11 December 2017

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (12

Episode  12

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda 

Bagian Pertama

12

 

 

Jatuhnya Kesultanan Malaka pada 15 Agustus 1511, menjadikan Malaka punya penguasa baru, dialah   Alfonso de Albuquerque. Karena mentalitas kanibalnya yang tinggi, maka  ia mengawali  pembangunan benteng pertahanan yang cukup kuat dan sulit ditaklukkan musuh.   Sultan Mahmud pasti tidak akan pernah rela kesultanannya jatuh begitu saja ketangan kafir-kafir Portugis. Barulah ia menyesali segala kekurangan pengetahuannya akan  sejarah kekejaman bangsa kanibal Portugis, Spanyol yang selama ini benar-benar menggila dalam memperlakukan setiap orang Islam yang ditawannya. Tawanan-tawanan Muslim yang ditahan Spanyol atau Portugis, disiksa, diancam, dibiarkan lapar dan tak diberi makan, bahkan dibunuh secara keji dan tak mengenal perikemanusiaan. Seperti halnya umat Muslim Granada. Menurut data-data para sejarawan tak  kurang dari  tiga juta Muslim Granada  dibakar hidup-hidup, disiksa secara kejam, dan dibantai  seusai  menyusul jatuhnya Granada.

Lepas dari penyiksaan yang sangat keji dan menyeramkan, Portugis membangun benteng yang  dibangun mengitari  sebuah bukit, itulah bekas istana kesultanan Malaka. Kemudian benteng pertahanan Portugis itu juga menyusuri garis pantai melilit kerajaan  Malaka  yang dikuasai   oleh kafir-kafir Portugis.  Albuquerque menetap  di Malaka hingga  bulan  November 1511. Kehadiran Albuquerque untuk mengawasi pembangunan  pertahanan Malaka untuk menghadapi serangan balasan dari tentara-tentara Muslim  Melayu. Demi keselamatan dirinya, sultan Mahmud Syah  mengungsi meninggalkan Malaka. Maka dikenallah benteng itu sebagai  sebuah hasil karya dari seorang arsitek Manuel Godinho de Eredia yang menyebutkan dalam bahasa Portugis : "Fábrica da Cidade de Malaca: Intramuros Anno 1604" , atau Pembangunan Kota Malaka: Kawasan Dalam Benteng Tahun 1604.

Inilah markas saudagar  Kristen  pertama di Asia Tenggara.  Melihat adanya cangkokan sungsang dan aneh di negeri Muslim semenanjung Malaya, Malaka di bawah pimpinan Albuquerque  mau tidak mau  harus mendapat pengucilan dan bersiap-siap diserang  oleh kekuatan kerajaan Muslim di sekitarnya.Bahkan kerajaan Demak yang jaraknya jauh di pulau Jawa, ikut merasa terusik dengan kehadiran kafir-kafir Portugis yang tak dikehendaki bangsa-bangsa yang hidup di Asia Tenggara  ini.  Malaka berkali-kali  digempur oleh serangan=-serangan kerajaan Muslim di tanah semenanjung Malaya. Maka dikobarkanlah perang yang memasuki tahun-tahun yang menggegerkan. Sultan-sultan Melayu di seluruh kerajaan yang ada di semenanjung Malaya, maupun di kepulauan Riau berusaha keras menaklukkan kafir-kafir  Portugis yang bagaikan kanker bercokol di tubuh bangsa-bangsa Melayu.  Sultan Mahmud Syah, sang pemilik kerajaan Malaka yang sah, kembali  merebut tanah kesultanan  Malaka yang diwarisinya dari ayahnya dan kakek-kakeknya. Bahkan Sultan Mahmud mencoba berkolaborasi  dengan  Kesultanan Demak dari pulau Jawa memasuki masa-masa akhir  1511.  Sultan Pati Unus mengirimkan balatentaranya dan bersekutu dengan tentara Malaka Sultan Mahmud. Kafir-kafir Portugis berusaha sekeras-kerasnya mempertahankan sepotong tanah haram itu. Serangan dua kekuatan Asia Tenggara itu membuat Portugis naik pitam dan  menyerang Pati Unus dan Sultan Mahmud. Sultan Pati Unus dan Sultan Mahmud terpaksa lari tungganglanggang dan berakhir di  Pahang.

