16 December 2017

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (14

Episode  14

 

Bagian Pertama

14

 

Perkembangan yang sangat menarik sekaligus menegangkan.Kehadiran Portugis yang telah merebut Malaka, ternyata mendapat penolakan yang keras dari berbagai Negara dan kekuatan militer internasional. Kesultanan Aceh, Raja-raja Melayu di Semenanjung Malaya dan   Belanda bersama-sama merangsek  benteng-benteng Portugis di Malaka untuk dihancurkan. Tetapi di balik semua itu, Inggris dan Belanda  saling bersepakat dan membuat konspirasi, bagaimana Aceh dapat secepatnya dapat ditundukkan dan ditaklukkan. Tetapi Belanda menolak keinginan Inggris yang ingin cepat masuk ke Tano Aceh. Ibarat seorang laki-laki ingin mencintai seorang gadis. Ia taklangsung jatuh cinta kepada gadis yang ditujunya. Ia mendekati gadis yang ada disampingnya, atau mencari  kesibukan lain, tetapi tujuan dan perhatiannya tetap kepada si gadis yang dicintainya. Dalam hal ini, Belanda  mengalihkan perhatiannya ke wilayah lain, padahal keinginannya adalah menaklukkan Aceh. Maka Belanda bertempur melawan Portugis bersama sekutunya, Aceh (yang ingin dicaploknya), bersama raja-raja Melayu di semenanjung Malaya.Tetapi juga terlibat pertempuran dengan Portugis di Halmahera, Ternate, Ambon dan bahkan di seluruh laut internasional dimanapun dua kapal Portugis dan Belanda bertemu, maka pertempuan pun pecah. Tak terkecuali di selatGibraltar (Afrika Utara), di lautan Mediterrania (Eropa), di Lautan Atlantik dan sampai ke laut di Asia Tenggara.

Belanda pada titimangsa 1606 mengetahui adanya friksi antara Aceh dan Johor. Tetapi Belanda tak ingin memperbesar dan mengobarkan friksi kedua kesulatan(kerajaan) itu menjadi sebuah perang terbuka untuk diadu-domba. Belanda lebih menginginkan agar kedua negeri yang berdaulat ini dimanfaatkan untuk menggempur Portugis.  

Makamupaya pengalihan perhatian itu berhasil diperankan Belanda terutama untuk kekuasaan Portugis yang merajalela dan begitu kuatnya di Maluku dan Halmahera, termasuk Ternate dan Tidore. Rakyat Maluku dan sekitarnya yang tengah hebatnya berjuang, berjihad bertempur melawan Portugis, baikdi darat maupun di laut – mendapat respon dari penajajah berwajah baru yang datang ke Maluku. Pada awalnya rakyat Maluku sepertimendapat durian runtuh dengan kedatangan Belanda yang rela membantu untuk mengusir Portugis. Maka pertempuran laut yang seru dan sangat menegangkan terjadi antara tahun 1601 sampai 1605.

Belanda di bawah bendera VOC memanfaatkan kekuatan dan ketangguhan perang rakyat Maluku menggempur Portugis di segala lini. Steven van der Hagen disertai perahu-perahu tongkang dan sampan-sampan milik rakyat Maluku menyerang kapal-kapalPortugis yang siap menunggu di Tidore. Laut Tidore seperti menggelegak dan senapan, mesiu dan granat (bom yang efektif di saat itu) digunakan untuk menggempur tentara Portugis dan kapal-kapalnya. Melihat begitu hebatnya serangan rakyat Maluku dan Belanda, jauh-jauh hari Portugis meminta bala bantuan ke Goa , India. Dari sana beberapa waktu  sebuah armada dari Goa, datang untuk bertahan di Tidore mengusir tentara  Belanda. Sementara dalam sebuah insiden, Sultan baambulla menuntut Gubernur Portugis di Maluku, Lopez de Mesquita yang membunuh Sultan Khairun diserahkan kepadaputranya Baabullah yang menggantikan ayah, diserahkan untuk diadili. Tetapi gubernur Lopez de Mesquita mentah-mentah menolak penyerahan dirinya. Maka Sultan Baabullah menyerukan kepada rakyat Ternate dan Tidore untuk “jihad fi sabilillah”. 120 ribu rakyat Ternate dan Tidore menyambut seruan Baabullah. Dipasanglah segala keperluan untuk menggempur Portugis.Kapal disiapkan, perahu dikerahkan beserta senjata, dinamit dan bendera kerajaan kesultanan Ternate. Belanda ternyata hanya membonceng ksempatan ini untuk menggempur Portugis, atau lebih banyak menonton daripada ikut serta bertempur. Maka  Benteng Tolucco, benteng Santo Lucia dan benteng  Santo Pedro ha ncur lebur digempur tentara Sultanbaabullah. Tinggal satu lagi benteng  Sao Paulo tempat kediaman Lopez de Mesquita, sang Gubernur Portugis untuk Maluku belum menyerah.

