17 November 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (09

Episode  9

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda 

Bagian Pertama

9

Di hutan Tungkop,  Pang Ramli meneruskan perjalanan panjangnya mengarungi hutan Tungkop. Hutan yang panjang dan menyimpan kekayaan alam yang tiada terkira. Dua hari berjalan, Pang Ramli kali ini berjumpa seekor babi  jantan yang besarnya sungguh menakutkan. Lebih besar dari tubuh Pang Ramli sendiri, bahkan tiga kali besarnya tubuh Pang Ramli. Babi hutan itu menyerang Pang Ramli, dengan gerak refleks yang cepat, Pang Ramli mengelak serangan babi hutan jantan itu. Babi itu terseruduk  ke  sebuah pohon besar, dan taringnya menyangkut di akarnya. Tak lama ia bangkit dan berbelok, menghadap ke Pang Ramli. Pang Ramli Diserang lagi oleh babi keparat itu.   Tapi Pang Ramli siap dengan pedang tajam di tangannya. Ia baca ayat kursi berkali-kali, dan ketika babi itu menyerang Pang ramli, sabetan pedang mengenai kupingnya dan terputus seketika sambil mengelak sedemikian rupa.

Namun babi hutan  jantan  itu tak kehabisan akal, ia balik lagi dan kembali menyerang Pang . Dengan satu ayunan pedang, leher babi itu tersobek dan darah mengucur dari lehernya. Di situlah sang babi jantan itu meradang dan semakin gelap mata. Pang Ramli siap lagi dengan serangan keempat, sabetan pedang kali ini benar-benar menamatkan riwayat babi hutan jantan itu. Pang Ramli  sambil melayang mengelak serangan babi itu, menyabetkan pedangnya kembali ke leher babi hutan itu. Serta merta sabetan ini benar-benar meninggalkan secuil daging dari lehernya, kepala babi itu terkulai layu dan hampir terputus dari tubuhnya. Tubuh babi besar itu langsung roboh dan tak mampu berdiri sempurna. Babi itu menggeram tapi geramannya hilang seketika karena tak ada sambungan antara tubuh dan kepalanya. Pang Ramli merasa puas dan ia kembali memanjatkan doa kepadaNya. Bersyukur atas segala kemudahan yang diberikanNya untuk keselamatan dirinya memasukihutan Tungkop. Allahu Akbar, walhamdulillah!  

Portugis, menjelang akhir abad ke 15 dan awal abad ke 16 telah menduduki  kerajaan Pasai, Pidie, Aru , dan Daya. Di setiap kerajaan Muslim yang dikuasainya itu, terdapat banyak tentara bersenapan senjata siap mengokang siapa saja yang mencoba melawan mereka. Kantor-kantor dagang Portugis di setiap kerajaan itu pun juga dijaga tentara dengan sangat ketat. Inilah yang terus menjadi bahan pikiran dan sekaligus juga kesedihan Ali Mughayat Syah. Panglima Perang  dan putera mahkota Kerajaan Aceh.  Suatu hari Ali  Mughayat Syah menghadap  kepada Sultan Alaiddin Syamsu Syah yang telah tua dan  uzur.

Ali Mughayat Syah menjelaskan semua perkembangan yang terjadi sekeliling keajaan Aceh Darussalam.  Begitu cemasnya sang Sultan, dengan kafir-kafir Postugis yang sangat licik itu, Sultan Alaiddin Syamsu Syah mengangkat anaknya Ali Mughayat Syah menggantikan posisinya. Sultan muda ini pun dilantik dengan gelar  Sultan Alaiddin Mughayat Syah.

Maka dilantiklah Sultan Alaiddin Riayat Syah Al-Kahar  pada 1537 M. Seusainya pelantikan,  Sultan berjanji dan bersikukuh hati untuk   membebaskan daerah-daerah  pedalaman  pulau  Sumatera dari jamahan tangan-tangan kaum kafir. Pada awal kekuasaannya, Sultan Alaidin berhasil memasukkan kekuatan tentara Muslim dari  Turki, Arab, Malabar, dan Abesinia (sekarang Etiopia) ke kerajaan Nangroe Aceh Darussalam. Dari tano Aceh, tentara-tentara Muslim itu langsung menjelajah ke pedalaman pulau Sumatera. Seorang pewarta dan peneliti dan  sejarawan Portugis mengatakan : Sekitar 160 tentara dari   Turki,  200 tentara  Malabar menjadi kekuatan utama pasukan kerajaan Aceh memasuki pedalaman.  Komandan pasukan kesultanan Aceh tersebut adalah Hamid Khan, ia keponakan Pasya Utsmani yang menjadi penguasa di kota  Kairo, Mesir. Lukman Thaib, Sejarawan Malaysia, mengukuhkan pendapat Menao Mendez  Pinto tersebut. Dan kerjasama militer seperti adalah bentuk nyata ukhuwah Islamiyah antar umat Islam di dunia, agar superpower  Turki dapat mengontrol keberadaan  terhadap tentara Salib di wilayah Sumatera, khususnya  Aceh

