16 June 2019

Sangkar Emas: Kehidupan Rahasia Putri-Putri Dunia Arab yang Serba Dibatasi

Keterangan foto utama: Putri Noura binti Faisal Al Saud sedang berbelanja di Mal Al Faisaliah di ibukota Arab Saudi, Riyadh, 19 April 2018

 Sebagian besar wanita di dunia Arab hidup dengan sangat dibatasi. Para wanita yang tinggal di lingkungan yang paling istimewa seringkali berada dalam kondisi yang terburuk. Di bawah sistem perwalian Arab Saudi, kerabat laki-laki, yakni suami, ayah, atau anak laki-laki dalam beberapa kasus, memiliki otoritas penuh untuk membuat keputusan penting atas nama seorang wanita, mulai dari kelahiran hingga kematian mereka. 

 

 Oleh: Ola Salem (Foreign Policy)

 

 

Ketika Sheikha Latifa, seorang putri Dubai, meninggalkan negara asalnya pada bulan Februari 2018 dan akhirnya naik kapal pesiar milik sosialita Prancis kaya, ayahnya Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum dengan cepat mengumpulkan tim untuk melacaknya. Dalam beberapa hari, Latifa secara paksa dibawa kembali ke rumah.

Seluruh kisah itu akan tetap dirahasiakan jika bukan karena video berdurasi 39 menit yang direkam putri yang sekarang berusia 33 tahun tersebut sebelum dia melarikan diri dan bocor setelah dia ditangkap. “Jika Anda menonton video ini, itu bukan hal yang baik,” ia mengingatkan pemirsa dalam pembelaan untuk menyelamatkan hidupnya. “Entah saya mungkin telah mati atau berada dalam situasi yang sangat, sangat, sangat buruk.”


Prediksi mengerikan Putri Latifa tampaknya menjadi kenyataan. Sekarang keluarganya telah mengurungnya dalam tahanan rumah. Namun tindakan terakhirnya demi meraih kebebasan patut mendapat perhatian. Bersama dengan rincian dari upaya pelariannya yang gagal, video tersebut memberikan pandangan langka ke dalam kehidupan rahasia para putri Arab dan para wanita istimewa lainnya dan menyoroti celah menganga antara kisah-kisah fiksi yang menggambarkan mereka dan kenyataan hidup mereka yang mengerikan.

Kebanyakan wanita di dunia Arab mendapatkan pengekangan secara sosial. Keluarga mereka yang bersifat tradisional pada umumnya memberlakukan batasan besar pada perempuan. Tergantung dari suku mana mereka berasal, perempuan mungkin menghadapi batasan pada siapa mereka dapat menikah, berapa banyak kebebasan yang mereka miliki di luar rumah, dapatkah mereka menggunakan media sosial, dapatkah mereka melakukan perjalanan, dan di mana mereka dapat bekerja jika memang diizinkan, apa yang dapat mereka pelajari di sekolah tinggi, kapan mereka harus menikah, dan siapa saja yang bisa melihat wajah mereka.

Di bawah sistem perwalian Arab Saudi, kerabat laki-laki, yakni suami, ayah, atau anak laki-laki dalam beberapa kasus, memiliki otoritas penuh untuk membuat keputusan penting atas nama seorang wanita, mulai dari kelahiran hingga kematian mereka.

Tindakan semacam ini meluas ke lembaga-lembaga publik di luar rumah keluarga. Hingga baru-baru ini, misalnya, Universitas Uni Emirat Arab yang disponsori pemerintah melarang siswa perempuan membawa ponsel dengan fitur kamera. Kampus khusus untuk para wanita dikelilingi oleh dinding yang dilapisi kawat berduri dan gerbangnya dijaga ketat. Universitas masih tersegregasi. Siswa perempuan dapat meninggalkan kampus bersama orang lain hanya jika wali mereka setuju, yang kemudian diberitahu melalui pesan singkat begitu mereka pergi.

“Mereka menggunakan istilah yang berbeda, tetapi sistem perwalian jelas ada di sana. Hanya saja tidak ekstrem seperti Arab Saudi,” kata Hiba Zayadin, penyelidik Human Rights Watch. Di Uni Emirat Arab, khususnya, katanya, tidak ada hukum yang melarang kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan. Perkosaan dalam pernikahan bukanlah kejahatan. Wanita yang bekerja tanpa persetujuan suami mereka akan dicap “tidak patuh.”

Untuk menyiasati batasan-batasan ini, banyak wanita Arab melakukan penipuan. Mereka menggunakan nama palsu di ranah online, mengenakan cadar untuk menutupi identitas mereka di depan umum, menyembunyikan ponsel sekali pakai dari keluarga mereka, dan menyusun rencana rumit untuk menyelinap kabur dari rumah. Hukuman bagi mereka yang kabur dan berhasil tertangkap akan tergantung pada aturan mana yang dilanggar.