Maka Sao Paulo diblokade, karena stress  diblokade berbulan-bulan dan kelaparan pemerintah Portugis dari Lisabon memecat Lopez de Mesquita. Alvaro de Ataide diangkat sebagai gubernur baru untuk Asia Timur Jauh. Namun Sultan Baabullah tak begitu saja percaya dengan penggantian itu. Ia terus meratakan perlawanannya dan melebarkan sayapnya dengan melakukan perang semesta dengan moto:”Perang Soya-Soya”.  Tempat kekuasaan Portugis bercokol goyang dimana-mana, yang akhirnya pada titimangsa  1571 pasukan Ternate berkekuatan 3000 tentara dipimpin Kapitan Kalakinka merangsek Ambon dan Portugis takluk di situ.  Tentara Portugis di bawah pimpinan  Sancho de Vasconcellos takluk pula di pulau Buru saat pasukan Baabullah dibawah pimpinan Kapitan Rubuhongi. Runtuh totallah kekuasaanPortugsi di seluruh Maluku pada titimangsa 1575. Pada titimangsa 15 Juli 1575, seluruh tentara  Portugis dengan menundukkan muka  pergi secara memalukan dari Maluku, seperti tertunduknya tentara Amerika karena kekalahan dan malu yang tiada terkira di Vietnam pada tahun 1975 dari kota Saigon, Vietnam Selatan.

Sultaan baabullah yang berjuang keras mengusir Portugis dari tanah airnya, namun kafir-kafir Belanda yang mengambil manfaat dan hasilnya. Karena Belanda berhasil menaikkan Steven van Der Hagen saat penyerahan kekuasan Portugis yang kalah di Ambon. Di Tidore, Cornelisz Sebastian menerima penyerahan kekuasan Portugisyang kalah dan ia naik sebagai penguasa di Tidore dan Ternate.

Kini Belanda dengan VOC-nya menjadi penguasa tunggal di Maluku dan sekitarnya. Walaupun sultan Baabullah tidak tinggal diam, dan mencoba menggempur Belanda dengan semangat jihad yang baru.Akan tetapi pelan dan pasti, kekuatan tentara Baabullah pun takluk di bawah kekuatan Belanda dengan korban yang luarbiasa dari rakyat Maluku dengan sikap brutal dan kejam dari VOC Belanda.

Portugis pergi, datanglah penjajah Belanda. Hampir sama dengan Portugis, Belanda juga mempunyai misi Kristenisasi di Indonesia. Karel Steenbrink dalam bukunya , “Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942)”  dengan mengutip kata-kata Van Goens di akhir masa jabatannya sebagai gubernur Maluku, 1675  mengatakan: “Betapa orang Moor (Islam) di pulau ini sangat menghalangi kita setiap hari terlihat melalui aktivitas mereka, sungguh mereka tidak lebih dari kanker yang menggerogoti keuntungan kompeni dan perusak moral yang utama.”

Gubernur Jenderal Belanda di Indonesia untuk periode 1906-1916 , Idenburg sempat mengatakan:  “Saya cukup sibuk dengan Kristenisasi atas daerah-daerah pedalaman. ”

Inilah Pidato Kerajaan Belanda pada 1901 menyatakan: “Sebagai sebuah bangsa Kristen, Belanda punya kewajiban meningkatkan kondisi orang-orang pribumi di kepulauan Nusantara, untuk memberi bantuan lebih banyak lagi kepada kegiatan-kegiatan misi, dan untuk memberitahukan kepada seluruh jajaran pemerintah bahwa bangsa Belanda punya kewajiban moral terhadap para penduduk di daerah-daerah itu dengan melakukan kristenisasi.” Nah, siapa yang mau membantah, bahwa kristenisasi adalah sebagai alat dari penjajahan?

Silahkan, kita berpikir secara rasional dan masuk akal, bahwa pernyataan itu tak terbantahkan. Agama, adalah alat penjajahan bagi bangsa-bangsa Eropa.Bahkan sampaipun detik ini, agama sebagai alat penjajahan masih dilakukan secara penuh rahasia dan diam-diam.   

 

Pada titimangsa 1606 setelah sukses menghancurkan Portugis di seluruh Maluku, maka semangat Belanda semakin menggebu-gebu menghancurkan kekuatan Portugis di Malaka. Dalam pikirannya, Belanda ingin berhitung sendiri, bahwa ia sanggup menggempur Portugis sendirian di Malaka. Jika ini terjadi, maka ia merasa bahwa akan sanggup melawan Aceh. Tetapi beberapa kali menyerang Portugis di Malaka, Belanda dihancurkan Portugis lumat-lumat. Sebagaimana pada titimangsa 1606 armada VOC dibawah Admiral Cornelis Matelief  dengan 11 kapal dan balatentaranya dihancurkan JenderalMAritim Alfonso de Castro yang membawahi 20 kapal tempur . Mendapat kenyatan seperti ini, akhirnya Belanda melupakan sikap rakusnya yang ingin menantang sendiri Portugis di Malaka. Kini ia mengajak raja-raja Melayu, kerajaan  Aceh untuk menggempur Portugis.     

Maka Belanda memposisikan Aceh menggempur Malaka dari  utara. Kerajaan  Johor menyerang Malaka dari  selatan, maka Belanda tinggal hanya sebagai  mandor yang memerintahkan dua kekuatan itu menghancurkan Portugis di Malaka. Pada akhirnya pada titimangsa 2 Agustus 1640 sampai  14 Januari1641, perang habis-habisan antara Belanda dibantu Johor dan Aceh menghancurkan Portugis.  14 Januari 1641 adalah hari terakhir bagiPortugis untuk berkuasa di Asia. Takluknya Portugis yang bercokol di  Malaka, membuat Belanda menjadi penguasa tunggal sebagai pedagang rempah-rempah internasional.  Setelah kekelahan Portugis di bawah Jenderal laut Alfonso de Castro, apakah  Belanda yang bersekongkol dengan  Inggris pun  sadar bahwa Aceh tidak mudah ditundukkan. Walaupun hari demi hari, antara kedua kolonial  besar dunia paska runtuhnya Portugis dan Spanyol, membuat perencanaan merongrong Aceh dengan segala cara. (Bersambung)  

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...