Sebuah Karya Sastra Yang Sukses dan Berhasil di Indonesia Adalah "Hikayat Prang Sabi"

KONFRONTASI -  Hikayat Prang Sabi sebagai karya sastra, sebagai "puisi perang", benar-benar telah berhasil mencapai sasarannya dan benar-benar telah membuat pimpinan dan serdadu-serdadu tentara colonial Belanda mati ketakutan.
Untuk apa Hikayat Prang Sabi dicipta? Pengarangnya telah melukiskan dengan indahnya dalam dalam empat rangkum sajak yang terjemahannya lebih kurang sebagai berikut:
 
Setelah puji salat dan salam
Sewarkah hadiah hamba sembahkan,
Dengan hidayah Khalikul Alam,
Hikayat Perang Sabil hamba kisahkan.
 
Pekabaran al-Quran akan direka,
Pinta kakanda pada adinda
Menolak kehendak layak tiada,
Meski karangan kurang sempurna.
 
Benarlah ini amalan terpuji,
Semoga Ilahi beri pahala,
Berguna hendaknya bagi semua,
Handai tolan sahabat segala.
 
Ganti memberi keris berdulang,
Lumbung padi berderet rapi,
Ganti pusaka pucuk kerawang
Inilah rangkaian intan baiduri.
 
Dari lukisan ini jelas kita lihat bahwa pengarang bermaksud untuk membangkitkan semangat perang sabil dalam hati rakyat, sehingga mereka bersedia syahid dalam mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.
Gambar mungkin berisi: teks
 
Dari kenyataan sejarah terbukti bahwa Hikayat Prang Sabi benar-benar telah menjiwai perang Aceh lawan Belanda selama puluhan tahun, benar-benar telah membuat rakyat Aceh menjadi "Muslim sejati"  yang tidak takut mati untuk membela kebenaran, alhaq; benar-benar telah melahirkan pahlawan-pahlawan yang tidak ingin pulang dari medan perang; benar-benar telah menjadikan Aceh sebagai neraka bagi tentara Belanda sepanjang sejarah penjajahan di rantau ini.
 
Bagaimana besarnya pengaruh Hikayat Prang Sabi dalam membangkitkan semangat perang, sehingga menyebabkan kedudukan tentara Hindia Belanda sangat terjepit, oleh seorang pengarang Belanda yang bernama Zentgraaf telah melukiskan tentang hikayat tersebut sebagai berikut:
 
" …. menig jong man deersteschreden op het oorslogpad onder denmachtigen indruk dier lectuur op zijn emotioneele ziel zeer gevaarlijke lectuur …. (….. Para pemuda meletakkan langkah pertamanya di medan perang atas pengaruh yang sangat besar dari karya-sastra ini, menyentuh perasaan mereka yang mudah tersinggung …. karya-sastra yang sangat berbahaya ….)
 
Seorang sarjana barat lain, Prof. Dr. Anthony Reid, ahli sejarah berkebangsaan Australia, melukiskan Hikayat Prang Sabi itu sebagai sesuatu yang sangat dahsyat, berikut kutipannya:
 
This ulama activity of the 1880’s produced a whole new literature of popular epic poetry in Atjehnese. The Hikayat Perang Sabil was the most famous of these exhortations to the holy war, but Teungku Tiro, Teungku Kuta Karang and others also circulated their own shorter works stressing the helplessness of the kafir and the successess in store for Atjehnese when once the true disciplines of Islam. Scular poets like wise compose more entertaining accounts of the heroism of the Atjehnese and the more comic aspects of Dutch policies. These poems, read aloud by one of their number, became the most popular evening entertainment for the young men gathered in the meunasah (communal hall)
 
