6 December 2019

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (32

Episode 15                             

Semangat Jihad Semakin Membara

Bagian Pertama

 

15

 

 

Pada masa lalu, di tano Aceh atau umumnya di kepulauan  nusantara ada dua tarekat yang paling ditakuti penjajah kaphe-kaphe Belanda. Dua tarekat yang paling ditakuti kaphe-kaphe Belanda itu adalah Tarekat Qadariyah dan Tarekat Naqsyabandiah. Ketakutan kaphe Belanda terhadap gerakan yang dimotori tarekat memang sangat sah berdasarkan pengalaman banyak kaphe-kaphe Inggris, Pernacis dan Italia di Afrika Utara serta Rusia diKaukasus.  Begitu banyak perlawanan menentang penjajahan yang dipimpin tokoh tarekat beserta  pengikutnya yang sangat fanatic. Karena itulah tarekat mendapatkan pengawasan khusus dari kaphe-kaphe Belanda.                                                                          

         Tengku Muhammad Lamnga, pejuang Aceh yang lain dan terkenal tegas dan berani, maju ke medan perang melawan kaphe-kaphe Belanda. Dia adalah suami perempuan yang bersumpah akan membalas dendam terhadap kejahatan kaphe-kaphe Belanda yang sudah tak tahu diri dan berani merusak dan menghancurkan tempat sujud orang-orang beriman di negeri Aceh yang besar, dimana perempuan itu berkata dengan lantang: “  “Hai setiap orang Mukmin yang bernama orang Aceh, lihatlah! Saksikan sendiri dengan mata kepalamu mesjid kita dibakar kaphe-kaphe Belanda! Mereka nyata-nyata menantang Allah Swt……………….. “ 

                  Dalam malam-malam persiapan perang, perempuan itu menonton acara Didong di Meulaboh, di Gayo atau Alas atau wilayah yang dekat dengan tempat mukimnya, semnentara suaminya berjuang di medan laga dengan keringat, darah dan semangat pantang menyerah. Didong yang dibawakan dengan gabungan seni tari, seni music (vakal) dan syair-syair Perang Sabil itu menambah semangat para pejuang-pejuang yang akan mengadu ketangkasan mereka melawan pasukan-pasukan kaphe-kaphe Belanda laknatullah. Cut Nyak Dhien yang sangat menyukai sastra dan kesenian itu merasa terbawa oleh semangat perang yang dibawakan para penari Didong  dengan menggoyangkan-goyangkan tubuhnya, menyuarakan suara yang merdu dan mengarang syair-syair fi sabilillah yang akan menghadap kaphe-kaphe Belanda. 

           Seniman Didong yang telah sangat dikenal di daerah Gayo Alas dan Meulaboh itu disebut sebagai Ceh sejak zaman Raja Linge XIII (Raja di deerah Gayo), dan diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To’et, dialah Ceh (senimkan) Didong pertama kali yang membawakan seni Didong untuk menyebarkan agama Islam di daerah tersebut. Namun kemudian, ketika kaphe-kaphe mencoba masuk ke wilayah Takengon, Bener Meriah, Meulaboh, Alas dan Gayo, maka kesenian Didong diarahkan menjadi kesenian yang membangkitkan semangat para mujahidin Aceh untuk menentang kaphe-kaphe Belanda, sebagaimana tarimSeudati yang dilahirkan oleh Teungku Saman alias Cik Di Tiro di daerah Aceh Besar dan Pidie.

               Maka Cut Nyak Dien yang masih menggendong-gendong anaknya yang berusia balita itu untuk melihat-lihat kesenian Didong dengan syair-syairnya yang sungguh menjadikan diri perempuan itu gatal untuk terjun ke medan tempur, berjihad membela agama Allah, bangsa, kemulian  dan muru’ah negara yang terancam! Tak lama kemudian, masuk ke sesi kedua permainan Didong. Para Pegawe (pemain-pemain Didong yang ahli membawakan seni Didong) menarikan sambuil duduk, bersusun lima sampai delapan orang di kiri dan di kanan. Pegawe itu adalah orang-orang yang mengusai masalah-masalah agama, adat dan ilmu-ilmu lainnya. Karena itu Pegawe (ahli) Didong  sering disamakan derajatnya dengan Si Opat, pemegang kekuasaan dalam pemerintahan adat Gayo dan Alas pada masa dahulu. 

Mereka bermain Didong sambil duduk melingkar, lalu mereka lantunkan syair-syair yang diselingi tepukan tangan, yang disebut dengan Didong Tepuk Tangan. Dalam permainan Didong, mereka saling bertanya dan menjawab. Memang tidak ada satu ciri Didong, banyak jenis dan macam Didong yang dimainkan dengan narasi Pegawe yang duduk pun tidak sama. Ada Didong Gayo Lues, ada Didong Aceh Tengah, ada Didong Bener Meriah.

              Cut Nyak  akhirnya pulang dan tak menonton Didong sampai selesai. Ia membawa anak dalam gendongannya pulang dan mempersiapkan kehidupan esok hari, seperti memasak, dan mencari padi atau kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara Teuku Muhammad  Lamnga jarang-jarang pulang ke rumah, karena kesibukan perang yang selalu menyita perhatian dan sebab lokasi perang sabil jauh dari rumahnya.

                    Semntara Cut Hyak pulang ke rumah, Pegawe Didong terus merapalkan syair-syair Didong yang menyeru penonton untuk mengerti agama dan diri serta kondisi negara dan banghsa:

   Assalamu’alaikum jame baroto

   Tamong-tamong jak vio uhate tika-tika

   Tamong-tamong jak vio uhate tika-tika

 

   Karena salam nabikan sunah

   Jaro-jaro tamumat syarat mulia

   Jaro-jaro tamumat syarat mulia

 

   Amin Allah sembah amin

   Urang mukmin balake lake doa-doa

 Urang mukmin balake lake doa-doa

 

   Berkat rahmat Allah yamri

   Nangroe Aceh mamusia si jahtra

   Nangroe Aceh mamusia si jahtra

 

Dung tak dung dung tak dung tak tak tak, dung tak dung tak dung dung dung dung

Dung tak dung dung tak dung tak tak tak, dung tak dung tak dung dung dung dung

Tak dung dung tak tak tak tak, dung tak dung tak dung, dung tak dung tak dung tak

Dung, dung dung dung tak dung dung dung tak dung tak, dung dung dung dung tak

dung dung dung dung tak dung tak dung tak

 

reff: Aro pulo pinang dibedah gelombang tujoh

        Maro patang manyang si ulah menyak meulaboh

        Maro patang manyang si ulah menyak meulaboh

        Cak ampo teuku Raja

 

       Satu dua tiga empat lima enam tujuh setengah

       

Kembali ke reff: He Allah Allah eha

                            Hana temrila la putro barehan

                              Han han hana temrila

                              (2x pelan dua kali, sedang dua kali, cepat yang cepatnya tak usah pakai

                              lagu)

 

             hai jala tun mile hai mile tun jala

                            hai jala tun mile hai mile tun jala

                           (2x pelan dua kali sedang dua kali cepat)

 

                            Ret, kala ret menan nan

                            Ret, kala ret menan nan  

Maka bersemangatlah darah para pejuang Alas Gayo, Meulaboh, Bener Meriah dan Aceh Tengah mernyambut hari esok yang penuh harapan di hadapan janji-janji Allah. Cut Nyak Dien ingin sekali melayangkan rencong atau kelewang, atau memegang bedil untuk menembak mati  si kaphe-kaphe Belanda yang tak tahu diri! (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...