Kekalahan dari kafir-kafir Portugis ini menyebabkan Sultan Mahmud dan tentaranya melanjutkan perjalanannya dan mendirikan kerajaan baru di pulau  Bintan. Dari pulau Bintan inilah Sultan Mahmud kembali menggempur Portugis. Sultan Mahmud melakukan pengepungan (blokade) dan serangan-serangan yang terus-menerus yang membuat tentara kafir Portugis sangat tertekan, kelaparan dan menjadi lemah. Namun karena dikelilingi benteng yang sangat kuat dan permanen, mereka bisa mempertahankan sepotong tanah haram yang bukan milik mereka itu.  Pada titimangsa 1521, kesultanan Demak kembali membantu Sultan Mahmud dan persatuan para sulltan Melayu menggempur kembali  kota malaka. Saya, pertempuran ini menyebabkan Sultan Demak  syahid. Ia dikenang sebagai  Pangeran yang menyeberangi laut Jawa menuju semenanjung Malaya (Pangeran Sabrang Lor). Hebatnya kekuatan Portugis yang mencengkeram Malaka membuat kerajaan baru Sultan Mahmud di pulau Bintan kocar-kacir yang menyebabkan Sultan Mahmud kembali melarikan diri ke  daerah Kampar, di pedalaman pulau  Sumatera.  Akhirnya Sultan Mahmud pun menghembuskan nafas terakhirnya di tempat barunya itu.  Maka sebelum wafat, anaknya Muzaffar Shah didaulat oleh rakyat di semenajung Malaya sebagai pengganti ayahnya, tetapi dengan sebuah kerajaan baru yang disebut kerajaan  Perak.

Anak kedua Sultan Mahmud didaulat pulaoleh rakyat Malaya untuk menduduki kursi kekuasaan , maka berdirilah kesultanan  Johor. Tentara-tentara Johor inilah yang kembali menggempur kafir-kafir Portugis dan mencoba mengundang kekuatan kesultanan Jepara untuk bersama-sama menghancurkan Portugis  di titimangsa 1550. Di jepara yang berkuasa saat itu adalah  Ratu Kalinyamat, mengirimkan 4000 tentara yang diangkut 40 kapal. Tentara kiriman Ratu kalinyamat mencoba menghimpun balatentaranya dengan kekuatan-kekuatan dari kerajaan Melayu. Dari hasil penyatuan itu terkumpul 200 kapal dengan jumlah balatentara yang sangat banyak yang cukup untuk menggempur kafir-kafir Portugis. Ternyata perlawanan merebut malaka tidak melalui benteng-benteng di bagian selatan, tetapi mencoba serangan-serangan efektif dan besar-besaran dari wilayah utara. Penyerbuan dan serangan ini berhasil menorehkan kemenangan dengan merebut sebagian besar wilayah Malaka. Agaknya Portugis pun tak mau kehilangan tanah panas yang bukan haknya.  Pertempuran kembali berkobar, tatkala kafir-kafir Portugis  membalas serangan. Bala tentara Muslim Melayu dipukul mundur, dan tentara Jawa dari Kalinyamat tetap bertahan.  Namun akhirnya tentara Muslim dari Jawa itu mengalami kekalahan setelah panglima perangnya terbunuh. Pasukan Kalinyamat tak begitu saja menyerah, peperangan terus berkobar di  pantai dan menjadi perang laut. Karena kekuatan perang Portugis berperang denan semangat berani mati,  2.000 prajurit Kalinyamat dari Jepara pun syahid.  Sisa balatentara tentara dari  Jepara mengalami kekalahan.

Nah, Aceh taktinggaldiam dengan kanker ganas kafir-kafir Portugis bercokoldi Malaka. Pada titimangsa  1567,  Husain Ali I Riayat Syah  menggempur kafir-kafir Portugis dari laut. Sayang gempuran ini mengalami  kegagalan. Di titimangsa 1574 sisa-sisa kekuatan kalinyamat bergabung dengan balatentara Muslim  Aceh menggempur kafir-kafir Malaka itu. Serangan ini kembali gagal.

Akibat gempouran yang terus-menerus, kafir-kafir Portugis yang ingin menjadikan kota malaka itu kembali segar-buar menjadi pusat perdagangan internasional di Asia Tenggara, mengalami kehancuran. Malaka jadi kota mati, para pedagang tak pernah datang berdagang di kota ini. Kafir-kafir Portugis hanya bermimpi dan tinggal sebagai pesakitan yang tak tahu lagi,harus berbuat apa, kecuali tetap bertahan di tanah rampasannya.

*********

Pang Ramli terus melanjutkan perjalanannya di hutan Tungkop. Perjalanan ketiga di hutan Tungkop melenggang bagai musafir asing yang mengarungi lebatnya hutan Tungkop. Ini perjalanan terakhir sebelum Pang Ramli keluar dari hutan yang penuh bahaya dan bisa-bisa merenggut nyawanya. Dalam perjalanannya menuju daerah Lamduro. Sebelum ia memasuki Lamduro,Pang Ramli berjumpa dengan seorang Marsosekaphe-kaphe Belanda. Agaknya kaphe-kaphe Belanda ini tersesat di hutan Tungkop. Dan kaphe Belanda dari Ambon ini mencoba memperdayai Pang Ramli dengan mengikutinya dari belakang. Tetapi naluri perang Pang Ramli tak begitu saja dapat menghilangkan  sensitifitasnya, bahwa ada sesuatu yang tak beres didalam Hutan Tungkop. Ketika kaphe Belanda yang agaknya juga tersesat di Tungkop dan kelaparan itu, mencoba  memukul Pang Ramli dengan gagal senjata berlaras panjang. Namun naluri perang Pang Ramli secepat kilat mengelak dan menghunuskan rencongnya ke pipi kanan kaphe Ambon itu. Balasan Pang Ramli yang begitu cepat, mendapat respon dengan terjangan di selangkangan Pang Ramli. Kedua-duanya memang mendapat cobaan berat.

