27 April 2018

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (05

Episode  5

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda 

Bagian Pertama

5

 

Tungkop! Ini daerah hutan-hutan lebat dan pohon-pohon tinggi, dan kancil dan babi berseliweran di hutan primer dan berisi ular berbisa. Pang Ramli memang sengaja masuk Tungkop –hutan-hutan yang belum pernah dijelajahi.  Dan pertama kali ia masuk hutan primer yang lantai hutannya ditumbuhi  akar-akar pohon yang berpilin-pilin dan bergelombang sepanjang satu kilometer. Pertamakali  masuk hutan itu, Pang Ramli bertempur dengan seekor ular. Ular itu seakan menghadang di depan Pang Ramli. Mengapa Pang Ramli tidak membawa anak buah, padahal ia seorang panglima untuk daerah Tungkop?  Pang Ramli ingin mencoba nyali, bagaimana rasanya masuk hutan sendiri, dan hutan yang dimasuki bukan hutan sekunder, yang pernah dijelajahi manusia, tapi hutan perawan, yang kata para ahli ahli kehutanan disebut hutan primer.

Ular itu mengayunkan lehernya dan hampir saja mematuk Pang Rami tepat di wajahnya. Pang Ramli sadar,  sebelum ia dipatuk ular berbisa di hutan Tungkop ia layangkan pedangnya ke depan dan langsung mengenai bagian leher ular itu. Pedang yang tajam itu melukai leher ular itu,hampir separuh lehernya tersobek dan ia meraung keras. Ular itu meraung keras walaupun tak  terdengar suaranya, tapi raungan itu terlihat dari serangannya kembali ke arah Pang Ramli. Sekali Pang lagi Pang Ramli menangkis dengan pedangnya.

Kali ini, bagian di bawah leher  ular itu yang terluka. Pang Ramli tak memberi kesempatan untuk kembali menyerang dirinya, ia ayunkan kembali ke kepala ular yang terhempas di atas akar – akar pohon yang menyembul di atas tanah. Daun-daun kering bergesek tatkala kepada ular itu tepat dipancung Pang Ramli. Tapi ia tak kehabisan akal, ia  menyerang dengan ekornya. Ayunan ekor ular itu mengarah ke tubuh Pang Ramli, Pang Ramli mengelak serangan dari ekor ular itu dan ia ayunkan pedang itu tepat mengenai bagian ekor ular yang mungkin saja berbisa atau lecutannya ke  tubuh Pang Ramli bisa membikin tubuhnya demam dan mengalami kematian. Pang Ramli  kembali memancung kepala ular itu, tubuhnya merintih dan pancungan berikutnya memisahkan  kepala ular itu terlepas dari tubuhnya.         

Tungkop, memang sebuah medan pertempuran yang tak biasa. Pertempuran pertama dengan seekor ular berbisa. Ular itu bukan ular sanca, tapi ular yang cukup berbahaya apabila Pang Ramli dapat dipatuk lidahnya atau gigitan giginya dapat menyentuh tubuh Pang Ramli. Ahlamdulillah, Pang Ramli bersyukur tak secuil pun dari dirinya dapat dijamah oleh ular berbisa keparat itu.

“Uh, ada-ada saja yang menghalangi jalanku” ketus Pang Ramli.

Kita tinggalkan dulu Tungkop, hutan primer yng menyembunyikan banyak bahaya dan petualangan seorang Pang Ramli – berani mempertaruhkan nyawa di hutan perawan Tungkop.

Angin di masjid Baiturrahman yang bekas terbakar di berbagai bagian pentingnya saat diserang jenderal Kohler, berdesir dengan hembusan lembut.  Angin laut dari pantai Aceh sedang sibuk menyerbu daratan sehingga Bantan Sakim, Razali dan Tengku Hanifah terkena dinginnya hembusan angin laut yang menerpa mereka bertiga. Dan tiba-tiba Tengkuh Hanifah melanjutkan pembicaraannya:             .

