23 April 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (27

Episode 10                                     

Semangat Jihad Semakin Membara

Bagian Pertama

10

 

Semangat kaphe-kaphe Belanda membangun transportasi Kereta Api pada awalnya adalah membangun benteng-benteng berjalan. Bila benteng-benteng ini ditembak atau diserang oleh para gerilyawan mujahidin Aceh, tentara kaphe-kaphe Belanda di dalamnya yang berlindung dari balik besi baja tak akan dapat dicederai. Jangan dikira pembangunan Kereta Api beserta relnya di Nusantara, terutama Jawa dan Sumatera, dimaksudkan untuk membangun transportasi rakyat, mengembangkan  perekononian dan membangun armada yang praktis membawa banyak penumpang dari satu kota menuju yang lain dengan tiket murah. Kereta api itu dibangun untuk memperkuat cengkeraman penjajahan di berbagai sudut negeri di Indonesia, dan khususnya di Aceh adalah menghadapi gerilyawan yang sangat berani duel tanding satu lawan satu dengan memakai pedang. Perang tanding jarak dekat bagi gerilayan Aceh adalah satu keuntungan karena para mujahidin Aceh memiliki ilmu silat serta rateb-rateb pelindung diri dari bacaan ayat-ayat Al-Quran, seperti Ya Hayyu ya Qayyum yang wajib sehari semalam 1000 kali. Membaca al-Quran satu juz sehari, bershalawat dan berdoa dan terutama membaca : Laailaaha illallah Muhammadurrasulullah fikullilamhatin wanafasin ‘adada mawasi’ahu ilmullah “ bagi pengikut Syekh Ahmad Ibnu Al-Sanusi dari jabal-Qubays, Mekah menjadi benteng yang sangat kuat bagi ketangguhan pribadi setiap orang Aceh. Setelah melafalkan Laailaaha illallah Muhammadurrasulullah fikullilamhatin wanafasin ‘adada mawasi’ahu ilmullah, maka ia terus mengulang kalimat utama “Laa Ilaaha Illallaah" dari pagi sampai malam terus berulang-ulanghingga tiada satu menitpun waktu lupa kepada Allah.

Untuk mendapatkan ketenangan dalam perang fi sabilillah, mendapatkan  rasa aman dari siksa   Allah Swt. Baik di dunia apalagi di Akhirat, setiap Muslim  hendaknya mengucapkan kalimat"Laa Ilaaha Illallaah" dengan penuh keyakinan, ikhlas, beri'tikad akan keagungan Allah  dan mengenal (ma'rifat) kepada Allah. Jika kita sudah mengenal siapa Allah, maka akan mengerti  tujuan  dan untuk apa mengucapkan kalimat "Laa Ilaaha Illallaah" dengan cara yang sangat khusyu', Masuklah  ia ke dalam benteng pertahanan milik Allah Swt,  yaitu benteng dari segala benteng. 

 

Itulah yang dilakukan para mujahidin di kota Sigli,yang pada yang pada masa Pemerintahan Belanda mempunyai  satu stasiun kereta api terbesar di tano Aceh. Roda-roda kereta api yang menggilas rel-rel sejarah perkereta-apian ditano Aceh ini, penuh darah dan airmata.  Para pekerja paksa yang didatangkan dari Jawa dan kota Medan, berjemur terik matahari  yang sangat panas. Banyak yang mati karena kelaparan – mereka bekerja membangun rel-rel kereta api itu tak digaji, karena mereka dihukum sebagai kriminal, para pembunuh, pemerkosa, para perampok yang dikurung di penjara-penjara di pulau Jawa.lalu untuk membangun  rel-rel kereta api dari  Padang Tiji ke kampunng Trieng, mereka dipaksa membangun rel-rel itu anpamdiberi makan dan diberi gaji. Akhirnya penderitaan para bromocorah (pejahat kelas berat) diJawa itu banyak yang mati seperti anjing yang tergeletak membangkai di tepi-tepi jalan. Orang-orang Aceh lalu diperintah kaphe-kaphe Belanda untuk mengubur mayat-mayat yang sudah membusuk itu, dan dikasih uang sekedarnya untuk sekedar mengucapkan terimakasih.

