16 December 2017

Semangat Jihad Semakin Membara 1890 – 1895 (02

 

Episode 2

Aceh – Dunia Yang Sedang Dicari Kaphe Belanda

Bagian Pertama

2

 

           Orang-orang Eropa yang baru saja keluar dari isolasi berabad-abad dalam peradaban gua-gua batu penuh  lumut, kehidupan intoleransi yang sangat parah, maunya benar sendiri, suka berpecah belah, suka mengadu domba, sangat miskin baik harta maupun ilmu, suka berperang  antar sesama. Lebih dari itu, bangsa Eropa sesungguhnya adalah bangsa Kanibal. Artinya suka makan daging manusia. Kanibal dalam pengertian modern, memakan daging manusia tidak secara kasat mata. Mereka memakan daging manusia dengan cara memeras, merampas, mengeksploitasi, menjajah dan menindas bangsa yang mereka anggap sebagai bangsa yang layak dimakan dan diminum segala hal yang ada pada bangsa tersebut. Baik kekayaan harta, kekayaan alam, kekayaan langit dan bumi pada negeri dimana bangsa tersebut tinggal dan menetap.

 

Sebuah status tentang kanibal klasik (memakan daging manusia secara kasat mata) yang  menunjukkan kekejaman dan rasa sewenang-wenang mereka terkait selera kanibal mereka: “Tulang-belulang dari manusia pertama atau nenek moyang manusia Eropa yang ditemukan di satu situs arkeologi di Spanyol utara mengungkapkan, orang-orang prasejarah ini ternyata kanibal (pemakan manusia) terutama daging anak-anak. “

 

Karena itu, orang-orang miskin dan kanibal ini, begitu mendengar ada sebuah  dunia baru di timur atau  dunia selatan yang sangat kaya, selera kanibal mereka pun bangkit dan rasa kemiskinan mereka pun menjadi hilang, karena ada harapan akan keluar dari belitan kemiskinan dan mereka bakal kaya-raya dari meneruskan sifat kanibal yang tereliminasi dari hanya sekadar memakan daging mentah manusia,  dengan  merampok dan memeras bangsa-bangsa yang akan mereka datangi. Hasil keringat dan cucuran darah bangsa lain mereka makan dan minum karena kegemaran sifat kanibal di kampung halaman mereka sendiri.   

 

Terkait dengan ini, di titimangsa  1494 Paus Alexander VI memberikan mandat resmi gereja kepada Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol untuk meneruskan sifat suka memakan manusia lain itu.  Mandat ini dikenal sebagai Perjanjian Tordesillas yang membagi dua dunia selatan untuk dieksplorasi (dimakan, dirampok, dikanibal) sekaligus negeri-negeri ini jadi  target penyebaran agama Kristen, satu untuk Portugis dan yang lainnya untuk Spanyol. Ini merupakan bukti bahwa bangsa Spanyol adalah bangsa Kannibal yang dikuatkan oleh perjanjian Tordesilas, dimana selain bangsa Spanyol dan Portugis , halal diserang, dibunuh bahkan jika mungkin bila mereka ingin, halal dimakan.

 

Pernyataan di bawah ini memperjelas kanibalisme bangsa Eropa itu:

“Kami yakin mereka mempraktikkan kanibalisme,” kata Jose Maria Bermudez de Castro, salah seorang direktur pada proyek Atapuerca yang menjadi situs warisan dunia UNESCO. Pengkajian atas tulang-belulang itu mengungkapkan, mereka mempraktikkan kanibalisme dengan memakan kalangan mereka sendiri dan itu bukan bagian dari ritual keagamaan.”

 

Tetapi berangkat dari rasa kanibalisme bangsa Eropa ini, dan tiba-tiba seruan Paus pemimpin Katolik yang juga berselera Kanibal pula, memerintahkan bagi setiap bangsa Eropa dan terutama Spanyol dan Portugis untuk mencari kejayaan (Glory), sebuah kejayaan dan kemenangan di atas tumpukan bangkai-bangkai bangsa lain, dan ini disetujui oleh agama katolik, terlepas agama itu dipimpin oleh Paus Alexander VI, maka agama ini hampir sepanjang abad menjadi alat dari praktek kekerasan, pemerasan dan kekejaman bagi pemimpin agama yang dipandang suci ini.  