Jika Si B ingin mencari kemajuan, harus berani kritis terhadap ulama yang dianutnya.Ia harus berani mencari ulama lain yang lebih maju pikiran dan pendapatnya dari ulama yang telah diikutinya (ittiba’) selama ini. Dan itu wajib bagi si B.   Dia harus gelisah dengan pendapat ulama  yang diikutinya. Seperti gelisahnya seorang pencari kebenaran, dan setelah menemukan kebenaran dia kukuh memegangnya dan tak akan berpaling lagi kemana-mana.  Banyak oang-orang Kristen yang gelisah dengan ajaran agamanya, akhirnya ia membaca al-Quran. Akhirnya ia mengakui dan mengikuti kebenaran. Contohnya adalah : Alexander Russel Webb (1846 – 1916), seorang sastrawan  dan wartawan Amerika, William Henry Quilliam (1856  -1932) yang mengganti  namanya menjadi Abdullah Quilliam, seorang Muslim dari Liverpool, Inggris.Dan masih banyak lagi.

Itu karena merokok bukanlah sebuah perbuatan yang sudah diakui baik kemanfaatannya. Sampai sekarang masih menjadi perdebatan,  kecuali pentingnya makan dan minum, tidak ada yang memperdebatkan

Si B pun harus demikian pula, sampai akhirnya mendapatkan ilmu terakhir dari ulama yang paling mumpuni mengenai hukum rokok.Tetapi si B hanya berkutat pada pendapat dia yang bisa jadi pendapat ulama yang dia percayai sampai detik itu. Dia tak mau lagi berguru, atau mencarri ilmu yang baru dan lebih segar kepada ulama lain yang lebih maju pendapatnya. Karena fanatic dengan pendapatnya yang sudah  terbelakang itu, ia dengan emosi (mungkin karena pengaruh zat nikotin dalam darahnya),  serta-merta saja menudingkan sebuah tuduhan yang sangat berbahaya, baik bagi dirinya, ataupun bagi yang ditudingnya.  “Si A telah menghina ulama yang tidak sependapat dengannya.”

Ini sebuah bentuk kepanikan dan hilangnya dasar berpikiryang jernih dan acak.  Dan ditambah lagi dengan ucapannya yang kian emosi dan tanpa sadar si B masuk ke dalam  bentuk kesombongan dengan melontarkan kata-kata: ”Saya paling benci ucapan yang menyalahkan ulama.” Seolah-olah dia adalah pencinta ulama yang iasendiri menghormati tanpa reserve.Sementara selain dirinya, terutama si A, tidak menghormati ulama. Ada keracuan berpikir dalam kata-kata terakhir si B:”Saya paling benci ucapan yang menyalahkan ulama.” Lalu dia tak sadar bahwa ulama yang merokok yang dijunjung habis-habisan oleh si B, ternyata telah menginjak-injak hokum Allah Swt dengan semena-mena, dengan mengikuti tafsiran hawa nafsunya yang sudah kadung terperosok dalam kecanduan dengan apa yang dibenci (makruh) oleh Allah.

Mungkin dia belum penah merasakan bagaimana jika dibenci oleh istrinya, dan  karena dibenci istrinya, dia tak diberi jatah tiap malam kapan dia mau ingin berhubungan dengan istrinya itu. Sekarang dia peduli amat dengan dibenci (makruh) oleh Allah dalam hokum rokok dan merokok, karena taksukanajis yang berasaldari kencing Iblis itu.

Jawaban si B seperti itu seperti menggenralisasi (menggebyah-uyah) masalah, sehingga dengan pintarnya dia bicara (tapi tidak pintar berpikir).Benarkah  si A menyalahkan ulama? Seolah-olah ulama itu satu, semua ulama  menyatakan bahwa rokok dan merokok makruh. Dan dia sudah gelap mata, atau membutakan mata  bahwa tidak ada ulama yang mengharamkan rokok. Semuanya me’makruh”kan. Sehingga tafsirannya yang ringan dengan makruh: Jika dikerjakan tidakapa-apa, bila ditinggalkan juga tidak mengapa.

 Padahal banyak ulama yang tidak sependapat  dengan ulama yang merokok. Mungkin si B ini tak pernah belajar filsafat, atau tak belajar filsafat dengan baik, sehingga cara menjawab dan berpikirnya tidak ‘ajeg’, tidak jernih dan tidak runtut. Asal main hantam dan akhirnya jatuh pada debat,yang penting menang dalam berpendapat. Nomor satu menang dulu, walaupun dengan mengutip ulama perokok. Sisihkan dan kucilkan lawan berdebat dengan perkataan “menghina ulama” ,lalu keroyok lawan  habis-habisan, habis perkara. Kemenangan ditentukan oleh kekuatan, bukan ditentukan oleh cara berfikir.

