16 December 2017

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (10

Episode  10

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda 

Bagian Pertama

10

Hujan turun dengan derasnya, pohon-pohon tinggi seperti pohon kelapa, durian, mangga dan lain sebagainya terlihat seperti menari dipermainkan angin pada posisinya. Jika tidak ada akar yang kuat pada masing-masing pohon itu, pastilah pohon-pohon tersebut sudah terbang dilarikan angina atau roboh dibongkar oleh kekuatan angin yang sangat dahsyat. Sementara para intelektual muda Aceh yang diwakili oleh Razali , Banta Sakim kini tengah berada bersama mentor mereka Teungku Hanifah. Rupanya topik yang dulu mereka asyik bicarakan belum juga habis.    

Tidak dapat disangkal kalau merokok itu menyebabkan kecanduan yang kuat. Dalam pasal yang sama, belakangan kita diberitahukan  lewat ayat-ayat Tuhan dalam kitab Injil, “ Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, —dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:19-20).

Mosok sebagian ulama Islam kalah menafsirkan larangan rokok dalam al-Quran dibanding tafsiran pendeta atau pastur dalam kitab Injil? Padahal dalam kedua kitab itu tidak terdapat kata Rokok atau tembakau.

Sementara ada hadits nabi yang lansung menunjuk kata rokok atau tembakau, lalu diklasifikasi (didusta)-kan dan dicap hadits palsu. Lantas  ulama yang kritis harus menguji dengan cermat dan sangat teliti tentang kelemahan hadits tersebut. Jangan-jangan kelemahan dan tuduhan hadits palsu hanya trik kaum munafik yang ingin menghancurkan umat Islam dari dalam dan pencinta rokok, untuk mengaburkan hukum rokok dalam agama terakhir ini. Umat yang sangat lemah ekonominya, lemah budayanya, lemah pengetahuan agamanya (sehingga bisa diotak-atik serta diacak-acak oleh kalangan manapun dari luar atau dalam komunitas agama ini). Lemah politik, lemah kesehatan, lemah persatuan dan lemah segalanya. Bahkan sampai kekeyakinan pun lemah, karena itu banyak diantaranya yang rela melepas keyakinannya dan beralih ke keyakinan lain dan meninggalkan ajaran agamanya. Dan dalam kelemahan segalanya, di antara para ulama Islam itu terjangkit pula penyakit para pemimpin Kristen di masa-masa awal, yang menutup matanya bila menemui ayat yang tak sesuai dengan nafsu diri mereka sendiri.

Ketika dihadapkan dengan ayat-ayat al-Quran mengatakan “para perokok itu boros, mereka membunuh diri secara perlahan”, karena tak sesuai dengan nafsu sebagian para ulama, lalu ditutup matanya. Mulutnya berkata: Semua ayat itu tak menyangkut dengan ayat tentang merokok (tak sesuai dengan kehendak kita yang cinta merokok). Dan ketika bertemu dengan hadits yang terang-terangan menyatakan kata ‘tembakau’ sebagian ulama Islam itu kembali menutup matanya, karena tak sesuai dengan hawa nafsunya, lalu dicap bahwa hadits tersebut palsu, atau lemah.

Cobalah  meneliti dengan baik kalam (ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan) ulama, tak diragukan lagi  mayoritas para ulama berpendapat rokok itu haram,  itu  menurut pendapat  keempat  ulama madzhab. Anehnya, sebagian kyai yang doyan rokok itu seakan-akan  mewakili kebanyakan para ulama. Itulah penipuan zaman modern, aneh ulama-ualama perokok itu diikuti  umat yang merokok dengan sangat fanatiknya.  Astaga, betapa besar tanggungjawab ulama demikian di hadapan Allah nanti di padang mahsyar. Umat yang menyesal dan merasakan pedihnya penderitaan di padang mashyar yang gersang dan kering karena dosanya meng “istiqamah”kan merokok, akan mencari ulama  merokok yang diikutinya. Mereka meminta pertanggungjawaban ulama tersebut. Tetapi ulama tersebut juga mengatakan: “Aku tak bertanggungjawab atas dosa merokok kamu. Mengapa kamu mengikuti aku? Aku sendiri juga gelisah akan menghadap Allah sebentar lagi” Jawab kyai yang merokok. Begitu kira-kira dialog antara umat yang merokok yang mengikuti ulama yang mereka panuti saat di dunia.

