20 March 2019

Sajak Sahaja untuk Arief Jokowicaksono, Arwinto Syamsunu Aji, Remmy Novaris DM dan Taufik Rahzen

BERKELEY

untuk penyair Arief Jokowicaksono dan Arwinto Syamsunu Aji

 

Kalau puisimu sebutir bintang,

mungkin bakal terkaca di tangga kampus yang panjang.

kalau tubuhmu sebutir debu,

mungkin bakal lekat di sol sepatuku yang kelu.

 

gerimis mengirimkan para profesor

ke selokan selokan kotor

mahasiswa mahasiswa yang kecewa dan letih dengan diskriminasi

mengebatkan protes di selangkang matahari

 

tapi rambut kekasihku yang memutih

melepaskan hujan ke dinding librari yang berpaling pedih

seperti tangis maria magdalena yang  merintih

 

di berkeley, pintu gerbang dibuka malaikat dini hari,

dan ketika kau aku meninggalkan padang Arafah ke kampus inii,

melangkah dari gua Ashabul Kahfi  kemari

kita hanya jadi sepi, jadi buku buku tua, rak rak besi,

 maut yang pucat pasi.

 

UC Berkeley 2012

--------

LAGU SENJA DI CENTRUM, PRAHA

kepada Taufik Rahzen

 

Kemanakah angin pergi, kasihku

                        Ke hulu sungai  Vitava yang jauh

                                     Ataukah ke menara Vaclav Havel yang rapuh

Desau hujan mengirimkan rimba yang gemuruh

 

Dan kita,  hanya dingin kaca

yang retak, menepi ke tingkap cendela

 

Kemanakah musim  bertiup, kasihku

                   Kepada kelana dan hutan poplar yang sayup

                                         Ataukah ke  rumah Frans Kafka  yang  redup

Desah kabut seperti jantung yang letih berdegup

 

Kemanakah kita pergi, Tuhanku

Setelah pengembaraan yang jauh ini, setelah terjatuh dari Sidratul Muntaha

setelah resah dan sia-sia berdiri

Memisahkan kabut dari sunyi ?

 

Praha-jkt 1993/2006

-------

Potret Kuala Lumpur Untuk Remmy Novaris DM

 

Dinding dinding ini berbicara

Tentang kelaminmu yang jalang

musim syahwat yang penat,

abad abad Adam-Hawa yang lewat

 

 

Tubuh kekasihmu berputar putar

Melingkar lingkar

Menggamitku bagai ular

Rohku yang gemetar oleh  dingin hujan

Terpukau dan terkapar

di temaram kamar

 

Malam yang porak dan terpuruk

Melahirkan bayi terkutuk

Bayang bayang kota membangunkan pasar tua

bagi perempuanmu yang  sejak lama setengah gila

 

pada malamku yang  senyap, seorang puak melayu,

barangkali datang dari Pahang ,

membakar mimpinya  di atas sofa beludru kamarmu

dengan  zakarmu yang  membiru

 

Lendir lendir yang mengalir

seperti sungai

akhirnya mengering di hilir,

di kelangkang pantai yang  berpasir

 

Lalu, pada parasmu yang  menciptakan lobang  legam

sepiku menghitam

tenggelam ke  dasar malam

 

Ah, mimpimu cuma perempuan yang pendiam

Berpaling dari Kelam

Dengan  patung Lady Dianamu yang menghitam,

biarkan kenanganmu yang  buruk, menyembilu

kurajam dalam seribu Malam  

 

Equatorial Hotel, 2003

-------------------------------

Saja-sajak Herdi Sahrasad

WEIMAR

begitu salju gugur sunyi dalam sajakmu terhambur

angin yang pingsan di beranda perlahan siuman melulur senja

kauseret tubuhku ke dalam pelarian cinta menerjang kesunyian beludru

sejak lama gairah liar tertahan hingga rindu berbulu bulu

hasrat hening, firasat bening luka dan duka lebur seakan piano henti berdenting

kita termangu, sunyi gemerincing sendiri dalam gelas dan piring piring merasuki dinding

berdua sedeku di musim beku seribu udara berpacu di puncak waktu hingga segalanya lengkap, dan saling tahu: sepi yang mengucur ke ulu hatimu, menjelma api yang mengalir dalam darahku

1995-2004

ITHACA

tiba-tiba seseorang datang melepas gaunnya seperti cahaya temaram perlahan menanggalkan kelam

dinding kamar berdebar oleh cahaya dibalik rambutmu yang pirang sesosok kabut merebahkan diri dan terlentang seraya mengucapkan �selamat malam kepada penyair dari kepulauan yang muram

hutan-hutan membentangkan ruang bagi dengus zakar yang menegang bulan di balik awan telah lama padam ditinggalkan kembara yang pendiam

kita saksikan daun-daun mapel di halaman resah bergesekan diterpa deru nafasmu nafasku yang berkejaran di udara

di kejauhan, entah derap bison atau desau pohon meledakkan sunyi ke pintu balkon

pikiranku telah letih menyusuri sungai kenangan yang perih antara tembok universitas tua dan kota kecil yang makin renta jam demi jam mengucur pedih: musim gugur terlunta dan merintih

1994-2004

MELEWATI BINGHAMTON

Tangan tangan musim gugur Menerpa sinagoga dan menara Binghamton Seakan mengulur pisau pisau cukur dari pohon ke pohon

Kurenggut tubuhmu yang kokoh bagai kayon, Terbayang perempuan Palestinaku di Hebron Hanya angin, hanya dingin membekas kenangan, terulur di tiap sekon

Jericho-new york/jkt, 1990-2006

Hersi Sahrasad (Herdi SRS) adalah aktivis Prodem, penyair dan peneliti independen, mantan visiting fellow di Monash University Australia, Theodor Heuss Akademie Jerman, dan Indiana University AS.

 

NB: Foto, kenangan sang penyair  bersama para mahasiswa, selama riset independennya di UC Berkeley.  This was a memory of my research days at University  of California Berkeley, USA, 2012..

------------------------ 

Herdi Sahrasad, penyair jalanan, Associate Director the Media Institute & Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina dan dosen Sekolah Pasca Sarjana Univ. Paramadina

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...