 Dari bentangan rel kereta api yang menjadi alat penekan kekuasaan penjajah kaphe-kaphe Belanda terhadap bangsa Aceh itu, terlihat indahnya gunung Seulawah.  Perlu diketahui bahwa  daerah  Leuhob –Trieng - Padang Tiji, adalah pusatnya aktivitas perkereta-apian Indonesia untuk jalur Sigli-Banda Aceh yang dibangun oleh Departemen  van Oorlog, sebuah kementerian dalam pemerintahan kaphe-kaphe Belanda di Indonesia.

Di kiri-kanan  terlihat bentangan  hutan yang lebat dan beberapa tanah yang terluka dibabat para pekerja  kaphe-kaphe Belanda. Dan jika orang-orang Aceh naik kereta api, mereka tak mengatakan naik kereta api. Tapi naik “Atjeh Tramp”, itulah nama angkutan umum milik kaphe-kaphe Belanda yang difungsikan untuk umum pada 1898, dua puluh dua (22) tahun setelah kereta pertama dibangun dari Ulee Lheue ke Kutaraja, tepatnya pada titimangsa 1876. Gerbong yang hitam kelam oleh asap batu bara untuk menghasilkan tenaga uap itu, saat melintasi jembatan di atas Krueng Peuet Ploh Peuet (Sungai yang bercabang banyak dan beraliran  deras diserang oleh mujahidin-mujahidin Aceh dengan lemparan batu, tembakan senjata dan tentu saja, jadi gila jika ada dari para mujahidin yang membancok gerbong besi atau lokomotif yng sangat berisik itu dengan pedang, atau menikamnya dengan rencong.

Saat para mujahidin menyerang “Atjeh Tramp”,  para tentara kaphe – kaphe Belanda di dalam gerbong ada  yang terluka. Tapi para mujahidin banyak yang berjatuhan karena ditembak dari jendela gerbong “Atjeh Tramp”. Dan kereta “Atjeh Tramp” itu terus berlari mengejar stasiun  di depannya. Itulah benteng berjalan yang difungsikan pemerintah kaphe-0kaphe Belanda untuk mempertahankan kekuasaannya di tano Aceh. Dari jatuhnya banyak korban mujahidin Aceh, barulah mereka kembali sadar, bahwa mereka banyak lupa kepada Allah,ingat guru Mursyid mereka, Syekh Mujab atau Syekh yang lain yang selalu mengingatkan agar tetap menghubungkan ingat (dzikir) kepada Allah Swt. Akan ada banyak keajaiban yang kalian rasakan , bila dalam perang kalian mengucapkan kalimat “Laailaaha  illallah”,  tentu akan merasa aman dari serangan musuh serta marabahaya, apabila seseorang  dapat masuk ke dalam satu benteng pertahanan yang sangat kokoh serta kuat, dan itu tidak dapat diragukan lagi akan kebenarannya. 

Setiap pejuang fisabilillah Aceh haruslah lebih banyak  mendzikirkan kalimat tauhid "Laa Ilaaha Illallah", dibaca  dengan penuh pengertian, tadabbur, renungan yang lebih mendalam juga siap sedia melaksanakan kewajibarn- kewajiban-Nya dan juga meninggalkan semua apa yang dilarang-Nya. Kalimat itu  jelas  mengandung  makna yang dalam bahwa  siapa- pun di antara manusia  tidak boleh menyembah kepada sesuatu selain Allah,  tidak boleh mengharapkan kepada sesuatu selain Allah, dan tidak boleh berpegang teguh kepada sesuatu  selain Allah. Begitu tegasnya perintah kepada mujahidin-mujahidin Aceh untuk selalu mengucapkan dzikir utama ini, hingga nabi Muhammad Saw pernah mengucapkan kepada para sahabat: Anak kunci surga itu ialah sebuah ikrar (pernyataan) bahwa  Tuhan hanyalah Allah".