Sehingga mereka nyaman-nyaman saja melakukan perbuatan haram dan tercela tersebut. Ulama yang empat mazhab  tidak pernah mengatakan rokok makruh, terlebih lagi ulama-ulama yang tergabung dalam  madzhab Syafi’i.  Bagi ulama yang shadiq (Benar) imannya sangat percaya bahwa Imam Syafii sendiri pernah menyebut  bahwa merokok itu haram. Tapi fatwa Imam Syafi’ii  ini seperti disembunyikan  dari catatan para ulama yang merokok. Mirip pendeta yang menyembunyikan ayat-ayat Injil yang tak sesuai dengan selera mereka. 

Ibnu  ‘Alaan menukil dalam kitab Syarh Riyadhis Shalihin dan Al Adzkar bahwa merokok itu haram hukumnya.

Untuk penjelasan ini seorang Ulama mazhab Syafi’ii yang  wafat: 1069 H yang bernama Qalyubi  menyebut   dalam kitab Hasyiyah Qalyubi ala Syarh Al Mahalli. Lihat dalam jilid I, hal. 69- Syaikh Qalyubi menerangkan “Ganja dan seluruh  obat bius yang sangat  jelas dan nyata  menghilangkan akal, walaupun zatnya suci dihukumkan   haram untuk dimakan, dihisap, dan sebagainya.  Para Syaikh ulama Syafii  menegaskan  ada kesamaan  rokok denan ganja.Perhatikan sekali lagi  “ada kesamaan  rokok denan ganja.” Bagaimanapun rokok dan merokok itu di dihukumkan  haram? karena  dapat jadi pintu untuk   tubuh terjangkit penyakit  jantung, penyakit kanker, dan  berbagai penyakit berbahaya lainnya.Sekali lagi, bisa jadi pintu untuk   tubuh terjangkit penyakit  jantung, penyakit kanker. Dus, itu berarti sesuai dengan peringatan ayat:”Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An Nisaa’: 29). Bila demikian, para perokok adalah pelaku bunuh diri dan juga membunuh orang lain.

Logikanya melakukan perbuatan merokok   jelas  mencelakakan diri sendiri sekaligus  mencelakakan perokok pasif, terutama anak-anak dan istrinya di rumah, selain orang-orang lain tentunya yang berada di dekat si perokok. Pengaruh jelek perokok adalah bau rokok yang sering mengganggu kekhusyu’an jama’ah saat Shalat Berjama’ah di mesjid. Seseorang sudah  pasti terganggu kekhusyu’annya bila di sampingnya seorang perokok yang bau mulutnya mengeluarkan bau pahit seperti bau petaiatau jengkool.    Jelaslah bahwa bau rokok sangat mengganggu khusyu’nya orang yang berada di samping perokok.  Apakah dibolehkan si perokok yang mengeluarkan bau pahit tembakau  menghadiri shalat berjama’ah di masjid? Terhadap perilaku perokok seperti ini, perhatikan Hadits dari  Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhum ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Barangsiapa yang makan tanaman ini -yaitu bawang-, jangan dia mendekati masjid kami” (HR. Bukhari no. 853 dan Muslim no. 561). Larangan orang yang  yang mulutnya bau bawang yang kata hadits tersebut  menyakiti jama’ah lainnya, bisa di ‘qiyas’kan dengan bau tembakau yang pahit dari mulut para rokok yang ikut berjamaah sahalat di mesjid.

