23 April 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (23

Episode 6                                        

Semangat Jihad Semakin Berkobar

Bagian Pertama

6

 

Pendidikan di Nusantara, sudah cukup mumpuni  menghasilkan para sarjana yang kreatif dan subur serta beritegritas internasional di bidangnya. Sebut saja di Sumatera Selatan, lahir  sarjana berintegritas internasional yang bernama Syekh Abdul Shamad al-Palimbangi. Di Banten pun lahir pula  sarjana internasional, Syekh Nawawi Al-Bantani.Keduanya menghasilkan buku-buku yang dipakai oleh umat islam di seluruh dunia.  Di Aceh sendiri, lahir sarjana agama,  tetapi memiliki ilmu paripurna, dibanding sarjana  yang  telah diceritakan di atas.  Sebut saja, Syekh Hamzah Fanshuri, Syekh Syamsudin Al-Sumatrani, Syekh Abdul Rauf al-Singkili, Syekh Nuruddin Ar-raniri. Selain mereka sebagai ulama, mereka juga dikenal sebagai pemikir, penyair, sastrawan, ahli debat dan penulis(pengarang). Di zaman kaphe-kaphe Belanda, pendidikan  di tano Aceh , menghasilkan Cik Ditiro. Sarjana lulusan Dayah (Pesantren)di Aceh ini berhasil menjadi ulama terkemuka, pemimpin perang, pemimpin politik (Ahli strategi) , da’i,  guru bahkan pedagang sekaligus.

Lalu apakah kurangnya pendidikan Nusantara yang telah menghasilkan banyak sarjana, baik hasil pendidikan di dalam negeri (pesantren baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, sampai ke Sulawesi) atau hasil pendidikan Asia Barat / Timur Tengah) seperti Mekah, Kairo dan lain sebagainya?. Sementara ada seorang putra Aceh yang diambil oleh pemerintah kaphe Belanda. Anak ini apakah ia diculik atau memang diserahkan oerangtuanya yang berasal dari kaum elit (Hulubalang:baca: Uleebalang)yang disekolahkan di Sekolah Belanda. Setamat sekolah setingkat SLA (Mulo) di Hindia Belanda, dia disekolahkan ke negeri Belanda. DI negeri Belanda, putra Aceh berkulit coklat ini dididik secara Belanda, diajar bahasa Belanda, disuntikkan jiwa Belanda. Setelah ia berhasil menjadi seorang yang terdidik dengan jiwa Belanda, lalu ia dikirim ke Tano Aceh, untuk melawan bangsa Aceh. Karena ia anak Aceh asli, ia juga sangat fasih bahasa Aceh, bahkan adat istiada Aceh, hubungan kekeluargaan bangsa Aceh.   Itulah sebabnya gelar penipu besar, Snouck Hurgronje lekat ke dirinya. Dialah yang bernama Schmist. Kadang nama  ini juga disebut Schmidt, pada lain waktu saat pertempuran melawan Potjut Mirah Gambang di Tiro tahun 1910. 

Schimist adalah orang Aceh bentukan Belanda yang sangat paham soal Aceh. Dengan pengetahuannya bahasa dan adat istiadat Aceh, ia menjadi perwira Belanda yang bisa bergaul secara bebas dengan masyarakat Aceh. Apalagi ditopang dengan pembawaannya yang tenang dan sikapnya yang terkendali. Zentgraaff menceritakan, Schmist itu adalah putra Aceh yang sejak kecil . Ia diasuh serta  disekolahkan kaphe-kaphe  Belanda hingga  ke negeri Belanda. Dengan pendidikan semacam itulah kaphe-kaphe Belanda mampu menyulap seorang putra asli  Aceh menjadi orang Belanda tulen yang sangat faham apa dan bagaimana  tentang Aceh.

Namun walaupun dikenal sebagai tentara Belanda  berkulit coklat,  Schmist tak diterima sepenuhnya dalam pergaulan masyarakat Aceh. Schmist  yang dipusingkan oleh terbunuhnya setiap hari anak buahnya di Jeuram dan Seunagan serta Beutong, lalu mengutus mata-mata untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan itu.  Ternyata, di daerah tersebut Schmist berperang menghadapi pasukan Teungku Puteh. Tetapi sebagaimana perang modern dan maju serta canggih di zaman itu, Schmist yang memiliki mata-mata, Teungku Puteh juga memiliki mata-mata. Teungku Puteh punya seabreg mata-mata untuk menyusupke komplek militer kaphe-kaphe Belanda, semacam bivak, atau kamp militer sampai pos-pos pertahanan  kaphe Belanda di daerah itu.