 

Ternyata, sejarah kemudian berkembang sangat mengejutkan. Begitu cepatnya perubahan terjadi, menyaksikan Portugis dan Spanyol sukses melaksanakan ekspedisi’Haram”nya atas perintah Sri Paus sang  pemimpin Katolik itu, bangsa Eropa dari wilayah lain  tergiur untuk menyebarkan sifat kanibalisme (merampok, memakan hasil bumi bangsa lain,bahkan daging dan darahnya) di berbagai belahan dunia yang mulai terbuka di mata mereka. Maka cara-cara kanibalisme modern (tanpa makan secara fisik daging manusia, tapi makan hasil harta kekayaan bangsa lain dengan dilaparkan, diperintah kerja keras tanpa digaji dan dibayar upahnya, terjadi di Tanah Jawa sepanjang pemerintahan  Daendels 1808 – 1811. Cara penyerangan terhadap negeri-negeri merdeka dan berdaulat di bagian dunia lain adalah dengan mempraktekkan brutalisme dan membabi buta dalam setiap serangan-serangan mereka. Tidak ada perang yang sedemikian buruk etika beperangnya, kecuali  saat Spanyol dan Portugis keluar dari negeri mereka yang penuh kemiskinan dan intoleransi dimanapun mereka berada. Tidak ada perang sedemikian indah dan penuh etika yang sangat tinggi, kecuali ketika Salahudin al-Ayyub tidak mau menyerang tentara Salib karena ia menyamar menjadi dokter. Lalu menyaksikan pemimpin perang Salib Richard the “Lion Heart” sakit. Lalu Salahudin mengobatinya dan setelah sembuh, barulah sang dokter yang kembali menjelma Salahudin al-Ayyub itu melayani pasukan Salib untuk berperang Itu karena Salauddin al-Ayyub bukan bangsa kanibal, ia tak mau merampok, menjarah dan menjajah serta minum darah dan makan daging (hasil jerih payah) bangsa lain serta hasilke kayaan bumi bangsa yang mereka kalahkan.

 

Perjalanan agama ini yang penuh kedustaan dan dramatisasi sejarah kegelapan diungkap  dalam “The Da Vinci Code' yang sangat mengguncang Iman Kristiani di seluruh dunia. Walaupun sisi gelapnya hanya mengungkap  penemuan  korban pembunuhan pertama di Museum Louvre dengan kondisi telanjang dan posisi seperti Vitruvian Man. Vitruvian man adalah gambar terkenal Leonardo da Vinci, yang  gambar itu terdapat dalam lingkaran sempurna di atas bidang persegi, dalam lingkaran tersebut terdapat seorang pria telanjang. Tetapi  perjalanan sejarah agama ini memang penuh dengan kolonialisme dan intoleransi. Catatan sejarah tak bisa dibohongi, lihat sejarah dunia dan lihat bagaimana sebenarnya Aceh berada di bawah palang kuasa salib dalam masa-masa kejayaan Eropa sebagai penguasa dunia hingga detik ini.

 

