mereka mencari marsose baru lagi untuk diburu dan layak dibunuh sebagai hasil dari kekejaman mereka di waktu lalu.

Saat  Christoffel ditunjuk menggantikan Schepens sebagai kepala peleton Marsose, ia dikirim ke Cimahi. Di Cimahi , Christoffel yang  akan berlatih di sana, sudah ditunggu kaphe-kaphe Belanda Hitam di sebuah  garnisun yang sedang bersantai dan tiba-tiba pecahlah gelak tawa di antara mereka. Sebuah kegembiraan yang ditunjukkan secara spontan dan menghibur hati yang terlepas  dari  beban psikologis di tano Aceh yang sering  menimbulkan ketakutan dan kebingungan di tengah hutan yang sunyi.   Di Cimahi  Christoffel berjumpa  dengan Marsose kawakan, serta mempunyai pengalaman tempur yang liat dan berat di hutan-hutan Aceh. Kehadiran  mereka di tanah Sunda dalam rangka melepaskan penat dan lelah usai melakukan  peperangan berat di Aceh yang berlangsung berbulan-bulan.

Tetapi di garnisun di Cimahi ini muncul juga ketegangan yang tiba-tiba menyeruak di antara marsose-marsose Belanda hitam. Kadang kecemburuan yang dahulu timbul di bivak-bivak kaphe-kaphe Belanda hitam di Aceh, muncul pula di sini. Tembak-menembak terjadi, yang menyebabkan salah seorang langsung tersungkur dan luka berdarah yang sangat parah. Namun kepala peleton marsose , Christoffel memerintahkan anak buahnya melarikan jasad kaphe Belanda Hitam itu ke rumah sakit. Belum sampai ke tujuan, nyawa kaphe Belanda hitam yang tertembak itu sudah terbang duluan ke langit.

Menyikapi kasar dan sadisnya pasukan kaphe-kaphe Belanda hitam ini, diam-diam semangat jihad rakyat Aceh semakin memuncak.Rasa ingin menghancurkan kaphe-kahpe Belanda Hitam itu seketika, dengan mengumpulkan banyak pemuda terlatih dan dibekali karaben hasil rampasan dan kelewang myang mengkilat-kilat menghiasi udara lepas di saat malam, mereka mengendap-endap menuju kumpulan bivak-bivak marsose-marsose yang haus darah dan kejam itu tertidur. Dalam gelap terjadi pertempuran sengit, sementara tentara kaphe-kaphe Belanda hitam yang di dalam bivak tewas diberondong tembakan karaben dari mujahidin Aceh. Tapi kaphe-kaphe Belanda yang hidup dan berjaga-jaga sebagai penjaga malam bagi teman-temannya yang tengah istirahat, sebagian sekarat, sebagian segar-bugar memburu gerilayawan yang lari ke dalam gelapnya hutan lebat meninggalkan markas militer kaphe Belanda yang terlaknat dan penuh botol-botol sampanye atau minuman keras lainnya.

Saat pertempuran sengit baik antara kaphe-kaphe Belanda Hitam dan mujahidin Aceh, atau pertempuran satu lawan satu antara sesama marsose, harga komoditi kopi, cengkeh, pala dan kayu kulit manis terjun payung ke harga terendah. Petani Hindia Belanda yang telah dibebani pajak, semakin hidup dalam penderitaan dan kemiskinan yang makin menghimpit. Saat itulah stress menghinggapi sebagian hidup para marsose, karena gaji mereka cepat habis, sebelum bulan berakhir pada tanggal 30 atau 31. Dan mereka didera oleh tugas berat, melawan mujahidin-mujahidin Aceh  serta seluruh rakyat Aceh yang tak pernah mengenal kata takut kepada siapapun, tak mengenal takut mati, dan juga tahan dalam lapar berhari-hari, walaupun hanya mengonsumsi daun-daun yang ada di sekitar hutan, kampung—atau rumah mereka.   Barulah hari keempat mereka memakan umbi atau nasi yang dimasak setelah dikirim dari daerah pedalaman seperti Gayo, Alas atau daerah Singkil, Aceh Selatan. (bersambung).

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...