Kegiatan para ulama sekitar tahun 1880, telah menghasilkan sejumlah karya sastra baru yang berbentuk puisi kepahlawanan populer dalam lingkungan rakyat Aceh. Hikayat Prang Sabi adalah yang paling masyhur dalam membangkitkan semangat perang suci, bahkan Teungku Tiro, Teungku Kuta Karang dan ulama-ulama lainnya, juga telah menyiarkan karya-karya pendek mereka yang melukiskan kelemahan pihak kafir dan kemenangan telah tersedia untuk rakyat Aceh apabila pada satu waktu nanti mereka telah menerima kebenaran ajaran-ajaran Islam. Para penyair duniawi juga telah mencipta sejumlah bacaan hiburan yang melukiskan kepahlawanan rakyat Aceh dan segi-segi kelucuan dari para politisi Belanda. Syair-syair ini, yang dibaca nyaring oleh salah seorang mereka, telah menjadi hiburan malam yang terpenting bagi para pemuda yang berkumpul di meunasah (ruangan bersama).
 
Setelah membaca pandangan dua orang asing tentang berhasilnya Hikayat Prang Sabimencapai sasarannya, seorang di antara mereka adalah musuh rakyat Aceh pada waktu itu.
 
Marilah sekarang kita coba melihat dari perspektif orang Aceh sendiri tentang hal tersebut.
 
Dalam sepatah kata pengantar salinan naskah Hikayat Prang Sabi, pengarang Anzib telah berhasil mengarang sebuah prosa bahasa Aceh yang menggambarkan betapa takutnya Belanda kepada akibat dari meluasnya Hikayat Prang Sabi sehingga oleh pembesar Belanda yang berkuasa di Aceh waktu itu dilarang membacanya. Lukisan tersebut antara lain berbunyi sebagai berikut:
 
Salinan dalam bahasa Indonesia
 
Apabila Belanda mengetahui ada orang yang menyimpan Hikayat Prang Sabi, terus dirampas dan penyimpannya dihukum, demikian pula terhadap siapa saja yang membacanya.
 
Penyalin naskah ini pernah mengetahui, ada seorang orang yang bernama Leem Abah, penduduk kampung Peurada Kemukiman Kajee Adang daerah XXVI Mukim. Pada suatu malam dia mendengar orang membaca Hikayat Prang Sabi. Besoknya tanpa diketahui siapa pun, pada pagi-pagi buta dia telah berada di Pekan Aceh di depan Societeit Atjeh Clup (sekarang Balai Teuku Umar), di mana dijumpainya seorang Belanda sedang berjalan-jalan, lantas dengan mendadak Leem Abah menghunus rencongnya yang disembunyikan dalam lipatan kain dan ditikam Belanda itu tepat pada dadanya, hingga jatuh terlentang dan tewas di tempat.
 
Sesaat kemudian, Leem Abah tersebut ditangkap dan akhirnya diinternir ke Pulau Jawa, yang mungkin telah dibunuh, sebab tidak pernah pulang lagi ke Aceh.
 
Peristiwa ini terjadi pada tahun 1907, pada waktu pertama kali Belanda menetapkan wajib pajak bagi orang Aceh.
 
Selain dari peristiwa tersebut pada masa itu, masih banyak lagi terjadi kejadian-kejadian yang serupa, di mana satu dua orang masuk kota dan terus membunuh Belanda, sehingga terpaksa diadakan penjagaan yang ketat, dan siapa saja yang dicurigai terus ditangkap.
 
Demikianlah tajam dan berbisanya kandungan Hikayat Prang Sabi itu. Karena itulah, maka Belanda takut setengah mati kepada orang yang membaca ataupun mendengar Hikayat Prang Sabi tersebut.
 
Lantaran itu, di mana saja diketahui ada orang yang menyimpan hikayat tersebut, terus dibeslah (diambil dengan paksaan) dan penyimpannya dihukum berat, agar orang lain menjadi ketakutan.
 
Sungguh pun demikian, Hikayat Prang Sabi tersebut tetap disimpan orang kita naskahnya dengan cara sembunyi-sembunyi, ataupun ditulis kembali karena banyak orang yang bisa menghafalnya.
 
Sebab itulah, maka kadang-kadang terdapat sedikit perbedaan antara satu dengan lain naskah.
 
Lukisan di atas sudah cukup jelas!
 