Kaphe Belanda itu mendapat luka serius di pipinya yang membuat pipi sebelah kirinya tembus oleh hunjaman rencong pang Ramli. Sementara Pang Ramli kehilangan tenaga yang begitu hebat, setelah kemaluannya ditendang begitu keras oleh kaphe Marsose yang ganas. Kedua prajurit itu terdiam sebentar dan saling memandang dengan wajah meringis. Darah mengucur dari wajah kaphe Marsose, sedang kedua tangan Pang Ramli memegang pusat di antara dua pahanya. Keduanya saling mengawasi gerak-gerik yang apabila memulai kesempatan pertama untuk menyerang. Kesakitan mereka berdua disaksikan oleh ribuan pohon-pohon tinggi di hutan Tungkop. Tungkop bukan daerah biasa, seperti halnya Malaka yang mudah direbut oleh kafir-kafir Portugis dan melanggengkan kekuasaan haramnya di tanah bangsa lain.Tungkop adalah daerah ujian dan percobaan berat sebagai mujahidin tanah Aceh yang tak pernah mampu ditaklukkan oleh kekuatan dunia manapun.

Usai keduanya menahan sakit dan reda dari masa kritisnya, kedua tentara yang saling berseberangan dalam ideologi dan keyakinan itu maju selangkah demi selangkah. Yang satu melayang tinju, yang lain memukulkan gagang senjata yang satu-satunya dimilikinya. Namun Pang Ramli berhasil merebut senjata laras panjang itu dan membuangnya jauh-jauh.

“Kalau kau berani, ayo kita bertempur satu lawan satu!”Ujar Pang ramli

“Baik, akau akan layani tawaran kau” Ujar Kaphe Marsose Belanda itu.

Mulailah perkelahian satu lawan satu dan gelora api perseteruan makin menggelegak di hati masing-masing tentara yang saling berseberangan dalam tujuan. Pang Ramli menonjok prajurit kaphe Belanda itu. Dia mengelak, dan hanya mengenai bahu kanannya sedikit. Ya, sentuhan ringan itu dibalas kahpe Marsose itu dengan menonjok kepala Pang Ramli. Berputar bumi ini rasanya, hutan Tungkoip pun terasa goyang. Namun beberapa saat, ia kembali menyadari  keadaan di sekelilingnya. Pang Ramli menerjang dan menghatam punggung kaphe Marsose itu. Kaphe Marsose itu terjatuh dan tertelungkup di atas akar-akar pohon serta serakan daun-daun kering di lantai hutan Tungkop. Pang Ramli tak menyia-nyiakan kesempatan. Namun ketika Pang Ramli hendak memukulnya dengan pukulan terakhir Marsose itu berbalik dan bangkit menyerang pang Ramli. Pang Ramli seperti tersentak diserang balik. Pang Ramli tersungkur dan secepat kilat berdiri dan melayangkan tonjokan keras persis di pipi kaphe Marsose yang masih mengucurkan darah.

Kali ini bumi pun bergoyang dalam kesadaran yang menghilang dari kaphe Marsose Ambon itu. Sebuah terjangan mendarat kembali di punggung kaphe Marsose. Pang Ramli langsung melompat menjatuhkan dirinya di atas tubuh kaphe Marsose mengunci dengan menarik kedua tangan kaphe Marsose itu dengan keras ke atas. Terdengar derak tangan kaphe Marsose itu pertanda terjadi cedera pada otot tangan kaphe Marsose. Marsose itu kian melemah dan tak mampu mengadakan perlawanan. Untuk memastikan lawannya agar lumpuh selamanya, Pang Ramli menyarangkan tonjokan berubi-tubi ke bagian kepala kaphe Marsose yang tersesat dihutan lebat Tungkop itu. Keadaannya semakin melemah dan tak memperlihatkan gerakan peralawanan lagi. Nafasnya terdengar mendengkur dan sepertinya sakratul maut telah menghampiri kaphe Marsose itu. Tubuh kekar dan berseragam biru tua, seragam militer dari negeri kaphe Belanda itu surut untuk selamanya. Kematian telah menghampiri prajurit kaphe yang telah mengalami kelaparan dan penyakit yang menggerogoti dirinya dengan sangat kuat. Sehingga pertempuran satu lawan satu itu tak perlu dituntaskan Pang Ramli dengan  susah payah. (Bersambung).  

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...