18 July 2019

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (46

 

Episode 29

 

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol

 

 

Bagian Pertama

 29

Betapa murahnya harga diri seorang Aceh, di zaman Van Heuts begitu banyakkisah sedih serta  kenangan pahit  yang tak dapat dilupakan setiap pemuda maupun orang dewasa yang menjadi mujahidin Aceh.  Gampangnya  penangkapan warga Negara Aceh Nagroe Darussalam tanpa proses hukum adalah tahun-tahun pahit  dalam sejarah  awal Van Hetusz berkuasa. 

Pada pagi titimangsa  16 Maret 1896, Iskandar Ceubeh,  seorang balita dalampelukan ibunya dan empat saudaranya mendengar suara hentakan kaki tentara kaphe-kaphe Belanda dari  jarak 1 kilometer.  Begitukaget,ibu balita itulangsung mengajak empat anak lainnya berlindung  ke alikpohon besar yang agak masuk ke dalam hutan.  Sayang upaya ibu itusia-sia,  saat  berlari  kebalikpohon,  seorang marsose melihat ibu menggendong bayi dan empatanaknya ketakutan berlari. Saat marsose itu membidik dengan  senapan di tangan,Van heutsz berseru:”Teruskan! Jangan ragu.itulah tenara masa depan Aceh yang akan mengalahkan kita.Lebih baikdikalakan sajasekarang”Ujar Van heutsz keras.

Saat senapan marsose itu meletus,ibu dan satu anakdi gendongannya terkena sasaran tembak. Ibu itu tersungkur dan bayinya menjerit menangis ketakutan.Darah mengucur dari kening sang ibu dan anak bayinya juga berdarah kena luka tembak di lengan. Empat anak yang tengah berjalan mengerubuti ibunya. Marsose terus menembak dan Van Heutsz mendiamkan. Akhirnya keenam ibu anak beranak itu tewas dan ini termasuk salah satu terberat terhadapVan Heustz di parlemen Belanda di Denhaag.

Ada lagi satu kisah yang menyedihkan  yang sulitdilupakan orang-orang Aceh pada masaperang dengan kaphe-kaphe Belanda dulu. Van Heutsz  menyerukan semua  komandan peletonnya agar membunuh semua lawan,  membunuh ternak, meracuni sumur penduduk, menghancurkan logistik  dan membakar desa di daerah Tangse. Van Heutsz yakin semua penduduk diTangse untukdihabisikan saja.Tapi saat itu Snuck Hurgronje ikut dalam operasi militer yang dipimpin Van Heutsz itu. Snouck mencegah Van Heutsz untukbersikapmkeras dan kasar begitu. TapiVan Heutsz keukeuh pada pendiriannya.   Menjelang subuh 16 Maret 1896, personel Kompi Van Heusz  bersiap memulai operasi. Rasa benci mereka kepada orang Aceh  sangat memuncak,  karena banyak tentara kaphe-kaphe Belanda yang jadi korban  paa mujahidin Aceh.  Begitu turun ke desa  Tangse.Tentara-tentara Van heutsz  menyebar dalam pasukan –pasukan kecil  dan menyerang dengan berondongan senapan, lemparan granat, dan membakar setiaprumah yang mereka dapati di Tangse.

Van Hetusz memimpin lansung operasi militeryang kejam dan brutal itu.  Banyak prajurit  Van Heutsz  langsung main tangkap, tanoa mengajukan ke peradilan yang sah.Setelah ditangkap bagaianak-anakkambing yang kebingungan dan taktahuapa-apa, Van Heutsz mengumpulkannya di sebuah lembah di Tangse. Lalu Van Heutsz membisikkan sesuatu kepada seorang komandan  tentaranya. Saat Van Heutsz menghilang dan taktahu rimbanya, komandan tentara kaphe-kaphe Belanda itu memberondong semua tahanan yang berada dilembah di wilayah Tangse itu. Lembah itupun dalam waktu sekejap menjadi danau darah, dimana banjir darah menggenangi lembah itu, bau anyir menyengat tercium dari jarak 500 meter. Dan Van Hetusz rupanya sudah berada lebih cepat dikanto H=Gubernemen  daripada kepalapeletonnya.Mendengar laporan peletonnyabahwa eksekusi terhadap pendudukTangse sebanyak 120orang telah sukses dilaksanakan.Van Heutsz hanya tersenyum mendengar berita itu. Van Heutsz sedang asyik membaca buku di kantor gubernur militer Aceh dan sipil dan ia seakan tak mau dikatakan terlibat dalam pembunuhan massa penduduk Aceh di wilayah Tangse.

 

Mendengar pembunuhan massal oleh Van Heutsz itu, sekeluarga yang tgerdiri dari  6 anak, seoirang ibu dan dibantu oleh suaminya. Ahmad  Tambi dan Asiah,istrinya dengan penuh ketakutan melarikan diri ke arah Tiro.  Pelarian Ahmad Tambi terjadi saat hujan lebat dan  badai terlihat mengitari Tangse dan Tirosementara. Kemjudian menghilang lagi dank abut  hujan mewnyelimuti daerah perbukitan dan lembah di Tangse dan daerah Tiro. 

Bermacam tantangan dan rintangan menghadang selama  pelarian Ahmad Tambi dan keluarganya.. Pe,merontah Vamn Heutsz mengetahui pelarian keluar Ahmad Tambi ini, melalui mata-mata yang melaporkan adanya pelarian saat terjadi pembunuhan massa di Tangse,  Van Heutsz akan  memberi hadiah besar bagi siapa saja yang bisa menangkap mereka.

 

*********************

 Sementara di tanah Karo, kafir-kafir Belanda terus mengkonsolidasi kekuatan pasukannya untuk melakukan intervensi terhadap tanah Karo.

Rupanya seoang saudara Kirasbangun yang bernama Nimbang Bangun,  telah  menjadi kaki tangan kafir-kafir Belanda dan ia telah melakukan perjalanan bolak-balik dari Binjai ke Tanah Karo, untuk menginformasikan keinginan kafir-kafir belanda untukmenguasai tanah Karo.Namun Kiras Bangun alias Garamata menentang keras dengan penolakannya yang keras terhadap   Nimbang Bangun. Kiras menolaknya seusai melakukan  musyawarah dengan raja-raja serta tokoh  Karo sebagai berikut sebagaimana tertuang dalam butir-butir keputusan di bawah ini:1. Keinginan Belanda  menjalin persahabatan dengan rakyat Karo bisa  diterima  dengan syarat  aling menghargai dan menghormati. 2. Keinginan Belanda  memasuki Tanah Karo dientang oeh seluruh pimpinan adat,ulama dan pemimpin agama lainnya serta seluruh rakyat Karo. lak. 3. Kafir-kafir Belanda tak usah  campur tangan  dalam  pemerintahan  Tanah Karo. Rakyat Karo mampu  mengatur dirinya  sendiri tanpabantuan dari luar. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...