21 April 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (35

Episode 18                  

         

Semangat Jihad Semakin Membara

 

Bagian Pertama

 

18

 

Pertempuran berkecamuk dengan sengitnya. Syekh Al-Fonso maju dengan kelewang dan bedil sekaligus, di antaranya ada Cik Pang Namru, Cut Meutia dan Khadijah Zakia, Sayidah Nadzilah dan Mukaram.

Mereka saling membantu dengan membacakan syari-syair Perang Sabil, mendengar syair itu dibacakan seluruh pejuang-pejuang Tanah Perlawanan seperti bangkit dan situasi seperti badai besar yang melanda dengan hebatnya. Prajurit kaphe-kaphe Belanda seperti kebingungan dan patah semangat melawan pejuang-pejuang Tanah Perlawanan. Nadzilah dapat membunuh tiga kaphe-kaphe Belanda, syekh Al-Fonso membunuh dua orang, Zakia membunuh dua orang dan Pang Namru beserta Istrinya membunuh masing-masing satu orang. Dan seluruh anak buah Pang Namru melukai masing-masing satu tentara kaphe-kaphe Belanda. Tiba-tiba datang bantuan dari arah Kutaraja dan melihat bantuan hanya tinggal 500 meter, semua mujahid Tanah Perlawanan kabur melarikan diri. Menghilang dan tak menampakkan jejaknya lagi. Tinggal korban-korban kaphe-kaphe Belanda yang tewas dan tergeletak berlumur darah mengaduh kesakitan. Tanah berlumur darah yang tumpah di atas permukaannya, rerumput dan pohon-pohon perdu disirami darah yang muncrat.

Kepala peleton kaphe-kaphe Belanda geleng-geleng kepala dibuatnya. Lalu ia seakan berpikir berat, bagaimana caranya mengalahkan pemberontak-pemberontak alias teroris-teroris Aceh yang sulit takluk kepada pemerintahan yang sah, menurut pikirannya. Padahal mereka sedang merampok di Tanah Perlawanan. Tapi jalan pikiran yang aneh itu terus bergulir dalam pikiran komandan kulit putih yang memipin pasukan binatang Marsose itu. Itulah, teroris Negara itu telah dijalankan oleh Negara Belanda sejak kedatangannya pertama kali ke Nusantara. Mula-mula mereka berdagang, kemudian menyewa tanah, kemudian menguasai tanah, kemudian memeras, kemudian mengancam, kemudian memerangi, kemudian mengadu-domba dan sejengkal demi sejengkal tanah-tanah di Nusantara dikuasai oleh mereka, lewat praktek terorisme. Sekarang mereka meneriakkan kata teroris kepada bangsa Aceh yang mati-matian mempertahankan tanah airnya. Siapakah yang teroris sesungguhnya?                                                           

Beberapa langkah berjalan, para Marsose itu menyaksikan budak (orang Seumarante) dicambuk begitu banyak di sebuah pohon. Tubuhnya terikat kuat ke pohon, sedang cambukan terus melecut tubuhnya yang lemah tak berdaya. Para binatang Marsose itu tak dapat berbuat banyak, mereka terus berjalan dan cuek terhadap keadaan yang menyedihkan itu. Karena bagaimanapun mereka tak mampu membebaskan orang Seumarante itu dari hukuman yang menderanya. Cambukan belum juga habis, begitu keras dan kuatnya cambukan itu, hingga luka-luka pada tubuhnya mengeluarkan darah, dan perut lapar mereka tak mampu menahan kehidupan bertahan pada orang Seumarante itu.

Tak lama orang Seumarante itu diam, diam tak bergerak. Bibirnya biru dan pucat tak bergerak. Tubuhnya yang kurus dan perutnya yang kempes tak memperlihatkan tanda kehidupan. Tiba-tiba komandan yang mencambuk orang Seumarante atau beerent itu menceritakan kepada Marsose yang menyaksikan dari jauh.

“Mengapa dia dihukum sampai sebegitu kejam tuan!” Tanya Marsose itu dengan nada prihatin.

“Ya, ketika ia membawa barang-barang bawaan dari Batavia dengan mendorong gerobak, ia kedapatan mencuri makanan yang ada dalam gerobak dorong itu. Mungkin ia lapar. Tapi bagaimanapun laparnya, mencuri adalah sesuatu yang terlarang dalam militer Belanda. Siapa pun ia, karena itu, aku menghukumnya dengan hukuman cambuk seberat-beratnya.”

