21 March 2019

Sebuah Kritik dari “Acehku Aceh”, Setiap Kali Ada Bencana, Bantuan Yang Datang Sangat Banyak, Tetapi..,

KONFRONTASI -   Acehku aceh, acehku aceh, acehku di mana-mana …
Bantuan datang, bantuan datang
Bantuan datang dari mana-mana
Bantuan datang, bantuan datang
Bantuan sudah datang di sana …

Demikian penggalan puisi karya Thomas Budi Santoso, yang kemudian digubah menjadi naskah teatrikal oleh Leo Katarsis, yang dipentaskan di Gor Djarum Kaliputu Kudus, dalam rangka HUT Djarum ke – 56, Jum’at (20/4).
Instalasi perahu, lampu warna-warni menghias panggung berukuran 7 x 6 m. Tarian ala aceh hadir sebagai pembuka, dilanjutkan dengan pembaca puisi oleh tiga begawan penyair Kudus Yudhi MS, Asa Jatmiko dan Jumari HS.
Tak lama berselang, lampu padam. Gelap. Hanya iklan Djarum yang terlihat di kanan – kiri panggung. Tepat sepuluh menit kemudian, penataan panggung selesai. Teriakan dari balik panggung, menggema. Kembali tarian ala aceh disuguhkan. Panggung menjadi lebih berwarna, setelah lighting dinyalakan. Dan, pementasan teatrikal Acehku Aceh, dimulai.
Seseorang dengan langkah tersuruk-suruk, melintas. Dengan sepucuk pelita di tangan, dia menghampiri wajah-wajah kosong tak berjiwa, sambil melantunkan tembang manyayat yang terus diulang-ulang.
Hening. Tegang. Penonton terpukau. Hanyut dalam perasaan masing – masing, mencoba menafsirkan makna pementasan dalam hati. Para Wartawan dan fotografer, tak mau ketinggalan momen. Mereka memasang ancang – ancang, dan … Cepret, cepret, cepret. Mereka mengambil gambar dari berbagai angel.
“Teatrikal ini bercerita tentang bencana di aceh, dan menyindir moral bangsa. Di mana setiap kali ada bencana, bantuan yang datang sangat banyak, tapi jarang sekali sampai pada tangan korban,” tutur Pimpinan Produksi Jumari HS. kepada INFO KUDUS usai pementasan.(Jft/INFOKUDUS)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...