23 January 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (33

Episode 16     

                      

Semangat Jihad Semakin Membara

 

Bagian Pertama

 

16

 

Sepuluh orang tentara Marsose berdiri di tengah terik, di depannya berpidato seorang komandan militer yang disebut komandan pasukan Marsose, yaitu Letnan Satu M van de Ende. Sepuluh orang lagi berdiri berseberangan dengan sepuluh orang pertama, mereka juga berdiri tegap, diterpa sinar terik matahari di tengah tanah lapang di Keutapang Dua, Aceh Besar (Rayeuk). Pasukan yang kedua, dipimpin oleh Letnan Dua M.Neelmeyer yang juga berpidato kepada anak bawahannya. Merekalah cikal bakal pasukan Marsose , sebuah pasukan yang dibentuk berdasarkan karakter berperang orang-orang Aceh. Walaupun itu idenya berasal dari seorang pribumi yang mencintai dunia, seorang Minang yang bekerja sebagai jaksa di kantor Gubernur Jenderal Belanda untuk Aceh. Awalnya, Van Heutz mengingat-ingat bahwa pasukan Aceh itu bertarung dengan rencong, kelewang dan sedikit bedil, jika mereka punya bedil. Dan van heutz mengatakan bahwa alangkah bagusnya jika kita berperang melawan orang-orang gila dari Tanah Perlawanan itu dengan rencong, kelewang dan bedil. Dilengkap dengan ketangkasan, kegesitan dan kecakapan sebagaimana bangsa Aceh. Dan pasukan itu tak perlu banyak, hanya beberapa orang, antara tujuh sampai sepuluh orang dan bias masuk dan keluar hutan-hutan sekundur sampai hutan primer (perawan).

                Ternyata ide tersebut bertemu dengan usul Muhammad Syarif, seorang Minang yang menjadi jaksa itu. Ia mengusulkan, agar dibentuk sepasukan kecil dari tentara-tentara yang diambilkan dari Ambon, Jawa, Madura atau Sulawesi. Pasukan itu digembleng dengan disiplin yang keras, mampu mandiri dan tak bergantung kepada teman (korps). Mereka dapat mempertahankan diri sendiri dengan perlengkapan yang diberikan kepadanya, seperti kelewang, rencong ditambah bedi, seperti juga pemberontak-pemberontak Aceh itu” Ujarnya kepada Van heutz di kantor Gubernur Belanda di Kutaraja.   

Dua puluh orang Marsose itu yang berada di bawah dua orang kamandan diresmikan oleh Gubernur Van Heutsz dan diangkatlah seorang Kapten G.G.J. Notten sebagai Komandan Korps Marsose sejak dibentuk tanggal 20 April 1890 dan bertugas sampai  September 1893.

                               Di tengah pembentukan dan pelatihan pertama pasukan Marsose, terlihat sepasukan tentara berpakaian merah. Mereka semua pribumi dari pulau Jawa. Siapa mereka? Jumlahny yang sangat banyak dan wajah mereka yang lebih banyak berwarna kusut dibanding cerah, gembira dan lepas. Rata-rata mengidap stress karena status budak yang disandang mereka. Mereka terdiri dari 1000 orang narapidana di penjara-penjara yang ada di Jawa. 1200 orang lagi adalah tentara merdeka yang terdiri dari orang Manado, Bugis, Madura, Jawa, Ambon dan dikumpulkan di Batavia untuk dibawa ke Aceh. 1100 tentara merdeka itu digaji oleh pemerintah kaphe-kaphe Belanda. Sedang 1000 orang narapidana itu tidak digaji dan dianggap budak, bahkan pengumpulan mereka direkrut dari penjara di Surabaya, Semarang, Bandung, dan diangkut ke Aceh semuanya dengan status budak pekerja paksa.  Semuanya  berjumlah 2100 tentara. Namun di antara 2100 tentara pribumi itu ada 220 perempuan yang juga diangkut ke Aceh. Mereka dipekerjakan di dapur-dapur umum milik kaphe-kaphe Belanda.

