10 December 2019

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (26

Episode 9                                        

Semangat Jihad Semakin Membara

Bagian Pertama

9

 

Seorang India, Muhammad Bhagwandas tiba-tiba memainkan sulingnya di tengah hutan di pegunungan Gunung Bateekeubeu, Aceh Tengah. Para mujahid tibat-tiba ikut menari bersama ular yang tengah menari di tengah lapang sempit di kaki gunung Bateekeubeu yang dingin. Bhagwandas berada di depan ular kobra miliknya. Sampai sekarang belum pernah ada marsose atau tentara kaphe-kaphe Belanda sampai ke kampung ini. Karena itu Bhagwandas yang cuti dari pekerjaannya sebagai mujahidin Aceh, menghibur diri dan sahabat-sahabatnya di kaki gunung Bateekeubeu yang hutan-hutannya lebat dan banyak binatang hutan di sini. Seperti monyet, beruang, harimau, Macan Dahan, Kukang, Orang Hutan , Siamang, Kedih atau Reungkah, Kambing , burung rangkong dan masih banyak lagi.

Saa itu pada titimangsa 12 Maret 1893, Muhammad Bhagwandas bersitirahat bersama teman-teman seperjuangannya seperti Ahmad Ceubeh, Tandi, Gapeuh, Geumpa,Gapil, Sidi Mahmud dan Bintang. Saat ular kobra menari-nari disertai suara seruling yang ditiup Bhagwandas, Geumpa,Gapil, Sidi Mahmud pun menari-nari mengikuti tarian ular kobra itu. Ular kobra itu  bergerak ke kiri kan ke kanan mengikuti alunan nada suling yang ditiup Baghwandas. Sementara  Ahmad Ceubeh, Tandi dan Bintang menyiapkan makan pagi dan kopi untuk mereka bersama. Ular kobra  itu terus menari-nari sembari sahabat Bhagwandas terus pula menari, mengenang Baghwandas dan Geumpa membunuh selusin tentara kaphe-kaphe Belanda di sebuah lembah di Takengon. Saat itu, pecah pertempuran di Kute Nireje. Tujuh mujahidin Aceh bertempur bersama 12 tentara kaphe-kaphe Belanda.

Pertempuran itu begitu sengit, sesengit ular kobra menari bersama Geumpa,Gapil, Sidi Mahmud mengikuti bunyi seruling Baghwandas. Baghwandas dan Geumpa mencari tempat perlindungan yang tersebunyi di balik pohon Bunga Jeumpa di Kute Nireje. Dari balik pohon Bunga Jeumpa itulah, Baghwandas dan Geumpa menembak delapan tentara kaphe Belanda dengan sengitnya. Setelah 8 orng ditewaskan oleh Baghwandas dan Geumpa, barulah mereka keluar sarangnya. Pohon Bunga Jeumpa ditinggalkan. Kini mereka berhadapan satu lawan satu dengan  kaphe-kaphe Belanda.Sedang yang dua orang lagi berhadapan dengan Sidi Mahmud dan Ahmad Ceubeh. Perlawanan satu lawan satu kini berlangsung seru.  Satu persatu musuh bangsa Aceh turoboh dan tak bangun lagi. Sementara Geumpa,Gapil, Sidi Mahmud terus menari, mengikuti irama seruling yang ditiup Baghwandas dengan asyiknya. udara dingin terasa hangat. Tak lama kemudian datang 7 cangkir kopi dan 7 piring nasi hangat lengkap dengan lauknya. Usai mereka menari dan mengucurkan keringat pagi, disirami sinar mentari- barulah Baghwanda menghentikan bunyi serulingnya, dan ular itupun kembali meluruh mengambil posisi semula di dalam kotaknya. Seperti meluruhnya Geumpa,Gapil dan  Sidi Mahmud. Kopi panas yang tersedia yang mengepulkan asap uap dari mulut gelas mereka ‘serup’ dengan lezat sekali. Inilah kopi Aceh yang lezat dan tak  ada duanya di dunia.

 

Tiba-tiba saat minum kopi, Baghwandas bertanya kepada tiga penariyang ikut meramaikan tari ular itu. Baghwandas bertanya: “Apakah Ular itu menari karena mendengarkan suara seruling?”

Tidak ada yang bicara,semua terdiam.  Tiba-tiba Sidi Mahmud bicara: Ya, saya kira ular kobra itu menari karena mendengarkan suara sulingmu Baghwandas.

Baghwandas terdiam, lalu bicara lagi. Masih ada yang mau menjawab?

Geumpa pun buka mulut: Ular Kobra itu menurutku hanya mengikuti nalurinya saja menari.Selama ini saya tak melihat ada kuping (telinga) ular di bagian manapun di kepalanya. Jawab  Geumpa.

