18 February 2020

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (30

Episode 13                             

Semangat Jihad Semakin Membara

Bagian Pertama

 

13

 

Saat itu menjelang tahun baru 1895, hujan baru turun sore tadi dan sangat deras.Di Kutaraja para tentara kaphe-kaphe Belanda sudah siap merayakan penyambutan tahun baru. DI barak-barak militer di balik dinding terpal dan koper-koper lumayan besar penuh dengan sampanye, minuman keras, kadang ada yang membawa vodka dari Rusia. Kebanyakan tentara kaphe-kaphe Belanda hanya gagah-gagahan dan ingin dipuji dengan menenggak vodka dibanding minum sampanye. Tetapi sebagian tentara kaphe-kaphe belanda siap-siap mengadakan patroli sore sampai malam, menjaga bila ada serangan mendadak dari gerilyawan tano Aceh terhadap posisi-posisi Belanda di Kutaraja.

Sore itu, 20 pasukan kaphe-kaphe Belanda melakukan latihan baris berbaris. Komandan pasukan menyiapkan barisan. “Siap!!”. Pasukan kecil yang terdiri dari 20 orang itu bersiap mengangkat tangan dan kaki kiri. Komandan menyuruh belok kanan. Dengan cekatan pasukan berbelok ke kanan. “Maju…jalan!” perintah komandan. Maka berjalan pasukan yang akan melalukan patroli di malam tahun 1895 itu. Lima orang tentara Aceh mengintip dari kejauhan dari atas pohon memperhatikan pasukan yang sedang latihan berbaris itu.

Lalu Musa   Ceubeh yang berada di tengah berucap: “Siapa di antara 20 orang kaphe-kaphe Belanda yang berbaris itu akan tinggal nama nanti malam?” Ahmad yang ada di sebelahnya menjawab:”Paling tidak lima orang harus pulang kampung nanti malam, saat serangan gerilya kita menewaskan lima orang di antara mereka”.

Abdul Kadir menegaskan:” Kalau aku bukan 5 targetku, tapi 10 kaphe-kaphe Belanda. Ini baru prestasi. Tinggal 10 lagi yang ketar-ketir melanjutkan patroli karena separohnya sudah menjadi mayat dan dikubur di Kerkhof”. Semuanya tertawa dan mengaminkan tekad Abdul Kadir itu.

Adalah Teuku Muhamad Arif yang pro Belanda memberi nasehat kepada Jenderal van Teijn , Gubernur Militer Belanda di Aceh,  Kepala Staf-nya J.B. van Heutsz, untuk membentuk sebuah kelompok  tempur kecil infanteri yang mobilitasnya sangat tinggi.

Usulan Teuku Muhammad Arif ini digodok hingga ditemukan nama korpsnya dengan initial Merchause (pasukan Marsose) pada titimangsa 1889, saat revolusi besar dan besar pecah di Paris,Perancis yang menyebabkan benteng terbesar di negeri itu, Benteng Bastille dijebol  dan semua tahanan di penjara itu melarikan diri dan ikut dalam revolusi Perancis yang menggoncangkan dunia saat itu. Dan saat itu pula pengkhianat bangsa Aceh yang terbesar dan terbusuk sepanjang sejarah, Snouck Hurgronje  berlayar dari Singapura menuju Batavia dengan menumpang sebuah kapal bernama “Japara”.

Pertama memang pasukan elit  kaphe-kaphe Belanda yang terkenal dengan sebutan Marsose itu seakan dapat dan hamper menghancurkan perlawanan rakyat Aceh dengan sangat efektif. Tapi bukanlah bangsa Aceh namanya, selama penindasan pasukan elit Marsose itu, tidak menyimpan energi dendam yang sewaktu-waktu akan mengeluarkan energi luarbiasa yang membunuh setiap kaphe-kaphe Belanda yang ditemui para mujahidin atau rakyat Aceh sekalipun.

Hari semakin gelap, persiapan penyambutan tahun baru 1895 semakin sibuk. None-none Belanda sibuk berdandan, para pastor atau pendeta pun siap rapi dengan pakaian khas sebagai golongan agama yang menggembala umatnya. Sementara pasukan tentara atau polisi lalu lalang di halaman kantor Gubernemen kaphe Belanda di Kutaraja.

Maka haripun semakin gelap, umat Aceh tak pernah ketinggalan melaksanakan shalat magrib berjamaah, di masjid, di mushalla atau di Dayah, dan tak berapa lama berselang mereka pun menutup shalat hari itu dengan shalat Isya berjamaah pula. Ahmad, Abdul Kadir, Musa Ceubeh, Abdul Kahar dan Muhammad Bari mempersiapkan rencong dan pedangnya diasah setajam-tajamnya, agar sekali otong leher kaphe-kaphe Belanda itu langsung putus.