Kemudian komandan peleton itu pergi begitu saja, meninggalkan mayat orang Seumarante      (budak itu begitu saja, dan juga Marsose itu. Tak lama kemudian malam pun tiba. Semakin malam semakin larut, beruang dan binatang buas lainnya dating ke pohon itu, merobek-robek tubuh orang Seumarante itu dan apapun yang dapat mereka bawa ke hutan. Namun seekor harimau langsung menyantap orang Seumarante itu dalam gelap di pohon itu. Esok pagi tersisa kerangka tubuhnya terikat tali. Sedang kaki, lengan dan sebagian tubuhnya telah hilang. Dibawa hewan-hewan buas ke dalam hutan atau dimakan di bawah pohon itu langsung.  Berhari-hari orang menyaksikan mayat atau kerangka tubuh orang Seumarante itu dan menyebarkan bau busuk, tapi tak ada yang peduli. Lalat hutan hinggap di kerangka mayat yang terkoyak-koyak itu dalam jumlah yang sangat banyak, merubung seperti lebah menyelimuti sarang madunya, semua kelihatan hitam mengkilat. Seseorang melempar batu kea rah mayat bangkai orang Seumarante itu.

Sementara tak jauh dari situ, bangkai yang menyebar bau busuk itu kira-kira 1 km, orang-orang Seumarante (beerent) tengah bekerja keras membawa balok-balok rel kereta, membawa gerobak, membantu pekerja-pekerja dan insinyur yang sedang merancang pembuatan rentangan rel kereta antara Ulee Lheu sampai ke Kutaraja. Dalam pekerjaan paksa ada di antara orang Seumarante itu yang mengeluh kelaparan, tapi siapa yang mau mendengar jeritan jiwa mereka yang parah menderita? Sementara nasib mereka dalam strata para pekerja, kalangan militer dan sipil dalam struktur pemerintahan kaphe-kaphe Belanda, tiada artinya. Ibaratnya mereka adalah kaum paria dalam kasta Hindu, kasta terendah yang tiada artinya bagi kehidupan sosial yang berlaklu saat itu.

                Tiba-tiba seorang Marsose menarik keras seorang Seumarante dan menamparnya dengan keras.

“kau yang mencuri biskuitku di dekat pohon itu?”

“Lapar tuan!” Jawabnya.

Tendangan keras mendarat ke tubuh orang Seumarante itu.  Ia tersungkur dan tubuhnya yang lemah terhempas ke tanah.

“Bangkit!” teriak Marsose itu dengan kerasnya.

Orang Seumarante itu bangkit tapi sangat pelan karena tiada tenaga dalam tubuhnya yang tersisa, hanya tulang dan daging tipis membalut tubuhnya.

Melihat gerakan yang sangat pelan, Marsose itu kembali menendang tubuh ringkih dan tak berdaya itu. Ia kembali tersungkur dan dadanya terhempas ke tanah. Wajahnya yang kusut tapi tak dapat mengekspresikan kekusutannya dengan jelas lagi, karena perasaannya yang meringis, tapi ringisan yang tak dinilai dan tak dihargai oleh siapapun. Seorang Marsose lain datang dan mencambuk langsung tubuh kering itu dengan kerasnya, berkali-kali. Jeritan dan tangisan tak terdengar dari mulut orang Seumarante (orang rantai atau Bromorah) itu. Hanya naik turun nafasnya masih terlihat di tubuh kering, ringkih dan kelaparan . Tak lama kemudian cambukan kesekian kembali mendarat di tubuh orang Seumarante itu. Sampai sore orang Seumarante itu tak bangkit-bangkit. Para pekerja, perwira, para Marsose kembali ke markas masing-masing. Di samping rel yang belum sempurna dibangun, orang Seumarante itu tergeletak. Besok pagi orang Seumarante itu sudah tidak ada di tempatnya tergeletak terakhir kali. Mungkin telah dibawa binatang buas ke dalam hutan. Mungkin ia hidup lagi dan melarikan diri, atau raib dibawa lari oleh Jin , setan atau Iblis? Wallahu’alam bishshawab, semuanya hanya Allah, Tuhan Yang Kuasa yang tahu. Karena Dialah yang berkuasa, mengetahui apapun sedetil-detilnya yang terjadi di bumi. Karena bumi ini kepuanyaan-Nya, dan bukan milik manusia, atau makhluk jin, iblis, setan, atau binatang buasa sekalipun. Allahu Akbar. Innalillahi wainnailaihi raaji’uuun! (Bersambung)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...