25 February 2020

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (29

Episode 12                               
Semangat Jihad Semakin Membara
Bagian Pertama

 

12


Tewasnya JenderalJHR Kohler,  menciptakan kengerian yang dalam disetiap hati para tentara kaphe-kaphe Belanda. Tadi Aceh yang diremehkan oleh Gubernur Jenderal  James Loudon , Komisaris Pemerintah Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen, kepala bagian divisi  artileri George Frederik Willem Borel dan beberapa petinggi kaphe-kaphe Belanda yang petantang-petenteng menganggap bangs Aceh adalah ayam sayur yang mudah keok dalam satu pukulan.
Akhirya mereka sendiri menulis buku-buku tebal dan berpanjang-panjang berbeda pendapat ketika menghadapi bangsa Aceh yang ke-heroik-an (keberanian dan kegagah-beranian) mereka melebih bangsa manapun di Nusantara. Ini tak lepas dari peran Islam yang menjadi “Rebolusi mental” yang sesungguhnya bagi bangsa Aceh. Bahkan bangsa Eropa sendiri yang paling berani, masih jauh lebih berani bangsa Aceh, mereka bermain bersih, sportif, memegang sikap kesatria. Jauh berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa,yang sangat pengecut, licik dan menghalalkan segala cara.
Perhatikan kepala divisi altileri  George Frederik Willem Borel yang  menulis buku yang amat kritis mengenai kebijakan yang dijalankan selama Perang Aceh kedua, buku yang berjudul “Onze vestiging in Atjeh” kira-kira artinya “Koloni Kita di Aceh”, enak saja Borel bilang, Aceh sebagai Koloni Belanda. Buku itu diterbit dan berharap keadaan kaphe-kaphe Belanda di tano Aceh membaik (baca: dapat dengan mulus menguasai Aceh dan berada di bawah kangkangan mereka. Dan  baru diterbitkan pada titimangsa  1878.
Dan ditambah lagi, si gaek yang suka ngomong besar Van Swieten,  Panglima tertinggi dalam Perang Aceh kedua, juga menulisbuku  - tapi kenyataannya di lapangan hanya kekuasaan hampa belaka bagi kaphe-kaphe Belanda. Jan van Swieten menulis buku ‘De Waarheid over onze vestiging in Atjeh’ , Nah, setiappenulis kaphe-kaphe Belanda itu merasa bahwa Aceh itu adalah milik mereka. Apa maksudnya? Arti dari judul buku Van Swieten itu adalah “Fakta Tentang Koloni Kita di Aceh”.
Dalam dua buku itu, mereka saling tuding menuding.  Sebagaimana Van Swieten menulis  dalam epilog bukunya itu : “Drogredenen zijn geen waarheid” terbit pada titimangsa 1880.  Pada waktu itu polemikantara Borel dan Swieten itu disebut  “Perang Kertas”.  Kalau sekarang disebut “Perang Pena”, atau Polemik dan debat yang tak habis-habisnya. Persis perang kertas ini seperti nanti di hadapan Allah di padang mahsyar:” Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allâh memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. [al-Baqarah/2:166-167].
Mereka mengklaim Aceh milik mereka, dan itu tergambar dalam dua buku yang sangat sombong dan menyesatkan pikiran setiap rakyat negeri kaphe-kap;he Belanda itu. Jangankan seluruh Aceh, sejengkal tano Aceh saja mereka tak dapat menguasai dengan mudah. Darah dan airmata penyesalan mereka berbuncah-buncah keluar guna mendapatkan sekeping tanah Aceh yang bagaikan bara api yang tak pernah padam.
 Lalu Puja Syarma, Nadzilla, Zakia dan Hafsah berpencar melarikan diri ke dalam hutan, dengan cadar yang masih melekat mereka berjumpa di hutan Ujung Rimba, Pidie selama tiga hari. Mereka menerobos hutan belantara Pidie melewati  jalan yang berliku, tanjakan dan turunan di kawasan pegunungan Blang We, Jimjiem.
Di hutan ujung rimba, kelima wanita itu saling mengelompok di sekitar gua yang di dalamnya penuh nyamuk dan gelap. Selimut yang mengurangi rasa dingin mereka, mereka tarik lebih rapat lagi membungkus tubuh mereka yang lelah berperang dalam gerilya yang padat dan seakan perang tidak pernah henti. Sementara Van Heutz baru saja diangkat menjadi gubernur jenderal dan mencoba merangsek setiap pejuang Aceh yang tak pernah menyerah kepada kaphe-kaphe Belanda terkutuk itu. Hafsah, perempuan yang paling tua di situ, bercerita sebelum tidur.  