Paus juga memerintahkan bangsa Spanyol mencari emas (Gold) untuk menutup kemiskinan mereka, walaupun emas itu dicari dengan cara kanibal (merampok) juga. Dan pesan terakhir Paus Alexander VI untuk melakukan penyebaran ajaran-ajaran Injil (Gospel) yang sudah tercederai sejak zaman Kaisar Romawi, dimana setiap orang yang tidak beragama Katolik halal darahnya.  Mereka diburu-buru seperti binatang buruan dan bukan atas dasar ajaran nabi Isa,yang tiada paksaan  sebagaimana ajaran awal agama ini.  Tapi atas dasar ajaran Gereja dimana bagi mereka yang tak mau didakwahi (diajak) masuk agama ini,   halal darahnya  atau boleh dibunuh karena mereka dianggap kafir. Karena menurut mereka, selain orang Katolik adalah kafir, orang kafir dalam pandangan mereka, halal darahnya. Padahal, sampai detik ini, agama Kristen disebarkan ke tengah-tengah manusia, hanyalah untuk memberangus suara-suara kritis  agar sang  penguasa yang haus darah sepanjang sejarah mulus melakukan penjajahan, perampokan dan pemerasan terhadap umat manusia selain bangsa Eropa . Pengarang kritis Dan Brown telah menelanjangi semua ini,  agama disebarluaskan untuk membungkam semangat melawan penindasan (jihad) suatu bangsa.

 

Dan Brown mengangkat perdebatan yang telah berlangsung lama mengenai keabsahan pernyataan iman Kristen dan  keilahian Yesus Kristus. Di atas konspirasi yang penuh kontroversi petinggi dan pelaku agama yang demikian kontroversial inilah perjalanan agama ini penuh perseteruan tiada akhir, penyebaran kebencian, perampokan atas nama agama  dan  linangan darah dan airmata.

 

Saat-saat genting 40.000 pasukan agama yang hebat, pongah dan sangat jumawa yang dikenal dengan tentara Perang Salib di bawah  Peter The Hermit menyerbu tanah suci Palestina dengan  fanatisme agama membabi buta. Arthur Henry Hallam - 1811 –1833, seorang penulis Inggris menggambarkan , kebrutalan pasukan Salib yang memancung leher siapa saja, termasuk anak-anak, orang tua, perempuan dan  penduduk desa di Palestina. Kebiadaban pasukan Salib di bawah Peter The Hermit  ini menyebabkan Yerusalem penuh genangan darah setinggi mata kaki,  serakan bangkai-bangkai  manusia yang tiada terpermanai memberikan pemandangan yang belum pernah terjadi.

Ditahun yang sama  (1096) tentara-tentara Salib sebelum menyerang  Syria, mereka melewati Bulgaria dan Hongaria. Dalam perjalanan ke  Syria itu,  penduduk Burlgaria dan Hongaria yang Muslim dibantai habis-habisan

Sejarawan  Inggris , antara lain  Jhon Stuart Mill , Arthur Hallam, Jonathan Phillips  dan masih banyak lagi menggambarkan kota Muslim Malleville di Hungaria tangan-tangan  tentara Salib penuh dengan darah, pemerkosaan, pembantaian  terhadap kaum Muslimin yang sama sekali tak bersalah di kota itu. Inilah kanibalisme yang dimaksud, kanibalisme zaman modern.

 

Sejarawan Inggris itu menuliskan pula tak peduli orang tua renta, ketidaktahuan anak-anak, kelemahan kaum perempuan samasekali tak dihiraukan tentara dari sebuah agama yang mengaku agama paling benar  di dunia itu.

Punai terbang di atas langit Aceh, tentara kaphe-kaphe Belanda tersudut di sebuah pojok di bawah tebing curam di Banggalang, Nagan Raya. Dalam posisi terpojok para mujahidin Aceh menyasar kaphe-kaphe Belanda yang tersasar sampai ke puncak gunung itu dengan tembakan. Akhirnya dari 50 tentara kaphe-kaphe Belanda, tinggal 10 orang yang hidup, dan mereka ditawan sebagai tawanan abadi. Mereka dikerangkeng di sebuah hutan dan dijaga dengan ketat,  agar tak leluasa melarikan diri.  Dari 10 orang tentara kaphe yang ditawan itu, tinggal dua orang yang hidup. Delapan orang sakit dan mati. Begitulah kehidupan kaphe-kaphe Belanda yang putih maupun yang hitam dalam tawanan para pejuang Aceh yang diperlakukan dengan penuh perasaan kemanusiaan dan nilai-nilai agama bangsa Aceh yang tak semena-mena kepada musuh yang sudah takluk dalam kekuasan mereka.(Bersambung)

 

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...