Sampai pun ada dialog begini: Ada seorang Syekh dan seseorang (perokok) lalu  meminta pendapat syekh tentang hokum rokok yang terdapat dalam surah al-A’raf ayat 157 bahwa: “Allah menghalalkan bagi manusia segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk. “   Lalu  perokok itu menolak isi dari ayat itu,  sebab katanya :”tidak ada kata rokok dalam al-Quran.” Lalu Syekh berkata: Jika rokok baik, apakah kamu rela dan suka melihat istrimu merokok, anakmu juga menghisap rokok? Seseorang yang mencintai rokok menjawab : Saya tak suka. Apakah kau senang bila  istrimu beserta  anakmu makan buah mangga atau rambutan akankah kamu suka? Seseorang perokok itu pun mengiyakan.

Lalu sang Syekh digugat lagi si perokok kalau rokok haram,siapa yang akan menghidupkan petani tembakau? Sang Syekh dengan cekatan menjawab kepada  si perokok:  jika ganja haram, siapa yang menghidupkan petani ganja? Jika mencuri itu haram, siapa yang menghidupi maling? Jika korupsi itu haram, siapa yang menghidupi koruptor? Jika narkoba itu haram, siapa yang akan menghidupi kartel narkoba? Bila kamu mencari alasanuntuk  pembenaran merokok itu makruh, siapapun juga bisa mencari alasan pembenaran.

Kamu sudah kalah KO, berhenti saja merokok, karena nabi Muhammad Saw  bersabda: Barangsiapa yang menghirup racun (dengan sengaja -- ingat dalam satu batang rokok mengandung 4000 jenis racun yang membahayakan),  hingga mati, maka ia akan menghirup  racun itu  selama-lamanya di neraka jahannam (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Ayat-ayat mana lagi lagikah yang telah kau dustai, wahai perokok? Tanya syekh kepada perokok tersebut.

Seseorang yang merokok itu pun tersadar dari kekeliruannya selama ini dan langsung membuang rokok dari kantong bajunya dan bersumpah tak akan menyentuh benda haram itu selamanya.

Dengan lemah lembut si perokok berkata: Betul apa kata tuan syekh pada waktu lalu, ulama yang merokok, sama saja dengan  pendeta Nasrani atau rahib Yahudi yang  jika mendapatkan ayat-ayat Perjanjian Lama dan baru yang tak sesuai dengan selera (hawa nafsu)nya, mereka menutup mata, jika ayat-ayat itu sesuai dengan selera mereka, maka mereka tertawa dan matanya terbuka lebar. Bahkan  berani merobah ayat-ayat yang menyakitkan itu agar  sesuai dengan selera mereka. Sedang ulama Islam yang merokok hanya dengan mengatakan dengan ringan: “Dalam al-Quran tak ada kata tembakau, dan hadits yang mengatakan tembakau berasal dari air kencing Iblis ‘ adalah hadits lemah. Inilah kualitas sebagian ulama dalam Islam yang tak mampu berkelit dari kehendak hawa nafsu merokoknya yang demikian hebat. Ketika menemui hadits menyebut :tembakau dari air kencing Iblis, mereka menutup kedua matanya.Lalu mencari-cari kelemahan hadits tersebut agar mata mereka terbuka kembali. Akhirnya mereka beralasan, bahwa hadits itu nilainya lemah. Bahkan berani mereka berkata: Hadits itu hadits palsu. Mereka lebih mencintai benda (rokok) daripada mencintai kata-kata Rasulullah, padahal sudah tertera di situ perawinya Abu Hurairah.   Dari sinilah dapatlah disebut, bahwa para perokok itu adalah “pendusta”, mereka mendustai kata-kata Rasulullah yang haditsnya diriwayatkan oleh perawiutama, Abu Hurairah.