Lalu Muhammad Baghwandas pun bercerita panjang lebar:

Ular adalah binatang yang tak memiliki kuping. Tapi ia punya mata. Sedang lidah ular kobra (lidah ular apapun) berfungsi  sebagai indera guna mencari  mangsa. Nah, ketika ular menari-nari meliuk-liukkan badannya ke kiri dan ke kanan, ular kobra tak mengikuti suara seruling yang aku keluarkan lewat tiupan dari mulutku. Tapi mengikuti pergerakan suling yang ada di tanganku. Suling yang digunakan olehku sebagai pawang  ular adalah  musuh baginya. Perhatikanlah ketika aku memainkan suling, ular kobra berusaha mematuk  suling bambu  yang aku mainkan.  Itu kesimpulannya, bahwa ular tak mendengar suara sulingku, tapi denan matanyaia mengikuti gerakan-gerakan suling yang aku gerakkan ke kanan dan ke kiri.  

Lantas mereka menyantap nasi dan lauk sarapan bagi pagi yang telah dihidangkan oleh yang bertugas pagi itu. DI saat tengah makan itu, Baghwandas membuka pembicaraan tentang bagaimana Tarekat (tasawuf) menjadi ujung tombak perlawanan kaum sufi terhadap penjajah kaphe-kaphe Belanda.

Begitu besar pengaruh tarekat terhadap proses mengislamkan Nusantara dibawah bimbingan para wali-wali Allah diseluruh bagian manapun di Nusantara. Sebuah  temuan sejarah mutaklhir mengatakan: sebenarnya Islam sudah masuk ke Nusantara pada titimangsa abad ke-7,itu terjadi di Aceh – tepatnya di Samudera Pasai. Sedang di pulau Jawa, secara resmi Islam menyebar pada titimangsa abad ke  11 M. Apakah dengan serta merta mampu mengubah pola pikir  dan keyakinan (agama) masyarakat di Nusantara?  Waktu itu walaupun Islam telah dianut orang-orang pedalaman di pulau Jawa, secara praktek agama Islam lebih banyakdijalankan para pedatang (perantau Arab dan Cina Muslim) yang hidup di daerah-daerah pantai dimana banyak terdapat pelabuhan. Kota-kota antai saat itu yang  terkenal adalah Banten, Jayakarta, Cirebon, Indramayu, Semarang dan Leran (Gresik).  

Barulah datang sebuah era baru di Nusantara, yaitu pengisalaman secara menyeluruh, massal dan itu disebabkan karena rakyat mengikuti rajanya yang berprosesi memasuki agama Islam dengan ritual dan seremonial yang menarik hati. Karena ada banyak keuntungan di situ, baik keuntungan duniawi maupun keuntungan ukhrawi. Dan proses Islamisasi rakyat Nusantara itu setelah usainya perselisihan antara para ulama tarekat yang dianggap terlalu tinggi tingkatan pemahamannya, sehingga oleh para ulama fikih, ulama tasawuf (lebih dikenal dengan tasawuf falsafi) dianggap tak sesuai dengan ajaran islam , sehingga dianggap menyimpang.   Adalah lahirnya sebuah teori keseimbangan (equilibirium) antara berbagai unsur, diantaranya unsur Akhlak, Syari’at, dan unsur terakhir yaitu Filsafat di Baghdad, Kairo dan Kordova (Spanyol atau lebih dikenal dengan Andalusia)..

Maka dalam semangat keberagamaan masyarakat Nusantara,  selain banyak  dibangun masjid yang indah dan lebih maju dari rumah ibadah agama sebelumnya, juga bermunculannya pusat-pusat pengajaran tasawuf yang dipimpin oleh para guru mursyid terkemuka seperti Syeikh Abdul Rauf al-Singkili,  Syekh Burhanudin Ulakan, Syekh Abdul Muhyi pamijahan, Syekh  Maulana Yusuf al-Makasari, Sykeh Abdul Samad al-Palimbangi, Syekh Nawawi al-Bantani dan masih banyak lagi.  Gerakan Tasawuf di Nusantara pada abad ke 14 dan 15 sangat banyak peminatnya -  karena menjadi tempat penggodokan spiritual dan menjadi “kawah candradimuka” untuk membina lahirnya seorang da’i yang mumpuni, atau pedagang yang teruji,  sarjana atau penulis yang pintar dan berwawasan luas, juga politikus  atau semacam raja yang dididik secara ketat  dalam pesantren sebagai tempat “Workshop” yang teruji dan terkenal banyak melahirkan produk anak didik yang sukses dalam kehidupan.