Sultan Alaidin Syah mempertimbangkan untuk segera menghancurkan kekuatan salib  Portugis dari seluruh daratan Sumatera, khususnya dari Daya hingga ke Pulau Kampai. SultanAlaidin menginginkan  seluruh kerajaan Islam di sekitar kekuasaannya  bersatu padu  menjadi sebuah  kerajaan yang besar dan kuat. Alaiddin Mughayat Syah  memberikan maklumat mengumumkan  Kerajaan Aceh Darussalam adalah sebuah kerajaan Islam terbesar  dan terkuat di Asia Tenggara. Wilayah kekuasaan Kesultanan Aceh  meliputi Aru sampai  ke Pancu di pantai utara. Sedangkan batas berikutnya adalah  Daya hingga  Barus di pantai Barat. Ibukota kerajaan Aceh Darussalam diresmikan di Banda Aceh. Dengan persatuan dan kesatuan yang tak dapat diganggu-gugat oleh kekuatan luar, Aceh sangat diseganidan ditakuti oleh kafir-kafir Portugis dan Spanyol. Perseteruan utama antara Portugis dan Aceh adalah  persaingan perdagangan dimana  Portugis memaksakan kehendaknya dengan memonopoli  di wilayah laut malaka dan sekitar Aceh.  Hal ini takbisa dibiarkan, maka bangkitlah kekuatan untuk melakukan  perlawanan terhadap Portugis.

Sejak 1511 dimana Portugis dapat menguasai Malaka, satu-satunya saingan besar dalam perdagangan adalah Aceh. Para pedagang Muslim yang sebelumnya beraktifitas di Malaka,  pindah ke kota Banda Aceh. Sehingga lama kelamaan kotaBanda Aceh ramai dan sangat menguntungkan kerajaan Aceh Darussalam.

Lama-kelamaan Portugis pun semakin menderita, karena  secara ekonomi mereka tak mendapatkan peran apa-apa, kota Malaka sepi. Bebeapa kali Portugis datang mengarahkankekuatan militernya ke Aceh, setiap itu pula Portugis  selalu gagal. Sebagaimana gagalnya kaphe-kaphe Belanda selama 60 tahun menjajah Aceh.

Suatu hari di tahun 1523, Henrigues  mengarahkan kapal perangnya ke wilayah Aceh. Suiltan Ali Mughayat Syah menghadang kapal Portugis itu  tanpa kenal gentar. Henrigues, dan  pasukan tentaranya kocar-kacir dihancurkan  tentara Sultan Alaidin (Ali) Mughayat Syah.  Namun kafir-kafir Portugis tak pernah putus asa,  tahun berikutnya 1524  de Sauza mengerahkan pula kekuatan kapal lautnya untuk menggempur Aceh. De Sauza pun mengalami luka-luka dibabat oleh tentara Muslim Aceh. Gagal terus dan gagal terus. Pihak kafir Portugis tak habis akal untuk menghancurkan Aceh.

Kali ini kafir-kafir Portugis, melakukan  serangan ke kapal dagang Aceh, namun ini pun tak mampu mengusik  sibuk dan majunya perdagangan di kota Banda Aceh. Maka melihat tingkah kanibal Portugis yang nakal seperti monyet itu, rakyat Aceh bangkit dan serentak melakukan perang dengan Portugis. Begitu saja,kafir-kafir kanibal Portugis itu kabur karena kalah bertempur dengan  rakyat Aceh.

Maka ada upaya-upaya Aceh  mempertahankan kedaulatannya dari ancaman kafir-kafir  Portugis itu seperti   menjalin hubungan luar  negeri dengan Turki, Persia, dan Gujarat . Selain itu kapal-kapal Acehselalu diperbarui  dengan bantuan kapal-kapalbaru bikin dari pulau Jawa. Kemudian berawal daripengalaman buruk dengan Portugis, akhirnya kapal dagang rakyat Aceh dilengkapi dengan meriam, senapan  dan dilengkapi dengan tentara-tentara rakyat yang sangat militan dan  tangguh. Upaya lain memperkuat  situasi dalam negeri Aceh adalah meningkatkan kerja sama militer, perdagangan dan lainnya  dengan kesultanan  Demak serta  Makassar.

Inilah heroiknya perlawanan rakyat Aceh berhadapan dengan semangat  conqueror (penakjlukan) tentara Salib Portugis yang kanibal itu. Karena sudah tua, Sulatan Alidin Mughayat Syah digantikan oleh  Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Inilah setinggi-tingginya kehebatan kesultanan Aceh, di masa Sultan Iskandar Muda  kekuatan ,iliter Aceh menjadi berlipatgada, sehingga Portugis setiap bertempur tak pernah mampu  menaklukkan tentara kesultanan Aceh. Ditambah lagi dengan  penambahan kapal-kapal   angkatan laut yang dibuat seperti  kapal induk dengan muatan  600 sampai 800 tentara.  Aceh memang bukan sembarang kerajaan di Asia Tenggara. Raja-rajanya mampu membaca situasi dan penyusunan kekuatan militer dilengkapi dengan  pasukan kavaleri dilengkapi dengan kuda Persia yang gagah perkasa. Selain itu sultan Iskandar Muda juga  mempersiapkan tentara bergajah dan diiringi dengan  milisi infanteri untuk menggempur kekuatan musuh jika terjadi pertempuran di darat.

Walaupun Aceh masih bersahabat dengan belanda, namun sultan Iskandar Muda mengawasi segalagerakgerik kaphe-kaphe Belanda sebelum mereka mengultimatum perang pada 1873 dengan tewasnya JenderalJHR Kohler. Karena seangan-serangan Portugis terkonsentrasi ke Aceh, rupanya pihak Belanda mengintai kelemahan kafir-kafir Portugis di tanah Malaka. Setiap pertempuran antara Portugis dan Aceh, tidakada yang menemui kemenangan. Skor peperangan antara Portugis dan Aceh selalu menemui :”Draw” alias sama-sama kuat.(Bersambung)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...