23 January 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (06

Episode  6

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda 

Bagian Pertama

6

 

Sesungguhnya, ketika dunia disibukkan dengan lalu lalangnya armada dagang kapal-kapal Spanyol dan Portugis, kapal-kapal dagang Belanda sudah mulai mengikuti arus. Namun andilnya begitu kecil, dan mungkin kurang berarti dibanding armada dagang Spanyol dan Portugis yang menjadi raksasa internasional.  Bangsa Belanda berkisar sebagai “orang kedua” yang menerima barang impor dari Portugis yang meneruskannya ke pedalaman Eropa atau Belanda khususnya. Posisi Belanda belum dipandang sebagai Adidaya,seperti dua Negara tersebut. Sejak bangsa Belanda terlibat perang 80 tahun dengan Spanyol yang dikenal dengan “Het Tachtig Jaaren Oorlog” menyebabkan Belanda semakin terkucil dari panggung dunia. Meskipun demikian,hubungan perdagangan dan ekonomi dengan Spanyol tetap berjalan baik. Spanyol   menganggap dalam perdagangan internasional, Belanda adalah Negara yang membantu distribusi rempah-rempah ke seluruh Eropa. Selama Belanda menjadi kurir Spanyol dan Portugis, selama itu pula mereka berpikir  bagaimana  caranya bangsa dusun terpelosok di Eropa ini dapat menjadi pedagang besar internasional dan langsung  datang ke Indonesia ( Nusanara) menggantikan posisi Portugis dan Spanyol.

Ternyata dugaan itu benar. Pelabuhan Lisbon di Portugis mulai mengalami masa paceklik.Lama-lama pelabihan internasional yang sangat ramai dan sibuk itu mengalami mati kutu. Sebelum pelabuhan Lisbon gulung tikar, Belanda harus segera berusaha menemukan pusat rempah di timur, lalu menjadi pihak pertama menggantikan Spanyol dan Portugis dalam penguasan  perdagangan lada, cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Ternyata keinginan Belanda mencari dan menguasai pusat rempah di timur didorong oleh perseteruannya dengan Spanyol. Sebelum kaum penjajah kaphe-kaphe Belanda keluar Eropa, kaphe-kaphe Inggris, Perancis dan Italia menggantikan Portugis dan Spanyol berseteru memperebutkan tanah baru untuk  dikanibal. Tapi setelah Belanda, Inggris, Perancis dan Italia mencoba menjadi kanibal (penjajah) baru, maka Portugis dan Spanyol  merasa perlu  untuk bersatu  melawan  hegemoni kanibal (penajah )  baru itu. Penyatuan kekuatan Spanyoldan Portugis itu terjadi pada 1581.Sebelumnya, mereka gemar mengikuti kemauan nafsumereka sendiri-sendiri hingga sering terjadi perseteruan baik di darat maupun di laut.

Berpacu dengan gelombang, pelaut-pelaut kaphe-kaphe Belanda itu terus memacu kapalnya untuk sampai di Aceh. Namun menurut catatansejarah, tiga kali pihak Belanda mencoba mendaangi Nusantara sebagai pusat rempah-rempah yang menggiurkan mata mata Barat, khususnya Belanda. Pertama kali, sejarah mencatat bahwa Jan Huygen van Linchosten mengikuti kapal Portugis menuju Indonesia ( Nusantara ) 1579 – 1592. Dalam event inilah van Linchosten terkagum-kagum dengan keindahan Indonesia, terutama kebon pala, kebon cengkeh yang subur makmur di Halmahera dan Bandaneira serta pulau-pulau lainnya di kepulauan Maluku.

1592 Linchosten pulang ke Belanda dan serta merta kekagumannya itu ia curahkan dan cerita kepada para pejabat pemerintah di Nederland. Mata para pejabat Belabda berkaca-kaca dibuatnyam hingga mereka bertekda untuk menyiapkan sebuah kapal guna memacu gelombang dan menghidupkan mesin uap kapal untuk berangkat keNusantara yang kaya raya dan membuat hijau mata pejabat Belanda.