Memang ulama itu Tuhan, sehingga tak dapat salah?Apakah rasa jiwa Tauhid kepada Allah bukan segala-galanya yang melebihi siapapun dan apapun?Bahkan kepada nabi sekalipun?Ulama itu hanyalah mediator menuju Allah.Ada mediator yang baik dan ada mediator yang kurang baik bahkan ada mediator yang buruk.Karena  ulama itu adalah makhluk, bukan  Khalik. Mestinya dia berkata : Saya paling benci ucapan yang menyalahkan Allah”. Dan boleh ditambah, saya juga paling benci orang yang menyalhakn nabi Muhammad dan nabi-nabi lainnya.Karena dari seluruh nabi tidak ada yang lepas dari salah, tapi Allah menjaga dan mengampuni mereka semua.Ini baru tepat. Selama ia menjadi makhluk, kecenderungan untuk salah adalah satu sunnatullah. Walaupun dia ulama sekalipun. Tauhid si B telah menjadi jumud dan status quonya kepada ulama, telah mencederai nilai tauhidnya kepada  Allah. Dan dia tak pernah belajar mungkin, bahwa al-Ghazali di masa hidupnya membagi ulama kepada tiga.1.ulama waratsatul anbiya (Ulama pewaris ajaran Nabi). 2.Ulama dunia. 3.Ulama Suu’. Kata-kata menghina dan tidak sependapat dengan ulama dunia dan ulama suu’ (misalnya mereka memakruhkan merokok), apakah serta-merta telah menghina mereka sebagai ulama? Tidak sependapat tidak sama dengan menghina.Mengatakan ulama merokok bukan waratsatul anbiya, tidak sama dengan menghina.  

Orang Kristen, orang Yahudi, dan Negara-negara maju yang sekuler berhukum kepada hukum Allah dalam masalah rokok. Padahal, dalam pandangan agama Islam (ini hanya untuk interen Islam), ulama (pendeta, rabi)  di luar Islam itu sangat tidak sederajat dengan ulama dalam Islam. Tetapi pendapat pendeta dan rahib yahudi itu mereka sangat sahih dan tidak mengikuti pendapathawa nafsunya.Mengapa orang yang mengatakan dirinya mukmin dan Muslim, berhukum kepada pendapat ulama yang mengikuti hawa nafsunya?Inilah yang disebut kelakuan ulama yang tak sesuai dengan hukum-hukum Allah.Ulama seperti ini besar tanggung-jawabnya kelak dihadapan Allah dipadang mahsyar.Ucapan si B mengatakan jangan menghina ulama memperlihatkan pengetahuannya mengenai siapaAllah dan siapa ulama sangat rendah.Dia kira ulama itu sederajat dengan Allah, sehingga tak dapat ditolak pendapat dan pikirannya. Si B lebih percaya kepada ulama yang membawa dia ke neraka dari pada percaya kepada ulama yang membawa dia ke surge (Allah Swt).   Sabarlah, bila menginginkan kenikmatan itu, nanti Allah akan menyediakan beratus ribu ton tembakau di dalam surge. Tembakaunya  tidak melupakan kepada Allah dan tidak merusak diri sendiri, tidak memubazirkan harta dan juga tidak menyebabkan membunuh diri secara perlahan.

Inilah hati orang yang tertutup. Yang tak mau menambah ilmunya lagi setelah ia berguru kepada satu ulama. Sementara si A, memperoleh ilmu dari ulama yang sudah teruji, sehingga diayakin dengan pendapatnya.Tidak ada demokrasi dalam merokok. Amerika saja tidakmentolerir kaum perokok di Negara besar itu,karena kebenaran bagi perokok adalah nihil. Setiapketahun merokokdi depan umum,didenda 8000 Dolar AS.  Sementara si B tidak mengetahui atau melecehkan dengan mengikuti ulama yang di-ittiba’ (diikuti)nya dengan percaya saja bahwa hadits nabi itu atau lemah, Kalau hadits itu palsu,percuma ada keterlibatan perawi Abu Hurairah didalamnya.  Si B mungkin  doyan rokok, dijadikan objek keuntungan ekonomi kaum pemodal (kapitalis), dan ia tidak menyadari sama sekali.

Hari itu, diskusi pun berakhir dengan kehangatan dan kepuasan tiga orang Aceh yang saling akrab, sangat intelek dan sangat haus dengan kemajuan ilmu pengetahuan,juga pengetahuan agama.