Nama-nama pendiri kelompok-kelompok Tarekat atau tasawuf sangat terkenal di Nusantara  pada  saat itu. Banyak orang-orang pada saat itu,yang baru berpindah dari agama Hindu atau Budha mencita-citakan mengunjungi kota Mekah dan Madinah, serta mengunjungi makam-makam yang dianggap orang yang sangat berjasa dan mendapat pahala yang besar dan berlipat ganda untuk kepuasan dalam menjalankan agama yang memang diperintah oleh sang Khaliqnya.  Maka selain banyak orang-orang mengunjungi Mekah dan Madinah dan berziarah ke makam Nabi Muhammad, mereka sangat tertarik mengunjungi makam  Syekh Abdul Qadir Al-Jilani (wafat 1166 M), yang menjadi dasar Tarekat Qadiriyyah. Sebagian setelah mengunjungi makam  nabi,  mereka mengunjungi makam  Syekh Najmudin Kubra (wafat 1221 M), sufi Asia Tengah (Sekitar Azerbaijan, Khazakhstan dan Uzbekistan.  Masih banyhak aliran tarekat yang sangat berpengaruh di Nusantara pada zaman itu seperti tarekat Syadziliyah, mereka mengunjungi makam Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili (wafat 1258), di Maghrib (Marokko). Kemudian Tarekat RIfi’iyyah , para pengikutnya yang fanatik mengunjungi makamnya di Basrag (Irak). Pendiri tarekat Rifa’iyah adalah Ahmad Ar-Rifa’i (wafat 1320). Ada hal menarik dari sykeh Ahmad Rifai ini, yaitu ketika berjumpa  seorang wali bernama Syaikh Abdul Malik Al-Kharnubi, dimana Ahmad Rifa’i   diberi pelajaran berupa sindiran: 

"Orang yang berpaling.. dia tiada sampai. 

Orang yang ragu-ragu.. tidak mendapat kemenangan. 

Barangsiapa tidak mengetahui waktunya kurang..maka semua waktunya telah kurang."

 

Satutahun sindiran itu selalu diulang-ulang oleh Sykeh Rifa’I, kemudian saat  berjumpa kembali Syskh Rifa’i kembali meminta nasehat kepada Syekh Abdul Malik Al-Kharnubi  dan diberimkalimat Ini:

"Sangatlah keji kejahilan bagi orang-orang yang mempunyai Akal. 

Sangatlah keji penyakit pada sisi semua dokter. 

Sangatlah keji sekalian kekasih yang meninggalkan Wushul." 

 

Syekh Ahmad Rifa'i dikenal sebagai rujukan  ilmu tarekat di jamannya, karena ia dianggap memiliki ilmu hakikat yang tinggi dan sebagai wali qutub yang agung  sesudah zaman Syekh Abdul Qadir  Al-Jailany. Ke mana pun Syekh Ahmad Rifa’I  pergi, para pengikutnya selalu mengikutinya. Karena itu, para pengikutnya dikenal dengan sebutan "Al-Thaifah Al-Rifa'iyah".

Dan ini kata-kata yang terkenal dari Syekh Ahmad Rifa’I, terkait adanya manusia yang memutuskan hubungan kepada selain Allah lari dari segala sesuatu kepada Allah dan menninggalkan apapun selain Allah, begini sya’ir  Sykeh Ahmad Rifa’i: :

 

Bagaimana kalian bisa bergembira sedangkan hidup adalah kesedihan

Bagaimana kalian bisa ridha sedangkan Al-Anaam (sang pencipta murka).

Wahai yang menjadikan antara aku dan kehidupan

Dan menjadikan antara aku dan alam kehancuran

Jika Engkau meneriakkan cinta, maka semua menjadi hancur

Dan semua yang ada di atas tanah menjadi debu.

 

 

 

Dan tak kurang pula lahir tarekat baru pada titimangsa  abad ke  14  yaitu Tarekat Naqsyabandiyyah . Didirikan oleh Syekh Muhammad Bahauddin An-Naqsyabandi (wafat 1389) di Khurasan . Terakhir Tarekat Syatariyyah , didirikan Syaikh Abdullah Asy-Syaththari (wafat 1428 M). Ini merupakan tarekat-tarekat klasik , kecuali tarekat Syaziliyah yang dikenal sebagai tarewkat Moderen.

Semua tarekat yang disebutkan di atas   menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia (nusantara).  Tarekat-tarekat itu di Indonesia dianut di negeri ini secara massal dan menyeluruh oleh segenap rakyat di Indonesia pada titimangsa abad 17 dan 18. Itulah puncak kejayaan pengamalan tasawuf dalam organisasi Tarekat yang beragam alirannya itu. Di Indonesia sekarang ini  terdapat  tidak kurang dari 44 tarekat yang  tersebar di seluruh Indonesia. (Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...