Malam pun mulai bergerak lamban, menuju jam 00.00 atau jam 24.00. Saat itu kapal-kapal di pantai pelabuhan Ulhe Leeuw membunyikan terompet kapalnya, orang-orang di seluruh Kutaraja meniup terompet dan sebagian Noni-noni Belanda melepas kembang api ke udara, persisperayaan tiga agama menyatu.Terompet Yahudi, Lonceng Gereja dan kembang api golongan Majusi. Agaknya, inilah kuasa kegelapan yang sedang merayakan kebodohan dan kedunguan dengan semeriah-meriah pesta. Dan hotel-hotel penuh dengan pasangan-pasangan dengan pikiran penuh mesum.

Nah lima sahabat yang memanjat pohon sore tadi, mulai mengelilingi negeri. Bila kaphe-kaphe Belanda mengadakan patrol, Ahmad, Abdul Kadir, Musa   Ceubeh dan lain-lain pun mengadakan aksi baris berbaris tepat jarum jam menunjukkan pukul 00.00 saat bunyi klakson kapal, kembang api,dan lonceng gereja berbunyi bersahut-sahutan. Di saat itu pula para jenderal, letnan, mayor jenderal dan tentara  rendahan membuka tutup vodka atau sampanye dan meminumnya sepuas-puas mereka minum. Rupanya seluruh tentara/ polisi patroli pun ikut minum dan mabuk dan sempoyongan mengitari negeri yang seakan-akan oleng oleh rasa pusing di kepala.

Maka usai latihan baris-berbaris dihutan pinggiran dekat ke Kutaraja, Ahmad , Musa Ceubeh dan kawan-kawan siap melakukan turun ke kota, melakukan serangan gerilya. 20 tentara yang baris berbaris ditandai oleh Musa Ceubeh dan kawan-kawan. Mudah saja mereka menandai mereka, Ahmad dan Musa Ceubeh sejak dari pohon tadi sore, memperhatikan gerak-gerik mereka. O, ini si A, ini si B dan itu si C.

 Tanggal 1januari 1895 itu pasukan Ahmad dan Musa Ceubeh mulai mengadakan  serangan mendadak ke Kutaraja, sementara peara jenderal, kapten, Letnan dan seluruh reakyat kaphe-kaphe Belanda sudah mabuk dan perlu istirahat dalam keadaan tak sadarkan diri. Saat itulah Ahmad, Musa Ceubeh menyerang mereka dan membunuh mereka satu persatu dengan pedang dan rencong. Akibat serangan tersebut, ratusan tentara dan  warga sipil kaphe-kaphe Belanda  dilaporkan tewas. Bahkan dari 20 pasukan baris-berbaris sore tadi,tingal satu yang hidup dan iamelarikan diri secepat kilat. Kaphe-kaphe Belanda yang masih merasakan kesadaran dan tak ikut mabuk karena kebanyakan minum, melakukan serangan balik, Namun serangan balik itu sangat tidak efektif. Karena lebih banyak tentara kaphe Belanda yang ikut tewas dan berkalang tanah di tanah-tanah yang mereka kuasai.

Anehnya terkait Snouck Hurgronye sempat mengelabui Habib Abdurrahman az-Zahir yang disebut difitnah oleh  segelintir orang, bahwa ia berpihak kepada Belanda.  Akan tetapi duduk persoalannya adalah, selama di  kota Jeddah, Snouck tidak melupakan misinya untuk juga mempelajari mengenai budaya Aceh, agama orang Aceh, bahasa Aceh , adat istiadat Aceh dan lain sebagainya mengenai Aceh.Selain itu  Snouck juga belajar  agama dan lain sebagainya sambil mengoreksi informasi tentang Aceh dari ulama Arab yang pernah mengunjungi Aceh dan tinggal di Makkah bernama Habib Abdoerahman Az-Zahir.

Terungkap bahwa, Snouck mengaku kepada Habib Abdoerahman bahwa dirinya ingin membantu orang Aceh melawan kaphe-kaphe  Belanda. Inilah agaknya yang menyebabkan  Habib Abdoerahman sepertinya mengkhianat rakyat Aceh dengan berpihak kepada Snouck.Habib Itam atau Habib Abdurrahman pun tergoda pula sepenuh hati membantu Snouck dalam misinya membantu orang Aceh,yang ternyata hanyalah penipuan pengkhianat besar itu kepada ulama yang berpikiran luas, sangat politis dan diakui keulamaannya oleh rakyat Aceh dan dunia internasional..

Memang, politik kaphe-kaphe Belanda penuh intrik, licik dan menghalalkan segala cara. Sehingga Habib Itam atau Habib Abdurrahman Az-Zahir pun tergiur ingin membantu Snouckyang mengaku membantu perjuanagan rakyat.