Tujuh tahun kemudian, dua kakak beradik, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman beserta orang sekampungnya pada 1599 melakukan perjalanan ke Indonesia dengan memakai kapal sewaan seorang Inggris yang bernama  John Davis. Dialah yang menjadi navigator Cornelis dan Frederick.Dengan bermodal sukses van Linchosten, Cornelis dan Frederick de Houtman  seperti telah mencapai sukses dengan bersikapjumawa dan tak  sopan sesampainya di perairan memasuki pelabuhan Aceh. Dengan sikap petantang petentneng, Cornelis de Houtman, penjelajah Belanda kedua ke tanah Aceh itu, pokoknya begitulah lazimnya orang-orang Eropa waktu itu, terutama kaphe –kaphe  Belanda di Tanoh Aceh. 

Mendengar ada perampokan seperti itu, Admiral pertama dunia Laksamana Malahayati medatangi kapal petualang Belanda yang haus dan rakus itu. Malahayati naik ke kapal Belanda, langsung menemui kapten kapal.Tanpa ba bi bu, Malayahati meusukkan rencongnya ke tubuh kapten kapal, yang bernama Cornelis de Houtman. Ia mati tersungkur, karena begitu kerasnya tusukan rencong mengenaiulu hatinya. Darah mengucur dari dda Cornelis dan seluruh awak kaphe-kaphe Belanda seperti  tikus yang ditawan kucing. Mereka semua takut dan kecut mendapat perlakuan Admiral Malahayati.

Secara detail John Davis yang menjadi saksi mata menceritakan: 1September 1599 Sultan Aceh sedang menggelar drama penerimaan pasukan artileri untuk menyerang  ke Johor, untuk itu Sultan mengambil sejumlah prajurit kerajaan untuk  menjalankan tugasnya sebagai pasukan artileri. Sementara itu kapal Cornelits de Houtman yang dinakhodai John Davis sedang sandar di pelabuhan Aceh. Sampan-sampan melaju dari sungai  keluar ke pelabuhan Aceh. Jaraknya kapal Cornelis de Houtman dan perahu dan sampan prajurit kerajaan Aceh terbentang 1 kilometer.Kerkun, seorang sekretaris kapal Belanda  beserta Abdala,yaitu seorang Syahbandar naikke kapal Belanda dengan menggiring prajurit bersenjata pedang, panah, perisai. Pasukan itu membawa berbagai jenis daging beserta satu kendi yang isinya minuman keras.
Syahbandar beserta sekretaris Kerkun dan para pasukan Aceh mengadakan perjamuan makan malam, menunjukkan tanda persahabatan antara dua Negara bersahabat. Satu di Barat dan satu lagi di Timur.

Tak lama usai makan malam, terjadi saling curiga di antara Syahbandar dan para isi kapal Belanda.PihakAceh mencurigai  adanya pengkhianatan.Pihak Belanda memasang bedil pada bagian atas kapal, dan orang-orang Belanda itu menyiapkan senjata mereka dan memperkokoh jerujikapal. Cornelis de Houtman marah mengetahui adanya pemasangan senjata dan hal-hal yang tak menyenangkan pihak Aceh. Sehingga  de Houtman menyuruh seluruh anak buahnya berhenti, namun anak buah de Houtman membangkang dan tak mematuhi perintahnya. Lalu de Houtman  mengatakan, bahwa di negeri Aceh ini ada sejenis buah bila dimakan sedikit saja, makayang memakannya akan bodoh. Namun biladimakan lebih banyak, makabuah itu menjadi biang kematian pemakannya. Kata de Houtman, semua daging dan minuman telah tercampur buah itu. 