Jika seorang wanita diketahui berhubungan dengan seorang pria, pelanggaran itu akan mendorong hukuman yang paling buruk, termasuk hukuman cambuk, hukuman penjara, atau pembunuhan demi kehormatan. Di Arab Saudi, fasilitas penahanan yang disebut Dar Al Reaya, terkenal karena penyiksaan, kurungan isolasi, dan hukuman yang berkepanjangan, menampung kasus “perilaku tidak bermoral.”

 

Pada usia 9 tahun, aktivis hak perempuan Arab Saudi Amani al-Ahmadi diperingatkan di sekolah setempat di Yanbu bahwa gadis-gadis yang bertingkah laku buruk akan berakhir ditahan di fasilitas itu.

Wanita-wanita istimewa di dunia Arab, anggota keluarga kerajaan atau bagian dari keluarga para politisi, dalam banyak hal mendapatkan perlakuan yang paling buruk. “Bagi mereka, penderitaannya tak tertahankan,” kata Hala al-Dosari, seorang aktivis dan sarjana Arab Saudi terkemuka. “Mereka memiliki cara untuk hidup secara berbeda dan paparan tingkat tinggi terhadap perempuan dari budaya lain.”

Wanita yang memiliki hak istimewa seringkali masih dapat mengakses media yang menggambarkan kehidupan perempuan di Barat, dan seringkali memiliki kontak langsung dengan mereka. Dalam masyarakat yang mayoritas pendatang, banyak dari mereka yang bekerja di istana adalah orang asing. Di luar istana, interaksi dengan orang asing sering terjadi di sekolah swasta dan saat bepergian ke hunian milik keluarga mereka di luar negeri.

Tetapi pemandangan ini hanyalah pengingat akan kehidupan yang bisa mereka miliki. Bagi banyak wanita tersebut, kekayaan bukanlah hiburan yang setimpal bagi ketidakmampuan mereka untuk membuat pilihan yang mereka inginkan.

Yang memperparah masalah adalah kemunafikan yang merajalela. Banyak keluarga Arab yang memiliki privilege lebih suka menampilkan diri mereka ke dunia luar sebagai sosok liberal dan duniawi. Putri Latifa, misalnya, adalah putri salah satu penguasa Arab paling terbuka di Teluk Persia, yang sering terlihat bersama istrinya Putri Haya binti al-Hussein dan anak perempuan mereka tanpa mengenakan kerudung. Sheikh Mohammed bahkan telah berbicara menentang kekerasan dalam rumah tangga dan mendorong perlindungan yang lebih besar bagi anak di bawah umur di negara itu.

Tetapi perlakuannya terhadap putrinya berlawanan dengan citra internasional itu. Hal itu disebabkan oleh aturan Sheikh Mohammed di rumah yang juga tergantung pada sikapnya yang dilihat oleh rakyatnya sebagai berpegang pada nilai-nilai tradisional. Beban ini diletakkan terutama pada pertanyaan tentang hak-hak perempuan, dalam keluarga dan negara.

Setiap wanita yang mengancam citra patriarkis keluarga atau tatanan umum patriarkis akan dikurung, di rumah atau oleh negara. Bukan hal yang aneh bagi wanita untuk menghadapi tahanan rumah seperti yang sekarang dialami oleh Putri Latifa.

Maka upaya pelarian para putri Arab tak begitu mengejutkan dan bukanlah hal baru. Ini bahkan bukan upaya pertama Putri Latifa untuk melarikan diri. Tahun 2002, ketika dia berusia 16 tahun, dia mencoba menyeberang ke Oman, tetapi dia kemudian dipenjara, disiksa, dan tidak diberikan bantuan medis. Seperti yang dijelaskan Putri Latifa dalam video itudia awalnya merasa termotivasi untuk melarikan diri setelah kakak perempuannya, Putri Shamsa, gagal dalam upaya melarikan diri, lalu ditempatkan di penjara istana selama bertahun-tahun.

Masalahnya meluas ke luar Dubai. Yahya Assiri, direktur kelompok hak asasi manusia ALQST yang berbasis di London, yang telah bekerja atas nama para wanita Arab yang berusaha melarikan diri dari penindasan, mengatakan ia dihubungi pada tahun 2013 oleh empat anak perempuan almarhum Raja Abdullah dari Arab Saudi yang tertarik untuk melarikan diri dari negaranya. Keempatnya saat itu berada dalam tahanan rumah, dengan dua orang berada dalam tahan berbeda dengan dua orang lainnya, katanya.

