22 September 2019

Sajak-Sajak Malam : Warih W Subekti

Di Puncak Malamku

Di puncak malamku
hanya Kau dan aku
hening bebatuan menguning

angin lembut menyusup pori-pori
kau singkap horden jendela
bulu kuduk meremang, aku terbata

pepohonan diam
serangga dan ilalang ke mana perginya

Kau dan aku tetap saling menatap
tak tahu sampai kapan ?
sampai karam oleh kelam ...

Jakarta, 2014.

 

Sajak Tentang Malam

Malam saat yang aku tungggu
sepi juga sunyimu suatu yang aku nanti
menyaksikan rembulan dan bintang gemintang di cakrawala
lewat genting kaca sesuatu yang tak akan kulupa

Entah kapan hal itu aku terakhir aku lakukan
ingin sekali aku mengulangi
kemana genting kaca itu yang telah membuka imagiku
pada semesta juga cakrawala luas tak berbatas di atas sana

Mataku tak berkedip meski tubuhku terbujur di dipan tua beralas tikar
menyaksikan awan berarak melintasi rembulan yan timbul tenggelam
pijar bintang hingga subuh kujelang
ah masa itu kapan kan terulang ?

Jakarta, 2014.

*) Warih W Subekti, Saat ini berkelana di Jakarta, menulis puisi dan diskusi. (Warche/konfrontasi)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...