Syahbandar beserta Kerkun (sang sekretaris) memanggilJohn Davis beserta MrTomkins dimohon untuk menemani John Davis. Syahbandar kemudian berbicara kepada sahabatnya, tapi John Davis dan Tomkins tak mengertiapayang mereka bicarakan. John Davis, sekretaris kapalBelanda (Kerkun) dan sejumlah orang Belanda menjadi bingung. Mereka saling menatap , tetapi mereka tidaktahu apayang sedang terjadi. Tiba-tiba ada sirene dari kapal Aceh yang menyimbolkan bahwa sekretaris kapal Belanda telah melakukan  kegiatan yang mencurigakan (pengkhianatan?). Kerkun dianggap sebagai  pengadu domba, ia pergi ke kapal Belanda, lalu pergi ke kapal Aceh dan berkata hal-hal yang lain yang memancing kemarahan orang-orang Aceh,terutama Syahbandar.

Maka setelah sirene itu berbunyi,para prajurit segera menangkap Cornelis dan Frederick de Houtman. Cornelis dan Frederick dihadapkan  ke depan Admiral Malahayati di kapal lain.Melihat Admiralkapal Belanda  Cornelis, Malahayati langsung menusuk Cornelis dengan rencong dan ia tersungkur dengan tusukan keras didada. Lalu Admiral Malahayati memerintahkan menahan Frederick de Houtman.

Satu lagiperistiwa yang mencoreng nama baik kerajaan Belanda adalah ketika van Caerden datang mendarat di pelabuhan Aceh. Sosok van Caerden bukan hanya sekedar kasus plonga-plongo dan pengkhianatan sekretaris kappalBelanda, Kerkun.Ini murni kasus premanisme yang datang dan menjarah kapal-kapal dagang Aceh pada tahun  1600. Pelaut-pelaut Belanda yang bernaung di bawah van Caerden and Co  (Perusahaan Dagang van Caerden dan Kongsi)-nya, melakukan penjarahan itu  dengan  semena-mena tanpa ada aba-aba ba bi bu lagi. Mereka mengambil dan memindahkan apa saja isi kapal dagang  bangsa Aceh yang sandar di pelabuhan Aceh. Beras merekaangkat, karung-karung cengkeh mereka boyong, kulit manis mereka larikan sehingga  terjadi keributan, namun anak buah Van Caerden and Co itu begitu banyak orangnya dan cepatkerjanya, sehingga para saudagar Aceh tank mampu mencegah perampokan besar-besaran itu. Van Caerden and Co menuduh bahwa bangsa Aceh telah bersekutu dengan Portugis dalam menentang Belanda.

Mengapa semua kejadian-kejadian aneh dan di luar batas etika itu bisa terjadi? Inilah yang menjadi tanda-tanya panjang bagi para muslim Aceh.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan agama Kristen di tangan bangsa-bangsa Eropa(Barat), adalah mengatasnamakan agama untuk membungkus nafsu keserakahan mereka dan nafsu kanibal mereka. Tidak pernah ada satu agama manapun sebelum bangsa Eropa menerima agama Kristen menjadi agama resmi mereka. Dahulu agama ini adalah agama “haram” yang tak perlu dianut oleh seorang manusia Eropa pun. Agama ini begitu dimusuhi dan Nabi Isa dan pengikutnya dihiraukan saja. Setiap ada orang Eropa yang menganut ajaran kafir ini (menurut versi mereka) harus dilenyapkan dari kehidupan di muka bumi. Tetapi ketika seorang kaisar mereka tiba-tiba memeluk agama yang terlalu hanif ini dan terlalu suci dari nafsu angkara murka manusia, agama ini langsung berubah mengikuti garis alur peradaban Eropa yang liar dan memaksakan kehendak dan sangat minus toleransi.