Uraian pasal ini akan saya akhiri dengan menukilkan sebuah lukisan pengarang Anzib yang lain lagi, bukan prosa, tetapi puisi dalam bahasa Aceh juga, yang juga menggambarkan kehebatan Hikayat Prang Sabi, yaitu sebagai berikut:
 
Kendati beracun rencong dan pedang,
Hikayat Perang Sabil lebih berbisa,
Belanda takut lutut bergoyang,
Kisah dilarang menyimpan-membaca.
 
Di zaman Belanda hikayat dilarang,
Siapa menyimpan hukuman berganda,
Karena kandungan merangsang perang,
Mengobar semangat lawan Belanda.
 
Demikian kisah mengandung racun,
Mematikan kafir Belanda celaka,
Penyimpan dihukum tiada ampun,
Hikayat dirampas, pembaca disiksa.
 
Kaki tangan Belanda berkeliaran,
Siang malam sibuk mencari,
Demi diketahui siapa penyimpan,
Kepada Belanda laporan diberi.
 
Sesaat ketika serdadu pun datang,
Hikayat disita, pemilik digari,
Kepada Belanda dipersembahkan,
Penyimpan digiring ke dalam tangsi.
 
Demikian hikayat merangsang perang,
Membangkitkan semangat pendengar berita,
Di mana jumpa Belandi dicincang,
Hilang melayang cinta dunia
 
Dari uraian-uraian yang telah diketengahkan di atas, jelaslah bahwa Hikayat Prang Sabisebagai suatu karya sastra, sebagai puisi perang, sebagai epic poetry telah berhasil dengan gemilang, dan pengarangnya Teungku Chik Pante Kulu berhaklah mendapat gelar “penyair perang” terbesar di dunia. []
 

Catatan Akhir
 
[1] Teungku Chik Pante Kulu, Hikayat Prang Sabi, halaman 16
 
 Yang dimaksud dengan abang (kakanda) di sini yaitu Teungku Chik di tiro Muhammad Saman (Catatan Ali Hasjmy)
 
Semacam perhiasan kebesaran di Aceh yang terbuat dari emas murni (Catatan Ali Hasjmy)
 
 Zentgraaf, Aceh, halaman 244 yang dikutip dari Sinar Darussalam No. 5, halaman 79
 
[Anthony Reid, The Contest for North Sumatera, halaman 252
 
[Anzib, Pengantar Naskah Hikayat Prang Sabi, halaman 89
 
[Pengarang Anzib berpendidikan guru dan pada waktu sebelum Perang Dunia II beliau menjadi guru di samping menjadi pengarang. Banyak karangan-karangan beliau dalam bahasa Aceh baik prosa atau puisi. Balai Pustaka pernah menerbitkan karangan beliau, antara lain buku sejarah Sultan Iskandar Muda yang di-Indonesiakan dari bahasa Aceh. Beliau adalah pengarang, penyair dan ahli bahasa Aceh. Sekarang beliau telah pensiun, tetapi masih terus ada kegiatan dalam bidang kesusasteraan Aceh. Koleksi buku-buku kesusasteraan (hikayat) Aceh agak banyak pada beliau. Saya sendiri banyak mendapat salinan berbagai hikayat Aceh dari beliau, yang disalin dari naskah asli, termasuk di antaranya Hikayat Prang Sabi. Almarhum Abdullah Arif salah seorang yang mengikuti jejak beliau dalam memperkembangkan dan mengumpul karya-karya sastra Aceh (Catatan Ali Hasjmy).
 
Anzib, Pengantar Salinan Hikayat Prang Sabi, halaman 13-14
 
 
 
Cuplikan tulisan di atas disadur dari buku “Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda” karya Ali Hasjmy. Buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang Jakarta, tahun 1977. Adapun cuplikan tulisan tersebut diketik ulang mulai halaman 53-58 dengan sedikit penyesuaian.(juft/SekilasPerangAceh)
 
 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...

 Berita Lainnya:   

Tentang Kami


HOME

Fokus Isu I Nasional I Global I Ekbis I Politik I Tokoh I Enterpreunership I Olahraga I Budaya I Fashion I Gastronomi I Entertainment  I Khazanah I Teknologi  I Ragam I Opini I English I Netizen