             Namun ada kerja sampingan mereka yang tidak ringan, mereka dipaksa melayani seks jenderal-jenderal, letnan, kapten dan kopral kaphe-kaphe Belanda yang bisa disebut sebagai perzinahan terang-terangan. Karena mereka tidak mengerti hukum, kecuali hukum Eropa yang kafir dan tak mengenal agama. Walaupun mereka dikenal sebagai penganut agama Kristen atau Katolik dan sebagian kecil beragama Yahudi, dalam kehidupan sehari-hari agama tidak ada relevansinya. Karena itu perempuan-perempuan di dapur-dapur umum itu bisa saja melayani kebutuhan seks kaphe-kaphe Belanda   

                Ini juga akhirnya akan menimpa agama Islam serta para penganutnya nanti. Ketika seluruh negeri ini berada di bawah kekuasaan kaphe-kaphe Belanda, agama Islam juga dirancang sama dengan agama Kristen, Yahudi  yang keberadaan agama hanya ada di gereja, sinagog, dan agama Islam hanya ada di dalam mesjid. Diluar mesjid Islam tidak berlaku. Yang berlaku adalah hukum sipil yang digodok dan lahir dari negeri Belanda dan diperuntukkan juga kepada kaum pribumi. Jika dalam hukum Aceh terjadi perzinahan antara laki-laki dan perempuan, berstatus suami atau istri, semua dalam Islam adalah dihukum zina. Tapi dalam hukum sipil Belanda (juga Hindia Belanda), selama itu dilakukan secara suka sama suka, maka itu tidak dianggap zina. Zina adalah sebuah upaya paksa atau tidak terpaksa yang ilegal  untuk melakukan hubungan intim antara laki-laki dan perempuan.  Inilah satu contoh dari bentuk mempreteli hukum-hukum agama Islam dalam kehidupan sipil.

                   Di masa depan akan ada sekelompok orang Islam yang shalat, puasa, membayarkan zakat, tapi ia juga melakukan zina, berjudi dan lain sebagainya. Tak lebih tak kurang seperti orang-orang yang berada di     benua Eropa, Amerika yang kesemuanya berlaku (tak lebih tak kuang) sebagai setan,binatang dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berada di gereja, sinagog atau mesjid, barulah ia kembali menjadi hamba Tuhan yang suci, taat dan saleh.ia menjadi manusia kembali. Tetapi sepulang dari gereja, sinagog atau mesjid, dia boleh lagi berpacaran , terus berzina, main judi, dan kalau terpaksa karena terdesak (dihasut oleh setan atau iblis gaib) dan terpaksa membunuh, itu akan diselesaikan oleh hukum dunia (negara), yang di seluruh negara-negara Eropa sampai ke Amerika terkenal dengan undang-undang hukum sipil. Bagi yang membunuh dipenjara 6 tahun, 15 tahun, 20 tahun atau 75 tahun penjara. Tetapi itu juga bisa diakali, kalau punya uang, kalau punya orang dekat yang punya jabatan hukuman penjara 15 tahun bisa dikurangi menjadi 3 tahun atau bebas sama sekali. Sedang untuk urusan akhirat (hukuman akhirat) itu diserahkan saja kepada Tuhan. Karena menurut hukum-hukum yang berlaku di Barat, bahwa urusan dunia ini diselesaikan oleh raja, (sekarang presiden atau perdana menteri), sedang urusan akhirat diserahkan kepada Tuhan. Karena menurut mereka di dunia Tuhan tak pernah hidup, yang hidup di dunia adalah raja, presiden , perdana menteri bersama rakyatnya. Sedangkan Tuhan hidup di Akhirat. Karena itu tempat Tuhan ada di akhirat. Maka tempatkanlah segala sesuatu pada tempatnya: “The right man in the right place”! Tuhan ada di Akhirat, (di mesjid, gereja, sinagog), maka .  tempatkanlah Tuhan di sana. Raja ada di dunia, (Negara, parlemen, istana), maka tempatkanlah raja di tempatnya. Jangan salah tempat! Wallahu’alam bishshawab.  

                   Dari pelabuhan Tanjung Priok di Batavia, para budak itu sudah diperlakukan demikian kasar oleh mandor-mandor mereka yang terdiri dari orang-orang pribumi kelas ningrat (elit). Jadi walaupun dalam masa penjajahan kolonial, adat serta kebiasaan lokal dipelihara oleh kaphe-kaphe Belanda untuk melanggengkan kekuasaannya. Di antaranya sistem priyayi , kels menengah , kelas bawah dan kelas budak. Sejak dikapalkan dari Tanjung Priok mereka sudah dianggap barang yang tiada harganya. Mereka boleh dihardik, dipaksa bekerja tanpa diberi makan, tanpa digaji, zonder istirahat. Pokoknya semau tuannya yang memandorinya. (Bersambung)

 

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...