Kita di sini, digembleng seperti halnya mujahidin-mujahidin Aceh. Perang antara kaphe-kaphe Belanda melawan Muslim Acsh tidak lagi melihat jenis kelamin. Kita di medan perang adalah petempur yang diharapkan tangguh mengatasi segala masalah. Tidak cengeng dan mjudah mengeluh, terutama kepada suami, yang juga ikut terjun berjuang dihuan-hutan rimba Aceh.
Dalam mendengarkan cerita  Hafsah, Nazilah memegang-megang kain selimutnya dengan erat, tapi kupingnya terpasang sangat baik untuk menyerap apa yang diucapkan oleh gurunya, guru dalam perang, guru dalam pelajaran sekolah(dayah) yang ia terima sewaktu-waktu situasi aman. Bahwa perang di tano Aceh, tidak mengenyampingkan sekolah sebagai soko guru dari perjuangan dan perang untuk mengusir orang-orang kaphe yang ingin menguasai tanah kita.  
“Ya, bagi kaphe-kaphe Belanda, perang tidak lagi dilihat sebagai sebuah rambu-rambu yang jelas dimana tanaman, hewan, anak-anak, orang tua dan perempuan tidak boleh diusik. Bagi kaphe-kaphe Belanda, apasaja yang terlihat di depannya akan digilas dan dihancurkan. Dan busuknya, terhadap perempuan-perempuan ditano Aceh ini, mereka tak segan-segan memperkosa dengan nafsu bejatnya yang tiada terkira!” ujar Puja Syarma dengan lantang berapi-api. Walaupun Zakia mengingatkan Puja agar merendahkan suaranya agar jangan kedengaran musuh yang mana tahu ada tak jauh dari persembunyian kita.AKhirnya Puja Syarma merendahkan suaranya, demi menyelamatkan diri mereka yang tengah bersembunyi dan beristirahat di gua di hutan Ujung Rimba.
“Kaphe-kpaphe Belanda tak punya aturan dalam berperang, berbeda dengan orang islam, yang dalam perang pun diatur sedemikian rupa agar tidak memerang yang bukan haknya untuk diperangi. Karena itu, menghadapi politik menghalalkan segala cara kaphe-kap;he Belanda, kita siap dilatih sebagai tentara dan prajurit-prajurit gagah perkasa, seperti halnya, Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, Cut Meutia, Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan. Atau perempuan Aceh yang menjadi penguasa, (raja) seperti Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan Ratu Nahrasiyah. Kita adalah bangsa besar, karena perempuan-perempuan Aceh telah memperlihatkan kebesaran mereka sepanjang sejarah yang panjang.”Tutur Hafsahyang suami pertamanya syahid di daerah Matangkuli , Minye Tujoh,Aceh Utara .
“Maka bagi bangsa Aceh, jangankan kaum perempuan, bayi-bayhi perempuan sudah diajakberperang dengan didendangkan lagu dodoi sidodoi” Sela Nazilah bersemangat.
Lalu Puja Syarma menyanyikan lagu penidurkan anak Aceh yang penuh semangat itu, di malam yang dingin itu:
buah hatiku
junjungan jiwa
buah hatiku
junjungan jiwa
tidurlah tidur ya anak
ibu dodoikan ya sayang
tidurlah tidur ya anak
ibu dodoikan ya sayang
dodoi si dodoi
aaa aaa
dodoi si dodoi
janganlah anak suka menangis
janganlah anak suka menangis
ayahmu jauh ya anak
di medan perang  ya sayang
ayahmu jauh ya anak
di medan perang  ya sayang
dodoi si dodoi
aaa aaa
dodoi si dodoi
tidurlah anak
dalam ayunan
tidurlah anak
dalam ayunan
cepatlah besar ya anak
ikut berjihad ya sayang
cepatlah besar ya anak
ikut berjihad ya sayang
dodoi sidodai  
dodoi si dodoi
janganlah anak
suka menangis
janganlah anak
suka menangis
ayahmu jauh ya anak
di medan perang ya sayang
ayahmu jauh ya anak
di medan perang ya sayang
dodoi si dodoi
aaa aaa
dodoi si dodoi

Semangat lima perempuan Aceh itu bertambah semangat lagi untuk terus berjuang, mendengar lagu yang didendangkan oleh Puja Syarma.

“Ya, mudah-mudahan , perang  Aceh yang lama ini, kita-kita kaum perempuan Aceh mempunyai andil yang besar dengan belum berakhirnya perang ini. Kaphe-kaphe Belanda akan selalu kewalahan jika perang tak pernah usai. Justru jika negeri aman, akan menguntungkan mereka.Tapi jika negeri berada dalam situasi perang terus, akan menguntungkan kita, terutama perempuan-perempuan Aceh.”Ujar Hafsah menyemangati anak buahnya.
“Betul sekali kak Hafsah, adanya Cut Nyak Dien, Cut Meurah Intan, Cut Meutia dan masih banyak lagi, menjadikan perang Aceh terus berkepanjangan. Dan mudah-mudahan kita termasuk didalamnya. (Bersambung)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...