 Setiap pagi, para pekerja paksa bekas kriminal itu disuruh  berbaris dan oleh komandan yang memerintahkan berbaris itu menghitung satu persatu dan menyebutkan nama. Mulai dari nama Bajornet, Paijo, Muneb, Loranso, Pipay, Jon Lilypaly dan masih banyak lagi. Mereka diperintah berbaris rapi, berdiri tegap dan kalau tak mampu berdiri tega, punggung mereka dilecut dengan pelecut kuda. Tentu saja orang lapar, kurus dan tak makan itu akan sulit berdiri tegak.Tapi komandan  (pengawas) pembangunan kereta api itu memaksa mereka untuk berdiri tegak.Tiba-tiba satu orang rubuh seperti rubuhnya pohon pisang yang sudah tua. Komandan itu mendekati pekerja yang rubuh itu dan melecut punggungnya. Tapi tubuh itu terus bergetar dan kemudian diam untuk selamanya. Mungkin pekerja itu sudah sakit dari beberapa hari yang lalu. Tiap malam tubuhnya kedinginan yang tidur tanpa selimut. Ketika dipaksa berbaris rapi dan berdiri tegak, itulah yang terjadi. Akhir dari segala kejahatan kaphe-kaphe Belanda terhadap pekerja paksa yang diseret untuk  membangun jalan kereta”Athjeh Tramp”.   

 Di bawah siraman terik matahari. Apakah pekerja yang masih tersisa (yang masih hidup)  sudah sarapan atau belum? itulah yang dipikirkan oleh seorang anak muda Aceh yang tiba-tiba jatuh kasihan pada pekerja-pekerja yang tak dihargai sama sekali oleh komandan-komandan militer di lapangan itu.  Namun ia tak bisa berbuat banyak dan terpaksa pasrah membiarkan saja penderitaan itu menghinggapi para pekerja yang malang itu. Dan diantara pekerja itu ada juga sedikit orang Aceh yang diculik (diambil)dari Singkil, dari desa-desa di Sibahorok (Tapanuli),dari Siak (Riau) dan lain sebagainya.  

         .Jalur kereta api Aceh awalnya   dioperasikan pada 1876 mengambil rute  ``Koetaradja-Ulee Lheue.Pengadaan Kereta Api itu  hanya bertujuan memobilisasi kekuatan militer kaphe-kaphe Belanda.  Delapan tahun kemudian  dibuka  pula  jalur Indrapuri-Lambaro.   Koetaradja-Lamnyong empat tahun kemudian.

menyerbu dan perangpun berkecamuk Perkelahian satu lawan satu terjadi. Korban berjatuhan dikedua belah pihak. Setelah bertempur dua jam , Sidi mahmud, Ahmad Gapuh, Rzali, Mukaramdan puluhan mujahidin lain  mundur dan semua mujahidin Aceh   ditarik  ke hutan yang ada di sekitar Pidie. Sidi Mahmud  terpaksa kabur karena itulah jalan terbik, daripada musnah  ditembaki tenara kaphe-kaphe Belanda yang bersenjata lengkap dan jumlah yang lebih banyak, mundur teratur adalah  solusi terakhir yang dsapat menyelamatkan mujahidin-mujahidin Aceh..

Hujan badai turun setelah pekerja jalan kereta api itu tewas pagi tadi. Para pekerja bercerita bahwa malam itu merupakan  malam yang sangat  menyengsarakan sepanjang hidup mereka. Meskipun mereka mendirikan tenda-tenda kecil dan berlindung dari dinginnya malam,  seorang pekerja meratapi nasibnya,dan berkata: Jika Belanda itu sebentuk manusia biasa, akan ia habisi  sampai anak cucu mereka  musnah di negeri ini. Dan akhirnya satu persatu pekerja paksa guna membangun rel-rel untuk wilayah Aceh itu mati satu persatu, disebabkan penyakit, kelaparan dan tidak kuat menanggung beban hidup  yang sangat berat. Penjajahan memang tak menyisakan setitik kesejahteraan bagi bangsa yang dijajahnya. Kalaupun ada janji-janji dari kaphe-kaphe Belanda untuk memakmurkan negeri, janji itu akan tinggal janji. Tapi realisasinya tak akan pernah menjadi kenyataan. Jangan percaya dengan janji-janji penjajah!!! (Bersambung)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...