Tungkop! Pang Ramli kini meneruskan perjalanannya di hutan Tungkop dan berleha-leha dengan

Membuka bekal yang telah dipersiapkannya dari rumah dari pagi tadi. Jauh berjalan akan mendapat pengalaman, pergi merantau pasti memperoleh kelebihan dan tinggal di kampung sendiri,  sulit akan berkembang.Tantangan akan selalu ada di dunia lain yang jauh dari tanah tempat kelahiran kita sendiri. Begitulah prinsip Pang Ramli menjalankan misi hidupnya. Dulu ia pernah merantau  sampai ke pulau Penang,  Malaya. Tapi tiga tahun di Penang,ia seperti tak mendapat tantangan untuk berkembang sesuai dengan jiwa jihadnya yang tidak memperoleh tantangan berarti. Karena Penang kota perdagangan dan kedamaian serta kesibukan kerja menjadi rutinitas sehari-hari. Bisa juga ia menyibukkan diri dengan jihad yang lain, yaitu dengan menjadi agen pembelian senjata untuk para mujahid-mujahid Aceh yang sedang membutuhkan. Pernah dua kali ia memasuki pasar gelap penjualan senjata-senjata bikinan Inggris. Dari bisnis pasar gelap senjata sejenis senapan kokang ‘made in”Inggris ia memperoleh keuntungan. Tapi pang Ramli masih kurang merasa tertantang untuk  bergelut di dalam bisnis beli dan jual senjata gelap itu. Pada penjualan yang ketiga, moment ketiga ia berkiprah dalam pembelian senjata bedil buatan Inggris, ia tak menjualnya kepada agen-agen yang mencarinya dari  tanoh Aceh di pulau Penang. Ia menghibahkan 40 pucuk senjata itu kepada sahabatnya yang kebetulan mencari senjata kokang alias bedil untuk membedil setiap tentara kaphe-kaphe Belanda yang petantang-petenteng di bumi Aceh.

Akhirnya Pang Ramli pulang dan kini tengah berpetualang ditengah hutan Tungkop.

Apa yang dirasakan oleh Pang Ramli saat berada ditengah hutan Tungkop, dibanding bertualang di tengah kota penang yang maju dan sibuk dengan perdagangannya?      Apa saja ada dijual di penang. Cina-cina Aceh banyak yang membeli barang di pulau Penang. Mereka membeli barang-barang yang  banyak ditubuhkan oleh orang Aceh yang tak sempat mengembangkan budaya dan peradabannya karena disibukkan oleh perang yang dipaksakan oleh kawan dan sahabat lama, kaphe-kaphe Belanda. Jika Pangeran Mauritzs masih hidup, apakah ia rela melihat negerinya bertempur di tanah dimana bangsa Aceh pernah menjadi sahabat terbaiknya dalam upaya melawan kekuatan Portugis dan Spanyol  di lautan Hindia dan semenanjung Malaya (Malaysia)?

Entahlah, masalahnya Pangeran Maurits pun adalah seorang kafir yang menyimpan kemunafikan dalam dirinya, karena dia juga seorang penganut Kristen yang membawa semangat Kaisar    Konstantijn yang menundukkan semangat suci Nabi Isa  di bawah libido nafsunya yang tak terbendung untuk memeluk dunia di bawah genggamannya sendiri. Dan semangat  Konstantijn yang rusak itu pula yang diikuti oleh Paus Urbanus IV dan  Paus Alexander VI yang pada 1494 mengeluarkan mandate menguasai seluruh dunia dengan jalan persuasif atau jalan kekerasan, semua jalan itu sah.Alexander VI memberikn mandate  gereja untuk Spanyol dan Portugis untuk mewujudkan itu.

Siapakah gereja?Nah, itulah masalahnya. Di bawah pengaruh kekuasaan raja-raja Romawiyang kejam dan bengis, gereja yang  sebenarnya suci itu menjadi kotor dan tak mampu membersihkan dirinya sendiri dari dosa-dosa yang dipaksakan raja-raja Romawi, apakah dia Konstantijn, Heraklius, atau Kaisar nero yang bengis itu. Dunia sejak agama Kristen dilumpuhkan menjadi alat kekuasaan raja-raja Romawi (termasuk juga raja-raja yang berjubah Paus – alias oang suci di Vatikan)    menjadikan dunia sebagai “ QuidLeges Sine Moribus”, yaitu sebuah dunia tidak ada artinya hukum jika tanpa moral, karena moraldalam agama Kristen telah hancur lebur sampai detik ini. Dunia memang sudah lama “Kiamat”. (Bersambung)

 

Category: 
loading...

Related Terms