Mari kita melihat hukum rokok dilihat dalam pandangan Ulama madzhab Malikiyah, Hanafi serta  Hambali. Untuk dapat bertemu pendapat mereka,  bukalah dihalaman 42-44 kitab   ‘Hukmu Ad Diin fil Lihyah wa Tadkhin’ (Hukum Islam dalam masalah jenggot dan rokok). Buku ini dikarang oleh  Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid Al Halabi hafizhohullah terbitan Al Maktabah Al Islamiyah.

Rasulullah Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam sebuah hadits yang shahih kata Syaikh Al Albani:

 “Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudharat) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” Seperti asap rokok yang berseliwean di antara oang yang tidak merokok.  (Lihat Hadits Riwayat. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Sebuah penelitian membuktikan  bahwa nikotin dapat merusak sel-sel ota, dan zat nikotin tersebut  sudah pasti melekat pada gen. Bila nikotin melekat pada gen,  akan membawa penyakit degenerating (penyakit keturunan).  DIpastikan keturunan perokok akan menderita  cacat otak yang menyebabkan anak tersebut menjadi  bodoh. Dan itu dibuktikan oleh Ibnu Sina dalam kitab kedokterannya yang dijadikan kitab suci ilmu kedokteran di benua Eropa dan Amerika. Inuilah yang menyebabkan para pendeta Yahudi dan seluruh umat Yahudi mengharamkan rokok, sehingga menjamin kelangsungan generasi Yahudi tetap sebagai generasi cerdas dan sehat.

Ayat-ayat mana lagi yang telah kalian dustakan? Semua sudah terurai dan alasan para perokok mempertahankan kebiasaan buruk mereka lemah sekali. Dan sempat pula menuduh  orang lain telah menghina ulama. Apakah ulama itu sebentuk Tuhan? Hingga tak boleh dikritik, walaupun berbuat salah dan keliru? Astaga, ulama perokok  telah mencintai nafsunya melebihi dari mencintai Tuhan. Sungguh tepatlah apa kata al-Ghazali. Uala mitu ada tiga. 1q.Ulama Akhirat yang jelas membawa umat ke dalam surge.2.ulama dunia,  hati-hati terhadap ulama seperti ini. 3 ulama suu (jahat). Jangan ikuti ulama jahat yang mungkin saja termasuk ulama perokok yang membiarkan umat mengonsumsi rokok yang diharamkan oleh Allah. Terhadap masalah ini, nanti di akhirat, ulamanya dulu yang dihisab.   Seakan-akan ulama telah mengambil alih peran Tuhan, apa saja yang mereka lakukan, tak akan dihukum salah.

Lalu Banta Sakim menuturkan di hadapan Razali dan Teungku Hanifah: Bila kejadian Iblis berasal dari api, dan air kencingnya (tembakau)  tentu juga berasal dari api. Maka nyalakanlah rokok itu dengan unsur lain seperti air, angin dan tanah.  Menyalakah? Tentu, sampai kiamat pun tak akan pernah menyala. Jadi jangan sekali-kali mengatakan hadits yang mengatakan :”Tembakau itu tumbuh dari air kencing Iblis” itu palsu.  Pengujian terakhir ini telah memperlihatkan bahwa ucapan  Nabi Muhammad tentang asal-usul tembakau dari air kencing Iblis itu palsu, telah tidak mempercayai nabi Muhammad Saw.Tidak mempecayaihadits nabi, berarti tidak mempercayai seluruh ajaran nabi Muhammad yang telah dibawanya ke bumi untuk kebahagiaan umatnya.  Rokok akan menyalakan jika dikasih api, unsur kejadian iblis sama dengan air kencingnya. Dari sini, dipertanyakan kepada ulama perokok dan umat perokok, informasi Tuhan yang mana lagikah yang kalian dustai? Nafsu rendah merokok kalian itulah yang terus kalian perturutkan dan mengabaikan hukum Allah yang ingin hamba-hambaNya bersih, suci lahir maupun batin. (Bersambung)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...