Jika sebelumnya setiap manusia Eropa diancam bila masuk agama Kristen, maka setelah kaisar Konstantijn masuk Kristen dan dibaptis, maka ia menjadi penjagal pertama yang memaksa setiap rakyat Romawi untuk masuk ke dalam agama yang baru ini. Mereka dipandang sebagai domba-domba sesat yang perlu digiring dan bahkan dipaksa masuk ke barisan domba-domba yang mendapat keberkahan roti sakramen. Begitulah sejarahnya agama yang tadinya berjubah kelemah-lembutan, kepasrahan diri total kepada Allah, tidak ada pemaksaan kehendak dalam penyebaran agama (karena masalah petunjuk adalah masalah hati) hidup sederhana dan saling berkasih sayang. Tiba –tiba agama ini dibungkus dengan jubah pemaksaan keyakinan kepada seluruh umat manusia, apakah dengan cara halus atau dengan cara kasar dan bahkan menyalahi aturan dalam penyebaran sebuah keyakinan yang bersumber dari kemerdekaan jiwa yang tidak pernah ada pemaksaan (halus ataupun kasar), karena jiwa itu memiliki kebebasan dalam meyakini agama apapun, sesuai kadar kesadarannya kepada Tuhan yang maha esa.

Karena itu di bagian Timur muncul orang-orang Kristen yang terus memurnikan agama ini sebagai agama awalnya. Yaitu Kristen Ortodoks di daerah Timur Tengah, EropaTimur  sampai ke Rusia. Kemudian Kristen Timur tengah dengan Kristen Qipty di Mesir, Kristen Maronit di Libanon.Gibran Khalil  Gibran,penyair dan filsuf besar Libanon dalam banyaktulisannya selalu mengeritik sifat munafik organisasi gereja. Dan lebih dari itu, termasuk kekerasan yang terjadi sepanjang sejarah agama ini.

Ini perlu dijelaskan mengapa terjadi kekerasan, kejahatan dan kriminalisasi atas nama agama dalam perjalanan sejarah agama Kristen. Itu disebabkan karena adanya dua otoritas yang saling menggoncangkan di antara keduanya. Otoritas pertama adalah otoritas Injil yang berkata apa adanya dalam kalam-kalam Tuhan yang datang dari laingit. Otoritas kedua adalah adanya kekuasaan gereja yang mencoba menjungkirbalikkan logika kitab Injil yang suci dan murni, menjadi logika humanis (manusia) dimana tusukan kekuasaan dan kehendak emosi manusia yang penuh nafsu menjadi latar belakang timbulnya “Gereja”. Sejarah agama ini sejak dianut oleh Kaisar konstantijn  selalu dikebiri menurut kehendak dan kemauan mereka dan mengabaikan  panduan murni dari kitab Injil. Bahkan kitab Injil sendiripun diperkosa habis-habisan oleh otoritas yang bernama ‘gereja’ ini. Sehingga hampir setiap orang Kristen yang benar-benar ingin mencari kebenaran dengan sadar  menjadi penuh kebingungan dan banyak tanda tanya serta ‘quo vadis’ (jalan penuh simpang) yang sungguh mengherankan karena di ujung-ujung semua simpang itu penuh kegelapan. Tak ada lanjutannya dan menemui jalan buntu.

Karena itu, jika percaya (yakin) kepada agama Kristen, pisahkan antara kebijakan “gereja” dan kebijakan ‘Injil’. Kebijakan Injil tidak pernah mengatas-namakan kebenaran untuk menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan, baik terhadap sesama Kristen (internal) maupun terhadap sesama umat manusia (esternal). 

Di Jantho pasukan Madura memasok senjata kepada mujahidin-mujahidin Aceh. Begitu pasukan Jawa banyak memasok senjata untuk kelanjutan perang Aceh Belanda, sehingga keseimbangan itu terusterjaga antara dua kekuatan yang terus berseteru itu. Di belakang kaphe-kaphe Belanda sering pasukan Madura dan sebagian Jawa menjadi teman bagi pasukan-pasukan Aceh. Yang konsisten melawan mujahidin Aceh adalah pasukan kaphe-kaphe Belanda dari Ambon, Manado, Nusatenggara Timur sehingga mujahidin Aceh sering menandai bagaimana melawan kaphe-kaphe Belanda coklat atau hitam dari timur itu untuk dapat mengalahkan mereka dengan cara yang tepat.(Bersambung)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...