Setelah saudara tiri Abdullah, Salman, naik tahta, Assiri kehilangan semua kontak dengan dua orang gadis di antaranya dan ibu mereka, yang berusaha membantu mereka melarikan diri. “Pesan terakhir saya kepada ibu mereka adalah bertanya apakah dia bisa menyelesaikan masalah atau apakah dia diancam. Kami hanya ingin tahu apakah pekerjaan kami dapat membantunya dengan cara apa pun,” kata Assiri. “Kami masih belum mendapatkan jawaban.”

Meskipun gadis-gadis itu menghilang, Assiri terus mendapat telepon dari putri-putri lain di keluarga kerajaan Arab Saudi yang meminta bantuannya untuk meninggalkan negara itu. Tantangan terbesar sejauh ini adalah bahwa wali laki-laki dari para wanita biasanya telah menyita paspor mereka. “Tidak banyak yang dapat Anda lakukan jika mereka tidak memegang paspor mereka sendiri,” katanya.

Meskipun pelarian Putri Latifa gagal, hal itu tidak menghalangi wanita lain di wilayah tersebut untuk melarikan diri, meninggalkan kekayaan dan hak istimewa mereka di kerajaan demi mendapatkan peluang mencapai kebebasan di Barat. Bulan Januari 2019, Rahaf Mohammed, putri Gubernur Sulaimi di Arab Saudi utara, mendapatkan suaka di Kanada setelah menghadapi risiko deportasi kembali Saudi dari Thailand.

Dia menulis di Twitter dengan marah dari penahanan selama hampir satu minggu, menarik perhatian dunia, sebelum Kanada melakukan intervensi. Mohammed beruntung, kata Zayadin. Untuk setiap kisah pelarian yang berhasil, ada banyak kisah yang gagal atau bahkan tidak diketahui.

Sama seperti Putri Latifa, Mohammed melarikan diri karena ada pembatasan atas gerakan, pendidikan, dan perawatan kesehatannya. Serta, ia dilarang melaporkan kekerasan dalam rumah tangga. Mohammed diberi tahu bahwa dia tidak dapat memotong rambutnya karena rambut yang panjang lebih disukai oleh pria yang mencari seorang istri, tetapi dia tetap memotong rambutnya. Sebagai tanggapan, keluarganya menahannya di tahanan rumah sampai rambutnya tumbuh kembali.

“Saya punya uang, tetapi saya tidak punya kebebasan,” katanya dari Kanada. “Saya tidak butuh uang. Yang saya inginkan adalah kebebasan dan kedamaian pikiran.” Keluarganya di Arab Saudi kini tidak mengakui dia, demi membebaskan diri mereka dari rasa malu yang ditimbulkan atas keluarga.

Kasus-kasus Putri Latifa dan Mohammed dapat menarik publisitas buruk di luar negeri, tetapi kisah mereka membantu otoritas Teluk memenangkan dukungan di dalam negeri. Kisah Mohammed dengan segera dipolitisasi di Arab Saudi. Ia menerima liputan media luas di dalam kerajaan dan membantu memberi narasi bahwa pemerintah asing menggunakan perempuan Arab Saudi untuk melayani agenda mereka sendiri.

Media juga menyoroti bahwa Mohammed ingin meninggalkan agamanya, sebuah dosa besar bagi umat Islam yang pada umumnya dapat menimbulkan hukuman mati. Kaum konservatif di Arab Saudi menghargai sikap tegas pemerintah atas undang-undang perwalian demi melindungi perempuan.

Banyak pihak mengagumi inisiatif orang-orang seperti Absher, yang disebut sebagai “aplikasi pelacakan wanita,” yang mengirimkan pemberitahuan kepada para wali jika wanita di bawah perwalian mereka mencoba bepergian ke luar negeri.

Yang jelas, kisah Muhammad, seperti kisah Putri Latifa, telah mengguncang keluarga di wilayah tersebut. Beberapa di antara mereka telah mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari kehilangan putri mereka. Dari Kanada, Mohammed telah dihubungi oleh teman-teman dan wanita lain di wilayah tersebut yang telah mengatakan kepadanya bahwa keluarga mereka telah mengambil paspor mereka dan mengatakan kepada mereka bahwa mereka tidak akan pernah bisa bepergian lagi. Para wanita mengatakan bahwa mereka takut.

Bagi Mohammed, sudah seharusnya mereka merasa takut. “Untuk membantu para wanita, Anda harus mengeluarkan mereka sepenuhnya dari wilayah tersebut,” katanya. “Sistem di sana tidak mendukung mereka. Mengirim bantuan saja tidak akan berhasil.”

Ola Salem adalah jurnalis Inggris-Mesir dengan pengalaman satu dekade meliput Timur Tengah. Saat ini ia adalah kandidat MS di Universitas New York.

  . (Jft/matamatapolitik)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...