Dua pentolan perang di Aceh barat ini saling mengirimkan mata-mata ke lapangan. Inilah perang spionase yang cukup sengit  terjadi di tano Aceh.   Diceritakan bahwa  Schmist punya banyak mata-mata di sekitar Teungku Puteh. Begitupun sebaliknya, Tengku Puteh  pun memiliki  banyak mata-mata yang menguping tentang  rencana dan siasat Schmist.

Maka dalam situasi panas, curiga-mencurigai dan saling memata-matai, pecahlah perang kelewang antar pasukan kaphe-kaphe Belanda lawan pasukan Teungku Puteh.Mata-mata sekaligus tentara, tentara sekalian mata-mata dan siap bertumpahan darah bila masing-masing mengalami shock yang begitu hebat, karena  kekecewaan, kecurigaan dan  saling mendahului dalam melakukan aksi, sebelum didahului oleh pihak musuh. Maka perkelahian satu demi satu enam serdadu itu mengalami hal yang fatal bagi tentara Schmist. Ketiga tentara Schmist yang mewakili kaphe-kaphe Belanda tewas di tangan mujahidin anak buah Teungku Puteh. Teungku Puteh dikenal sebagai panglima yang memiliki kekuatan mistik, tetapi Schmist pun mempunya ilmu mistik.Ilmu mistik siapakah yang hebat dan kuat dalam perseteruan antara dua kekuatan di Jeuram, Seunagan dan Beutong?    Perkelahian yang mendirikan bulu roma itu telah usai. Mayat 3 kaphe-kaphe Belanda dengan luka menganga di bagian kepala dan tubuhnya bergelimpangan.Schmist tak segera menengok anak buahnya yang tewas. Agaknya ia takut pula menyusul tewasnya anakbuahnya.   Lalu satu peleton bantuan dari Kutaraja menyisir tempat perkelian di Seunagan itu, tentara bantuan itu mengambil dan mengevakuasi tigamayat sahabatnya yang tewas. Sementara tak satupun tentara mujahidin Aceh mereka kelihatan di situ. Tetapi pasukan kaphe-kaphe Belanda itu merasa ada sesuatu yang menakutkan. Segera mereka berlalu dari tempat  itu dengan membawa tiga mayat teman mereka.

 

Cara mendapatkan mustika Rantai Babi atau “rante bui”  sangat sulit untuk dijelaskan. Fungsi benda pusaka yang aneh ini disebutkan untuk  memperkuat kharisma bagi panglima perang, sehingga ia terasa  berpengaruh besar dan tak ditentang atau dikhianati bawahannya, serta ditakuti dan disegani kawan dan lawan. Bisa  juga digunakan sebagai alat kebal senjata. Akan tetapi pemakaian “rante bui” ini dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu tradisi non hikmah. Inilah yang disebut sebagai ilmunya para ahli tasawuf dalam jalannya kaum Tarekat. Ini terbukti dari pengakuan Zainal Abidin, seorang keturunan Chik Ditiro dalam sebuah wawancara dengan koan Sinarpidie yang dimuat di Koran tersebut pada 15 Agust 2017.

Jika seorang ulama mengandalkan ilmu non-hikmah, maka jika terlepas dari jimatnya, maka ia akan mengalami kematian karena tidak lagi memiliki kekuatan yang dia percayai dari jimatnya itu. Tetapi seseorang yang memilikiilmu hikmah, maka kekuatan yang dimiliki adalah dari kegigihannya mengamalkan wirid-wirid seperti membaca al-Quran, kalimat syahadatain, shalawat kepada Nabi Muhammad Saw, wirid ya Hayyu ya Qayyum,shalat tahajud, puasa, shalat subuh berjamaah yang kesemuanya merupakan produk ilmu-ilmu hikmah yang boleh disebut warisan ilmu dari para nabi dan para wali Allah. Dalam ilmu ini tidak ada kandungan syirik – karena semua amalannya bersumber dari Allah, Rasulullah dan ulama terpercaya yang selalu berorientasi ke akhirat dan ketaatan kepadaNya. Banyak orang mengatakan bahwa ilmu ini adalah ilmu putih. Sedang percaya dan mengandalkan “rante bui” adalah ilmu hitam yang  tentu saja memberi konsekwensi kepada nilai keimanan kepada Allah secara serius. 

