24 January 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (36

Episode 19          

Perang Batak Usai Perang Imam Bonjol      

Bagian Pertama

 

19

                      

 

   Angin kencang sepanjang tahun di Minangkabau, mengherankan beberapa pemuka adat   Saat itu titimangsa menunjukkan  17 Maret 1779. Di halaman istana Pagaruyung, beberapa pemuka adat sedang bersenang-senang dengan mengadu ayam, minum tuak (arak) dan menyanding bini simpanan.  Di kampung-kampung sama saja. Keadaannya juga begitu. Inilah ajaran "adaik nan muntaniak" (jahiliah)  di Minangkabau (Sumatera Barat) sepanjang masuknya agama Islam  yang damai ke negeri Matrilinial terbesar di dunia dengan sistem kekerabatan keibuan yang kuat dan kokoh.

Datuk Sati sedang mengadu ayam dengan taruhan beberapa puluh gulden. Ayam jago yang lehernya memerah dan mengembang karena bersemangat, mematukkan paruhnya ke kepala lawan. Taji di kedua kaki pun siap menusuk dan memukul dada  lawan agar terluka dan mengalami cedera yang serius. Di sampingnya duduk seorang perempuan cantik, istri kedua dan pertamanya berada di rumah di daerah yang berlainan. Mungkin ini istri Datuk Sati yang ketiga, atau istri yang dinikah di bawah tangan, yang marak terjadi di daerah Minangkabau pada masa itu. Di depan pintu kecil istana Pagaruyung, terserak minuman arak yang terbuat dari fermentasi air kelapa atau air pohon sagu (enau) dan siap diminum pertama kali oleh pemenang yang jagonya mengalahkan jago lawannya.

 Diceritakan bahwa Islam masuk ke Minangkabau pada abad ke 7, tepatnya di tahun 674 Masehi, terdapat masyarakat Arab telah menetap  atau hanya sebagai perantau di pesisir timur pulau Sumatera. Kegiatan utama mereka sebagai pedagang, tetapi mereka memiliki pekerjaan sampingan, yaitu  menyerukan dengan halus (dakwah)  secara perlahan dan persuasif  agama Islam ke  orang-orang Minangkabau dengan melewati  aliran-aliran sungai yang ramai jadi bandar-bandar perdagangan saat itu. Di antaranya sungai Batang-Hari di daerah Jambi (sekarang).

 Islam di Sumatera Barat, tidak bertentangan antara keislamannya  karena berkaum/bersuku menurut ibu (Matrilinial)  karena Islam memuliakan Ibu,  atau lain sebab karena  pusaka jatuh kepada saudara perempuan karena harta tersebut  tetap dalam lingkungan kaum (harta komunal) dan peranan laki-laki sangat sentral disini yaitu sebagai "Mamak Kapalo Warih" (Pemangku Kepala Waris).

Inilah yang melahirkan asas "kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka mufakat, mufakat barajo ka alue jo patuik sasuai barih jo balabehnyo" (Kemenakan beraja ke paman, paman beraja ke penghulu, penghulu beraja ke mufakat,mufakat beraja ke alur  yang patut (pas) sesuai baris dan ketentuannya.) .

Dalam hal ini tidak disebutkan bahwa  harta  pencaharian seorang bapak harus dijadikan pusako (harta pusaka menurut sistem matrilineal). Tetapi harta tersebut harus diwariskan untuk anak-anaknya sesuai ketentuan Islam (faraidh). Inilah yang disebut "syarak mangato adaik mamakai" dalam hubungan pernikahan seorang laki-laki dan perempuan minangkabau yang memiliki harta pencarian bersama.

 

Lalu mengapa Minangkabau menjadi kacau dan ribut di akhir abad ke-17?  Ini karena kaum adat yang sebagian besar berada di  lingkungan kerajaan, belum menjalankan syariat Islam sepenuhnya, dan sebagian besar mereka cenderung melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama, seperti berjudi (dengan mengadu ayam, atau main kartu dan lain sebagainya, ada yang suka minum arak (ciu) , ada pula yang melakukan kawin cerai seenak perut mereka, sehingga dimana nagari di situ ada istrinya, dan anak-anaknya berkeleleran tanpa ada tanggungjawab nafkah yang jelas dari suaminya yang jadi “Pandeka” (Pendekar) tukang kawin yang sering mengacau tatanan sosial masyarakat  Minangkabau. Lagi pula jika yang melakukan itu adalah rakyat biasa, pengaruhnya tak akan mudah tersebar ke masyarakat banyak. Mereka juga suka minum madat (heroin dan sejenisnya), menghisap rokok dan banyak aspek-aspek negative yang dilarang agama yang mereka terus praktekkan.

 

Maka tindakan  ulama-ulama Minangkabau yang saat itu disebut Kaum Padri menghimbau masyarakat kerajaan  Pagaruyung, khususnya sang raja diraja di istana  Pagaruyung kembali ke ajaran Islam dalam sebuah perundingan. Hasil dari perundingan itu bukannya mencapai mufakat setelah bermusyawarah di tahun 1803, justru mencapai titik klimaksnya dengan  konflik yang akhirnya disebut dengan  Perang Padri.

Pecahnya  perang sipil (saudara) pertama yang terbesar dalam sejarah masyarakat Minangkabau, juga diakui sebagai perang Sipil tersengit di Indonesia.Dua puluh  tahun konflik akhirnya kaum adat menyadari kekeliruannya.  Kaum Adat yang terajuk mengundang Belanda 12 tahun sebelumnya mengakibatkan kerugian harta , jiwa raga, dan akhirnya mengancam eksistensi  kekuasaan Pagaruyung yang lumpuh tanpa kekuasaan yang sebenarnya.

Maka  Tuanku Imam Bonjol sebagai pemimpin kaum Padri mengajuk  Kaum Adat pada 1833 yang berakhir dengan bersatunya kaum adat dan kaum agama. Persatuan yang sangat bersejarah itu melahirkan  konsesus baru "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah" (Adat berlandaskan ajaran Islam, ajaran Islam berlandaskan Al-Qur'an .(Bersambung)

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...