Di dalam buku catatan kecil Snouck Hurgronye, dimana  menceritakan di kota Jeddah ia berjumpa dengan seorang ulama besar Maroko yang mengajar kuliah di Makkah. Ulama  itu berinisial  Abdullah Zawawi pada titimangsa 14 September 1884. Abdullah Zawawi mengawal Snouck Hurgronye dengan lenggang  memasuki kota Makkah.


Selain kepada Abdullah Zawawi , Snouck juga belajar kepada Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan, ulama ahli dalam bidang sejarah. Dari sini Snouck belajar mengenai berbagai ilmu Islam. Lama Snouck belajar agama islam di kota suci mekkah , pada akhirnya di titimangsa  16 Januari 1885 Snouck bersyahadat di hadapan Qadi Jeddah, yakni ulama Isma’il Agha, disaksikan oleh orang dalam upacara pengisalamannya itu. Dengan penuh senang dan banggaSnouck Hurgronye  menulis sepucuk  surat kepada, Ignaz Goldziher. Snouck menulisbegini:

“Ihnen will ich nicht verhehlen (abber bitte keinem auch nurdie leisesye Andeutung daruber zun geben!!) dass ich mÖglich order vielmehr wahrscheinlicherweise demnächst nach Mekka übersiedele um dort einige Zeit Vorlesungen zu hÖren und im Verkher mit meinen schon zahlreichen mekkanischen Bekannten Belehrung zu suchen. Ich habe einen einfachen Weg gefunden, der mir insha’ Allah die Thore der H Stadt entschliessen wird. Ganz ohne ihzaar oel Islam geht dast natürlich nich.”

(Kepada Tuan guru Ignaz Goldziher - saya tak menyembunyikan, akan tetapi mohon secara hati-hati tidak membuka mengenai hal ini] bahwa saya mungkin  tak lama lagi akan pindah ke Makkah guna  mengikuti kuliah-kuliah di kota suci itu untuk  beberapa waktu. Dan dalam pergaulan dengan banyak orang Makkah kenalan saya, saya berusaha mencari pengajaran. Saya telah menemukan pintu gerbang Kota Suci itu. Tanpa sikap izharul Islam [menampakkan lahiriyah sebagai orang Islam] sudah tentu saya tidak mungkin berangkat).

Saat snouck  Hurgronye sukses  memasuki Masjidil Haram, Snouck pun  menulis surat lagi kepada Carl Bezold, yang menunjukkan sejati dirinya tak serius alias berpura-pura menjadi penganut agama  Islam. Sebagaimana surat di bawah ini:

“Die frage wiefen man in dieser accomodation gehen kann, sei jeder,amms privatsache, wie alle gewissensfragen. Solite aber wegen annehmung des muslimischen characters die glaubwürdigkeit und der werth des ehrenworts einer person in frage gestellt werden, so hatte ich in dieser beziehung berühmte genossen : Burchardt, Burton und monsieur Leon Roches, ministre plénipotentiare de la France en retarite welcher neulich in seinem ‘Trente deux ans á traves l’Islam’ beschrieben hat, wie er Nordafrika, Egypten und Arabien als Muhammedaner.”

(Pertanyaan sejauh mana orang dapat melangkah menyesuaikan diri merupakan urusan pribadi masing masing, sebagaimana semua masalah keinsafan batin. Namun karena penerimaan sebagai Muslim bisa dipercaya, dan nilai sumpah (syahadat) saya tidak dipertanyakan, maka dalam hal ini saya punya kawan termasyhur seperti Burckhardt, Burton dan Leon Roches, mantan menteri Prancis yang baru menulis buku ‘Trente Deux Ans A Travers l’Islam [Tiga Puluh Dua Tahun Menjelajahi Dunia Islam] bagaimana ia menjelajahi Afrika Utara, Mesir dan negeri Arab dengan menyamar sebagai seorang pengikut Muhammad).

Agaknya upaya Snouck ini tiada lain mengikuti jejak langkah Johann Ludwig Burckhardt (masuk  Islam di kota Kairo). Burton kemudian mengganti namanya dengan  Ibrahim Al-Mahdi dan Sir Richard Burton. Kedua orang yang disebut terakhir ini pun dengan tanpa halangan berarti menginjakkan kakinya di tanah suci berhasil masuk dan naik haji ke Makkah. Inilah penyamaran yang sempurna dari Ibrahim Al-Mahdi , Snouck Hurgronye dan Sir Richard Burton  dalam rangka menulis tentang Perayaan Haji  (RitualIbadah Haji). Sementara kecamuk perang di tahun baru 1895 telah menyisakan sejarah kaphe-kaphe Belanda yang sangat menyedihkan di seluruh daerah kekuasaannya di tano Aceh. Sehingga meniupkan rasa ketidaksabaran gubernur sipil dan militer kaphe-kaphe Belanda di Kutaraja yang ingin hengkang secepatnya dai tano Aceh. (Bersambung).

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...