Maka dari ilmu para nabi dan wali Allah itulah banyak para ulama dan mujahidin Aceh sering meneriakkan, kata syahid dan masuk ke suerueganya Allah. Karena tidak ada ilmunya yang bertentangan dengan sumber kekuatan, kehebatan dan kebesaran, yaitu Allah yang Esa yang tak tercederai oleh apapun. Inilah ilmu hikmah, mereka hanya semata-mata mengandalkan kemurahan dan kekuatan Allah, bertawakkal  sepenuhnya kepadaNya setelah berjuang sekuat tenaga. Bahkan mereka  berjuang dengan sabar, berjuang secara rasional, berjuang dengan kerja keras, tanpa mengharap sesuatu yang aneh yang sulitmasuk akal. Tetapi jika terjadi hal-hal aneh dalam  perjuangan mereka, itu disebut dengan ‘karamah’ (kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang yang dicintaiNya, baik dari kalangan Ulama,wali atau orang yang saleh dan taat kepadaNya. Sebut saja dengan terbelahnya laut merah oleh tongkat nabi Musa, atau bayi Nabi Isa berbicara digendongan siti Maryam.   Sementara hal-hal yang didengar  dari ilmu ‘rante bui’ terjadi hal-hal aneh yang sulit masuk akal secara ilmiah,karena peran penipuan Iblis,Setan atau Jin dalam hal-hal aneh dan ajaib itu.  

Zentgraaff, seorang wartawan perang kaphe Belanda yang dinilai banyak kalangan cukup objektif menceritakan apa yang ia dengar dari  Cut Fatimah, janda  Teungku Keumangan. Teungku Keumangan inilah yang selalu mengharu biru  Schmist di Jeuram,  yang meminta banyak korban jiwa raga dari anak-anak buah Schmist. “Cut Fatimah  bercerita: Schmistm  salah seorang dari mereka  yang sedikit jumlahnya. Diyakini, Schmist adalah seorang letnan kaphe Belanda yang memiliki kekebalan jikaditembak. Kemungkinan, Schmist punya rante bui. Selain pengetahuan/ ilmu mistiknya juga cukup handal, sebut Zentgraaff.

 Namun kemudian  Zentgraaff merevisi ucapannya dengan mengatakan:”Aku tak yakin  Schmist punya  rante bui.   Justru  yang memiliki warisan ajaib ilmu non-hikmah tersebut adalah adalah Teungku Cot Plieng,  Teungku Brahim di Njong, dan Teungku Chik Samalangan. Walaupun ketiga mereka mendapat gelar sebagaiulama, jika benar mereka memiliki “rante bui”, maka mereka telah  menggadaikan keyakinan mereka kepada Allah Swt dalam memperjuangkan agama yang dianutnya. Karena telah menggunakan ilmu sihir untuk memperjuangkan kemuliaan Islam, tentu ini bertolak-belakang.  

Pada titimangsa bulan Juni 1904, Kapten Stoop  menemukan jejak Cot Plieng diantara dua aliran sungai Gle Keulabeu. Teungku Cot Plieng lolos dari kepungan pasukan kaphe-kaphe Belanda, dan ia tinggalkan sebuah kitab suci  Al Qur’an dan sebuah jimat stempel. Aneh, al-Quran yang suci bercampur dengan sebuah jimat stempel.

Diberitakan bahwa jimat stempel itu warisan  dari Teungku  Di Tiro. Jangan-jangan ini fitnah terhadap Teungku Chik Ditiro, atau  upaya kaphe-kaphe Belanda mengalihkan kepercayaan umat dari ulama kepada kekuatan jimat yang sangat lemah yang berasal dari ilmu dukun.  Sehingga ini jelas makin mendangkalkan keyakinan dan keimanan umat islam kepada Allah, Rasulullah Saw serta ajaran-ajaranNya yang tercakup dalam al-Quran dan al-Hadits, yang diwariskan kepada ulama. Akibat terlepas dari jimatnya, maka  Teungku Cot Plieng disergap dan ditembak  anak buah  Letnan Terwogt. Ulama Cot Plieng dikabar meninggal dan syahid  ditembak anak buah Terwoght tersebut.

Apakah sang wartawan kaphe Belanda Zentgraaf ada agenda tersembunyi dari pemberitaan tentang jimat “rante bui” atau jimat stempel Cok Plieng yang kemudian dihadiahkan kepada Van daalen, namun Van Daalen menampiknya, dengan alas an ia taksuka dengan sesuatu berbau mistik. Kemudian memberikan jimat tersebut  kepada Veltman, seorang perwira tinggi kaphe-kaphe Belanda.namun Veltman menjawab: “Aku lebih percaya kepada sebilah kelewang dan sepucuk senjata daripada jimat itu”. Agaknya Zentgraaf dalam hal menceritakan jimat ini, secarahalus memihak pemerintah kaphe-kaphe Belanda, atau Snouck Hurgronje mencoba melemahkan keyakinan umat Islam ke  hal-hal mistikyang takberdasar itu. Dengan demikian perhatian kepada dukun lebih diuamakan daripada penghormatan kepada ulama.

Terakhir Zentgraaf menceritakan, menghadiahkan jimat itu kepada sebuah Museum di Amsterdam. Justru lebih rasional jawaban dua perwira kaphe-kaphe Belanda itu daripada kepercayaan ulama besar Cot Plieng kepada ‘rante bui’ yang tak masuk akal dan menjijikkan itu. (Bersambung).

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...