26 May 2019

Sajak Lagu Keparat - Puisi-puisi Moh Mahfud

PADA AKHIRNYA

pada akhirnya sayang

kita masuk hutan dengan jalan
yang setiap sisinya disisipi sepi, 
dan angin serta nyala daun
berdesakan mengirimkan desir
pada naluri kita masing-masing

“peluklah, sayang

biarkan kenanganmu mengalir
bersama puluhan anak-anak doa
kelangit dan kedetak bibir kita”
katamu sambil berlangkah waktu itu.

Namun, pada akhirnya sayang
kita adalah Cecilia dan Malaikat Ariel
sepanjang kisah Jostein Gaarder

Banjarmasin 30 september 2014

 

PENCARIAN KE LAGU 'DEAR GOD'

pada rokaat yang jenuh

kakimu bergetar dijalan-jalan

harapanmu berputar dilangit luar

dan matamu bersalipan air mata

namun, kau begitu setia mengantarkan malam

dengan lagu-lagu yang diguncang-guncangkan

A lonely road, crossed another cold state line
Miles away from those I love purpose undefined
While I recall all the words you spoke to me
Can’t help but wish that I was there
Back where I’d love to be, oh yeah
kau mendekap erat
dadamu yang terbakar
berharap tak ada yang bakal hilang sedetik pun
lalu tangan disekejur badanmu
membentuk pohon-pohon naluri yang berduri

saat malam bertukar langit
kau mencatat lagumu disebatang jalan kota
dan menyanyikannya dengan dada yang dibuka

Dear God the only thing I ask of you is
To hold her when I’m not around
When I’m much too far away
We all need that person who can be true to you
But I left her when I found her
And now I wish I’d stayed
‘Cause I’m lonely and I’m tired
I’m missing you again oh no
Once again

setelah itu kau menggapai-gapai doa
tanganmu dihentak-hentakan keluar jendela
berharap malam itu hujan turun penuh duka
dalam tubuhmu juga dalam doa dan dosa
sementara diluar
hujan benar-benar terhenti
hujan tak akan mengalir lagi
kedalam ruang padat dadamu
ia akan menyeruap dicelah-celah badan
entah badan siapa dan kemana

semantara bibirmu menemukan lagu lagi
dalam setiap hujan yang mengalir. lalu kau berbisik.
hujan adalah dosa yang mengalir dari banyak langit
dan dari luar jendela, ada yang memetik kecapi dan bernyanyi

Some search, never finding a way
Before long, they waste away
I found you, something told me to stay
I gave in, to selfish ways
And how I miss someone to hold
When hope begins to fade

kau bakal memutuskan langit menjadi atapmu
kau bakal melubangi jalan agar kelak ada persembunyian
kau bakal menjadi liar dan kasar
kau bakal melumat bibir-bibir pencari jasad
namun, kau bakal terus-terusan asing dalam dirimu sendiri
juga pada waktu yang melebur kabur

Banjarmasin 9- Agustus- 2014

 

SAJAK LAGU KEPARAT

dari larik yang mencekik

suaramu segempur tanah yang habis di tebas

lalu aku membangun seperempat luka dari matamu ketanahku

seperti lagumu yang bertukar detak doa dan petaka

“heart beats fast
colors and promises
how to be brave
how can i love when i’m afraid to fall
but watching you stand alone
all of my doubt suddenly goes away some how
one step closer”

kau mengajariku sejenak

menenun air mata dalam jarak

lalu mengatakan kalau doa bakal terangkat saat mataku terpejam

aku mengapai-gapai, namun itu luka yang tumbuh disemak-semak bibir

dan sesekali lagumu mengajariku bagaimana daun tumbuh yang benar dan mekar

aku pun berusaha tertanam pada serak matamu yang bergumam air

namun, lagumu menyentak-nyentak dari seberang pintu

“i have died everyday waiting for you
darling don’t be afraid i have loved you
for a thousand years
i love you for a thousand more

seberapa abad cinta yang lalu,
kau selalu berdesah kalau suaramu demam, kau suruh aku memelukmu
lalu kenapa tanganmu mengapai-gapai pada tangkai pohon-pohon lain.?
sementara dari luar jendela segerombolan merpati mengepak sutra yang kau kenakan
lalu rambutmu terurai kelantai menjadi lorong segala kemauan yang dipisahkan detik
dan kau menutup jendela, menangis sejenak memutar kembali lagumu

“time stands still
beauty in all she is
i will be brave
i will not let anything take away
what’s standing in front of me
every breath
every hour has come to this
one step closer

Cinta itu petaka, katamu
namun kau menyusunnya tiap helai lagu untuk kekasihmu
pada detak detik kau selalu menamakan gelisah dan indah
sejajar dengan malaikat yang berputar-putar dilangit kamarmu.
sementara kekasihmu hanya perajut puisi dan pembaca doa
dan menjadi makna pendendang lagu yang sempurna

Banjarmasin  08- Agustus- 2014

 

EPISODE HUJAN DI KOTA AIR

-untuk keluarga PHS

 

sepanjang hujan di kota seribu sungai

kita di lahirkan sebagai anak-anak perahu

menampung air yang menyukai gigil.

setiap baris hujan merampungkan kesepian

seperti teluk surga dalam mimpi pagi kita.

 

sahabat, jika malam ini hujan turun saat mimpi tak lagi di butuhkan

maka aku ingin tubuh kalian diam manjadi dingin lalu memberiku pelukan

hingga aku tak mengenali hujan siapa yang datang malam-malam, kecuali kepergiannya

 

sepanjang hujan disini, naluriku.

siapa yang bisa menampung nyeri lalu pura-pura memberi ciuman?

setiap kali yang gemetar adalah hujan yang memburu ketenangan

juga sepi yang tak berkesudahan dalam menit yang di buru

pada aluriku sendiri. juga mata kalian

 

Banjarmasin 3 februari 2014

 

 

GADIS KECIL DI MINGGU RAYA

 

sebelum aku mencintaimu, cinta.

kita adalah sekawanan gadis kecil

yang memandangi jalan kota lalu melihat langit

sambil berharap hujan malam itu datang di dekapnya yang erat

sesekali ia peluk boneka putri yang di belikan ibunya malam itu

kemudian melihat jalan kota lagi, seperti tubuhnya yang sunyi.

 

rupanya, ia berharap malam benar-benar tak jadi untuk saat ini

bajunya yang cemas dan mata dinginnya,

kini membentuk laut pagi tanpa debur bising ombak

kaki-kakinya beranjak pelan dalam jalan keramaian.

mungkin sebentar lagi ia bakal tidur

lalu memimpikan ibunya datang membawa bulan

membawa naluri cinta yang pernah ia tinggil, sendiri dengan ayahnya

 

barangkali, cinta

kita adalah sepasang anak kecil tanpa ibu 

lalu kita dibesarkan dengan penuh kaharuan

penuh mata air yang menyimpan kutukan kenangan.

 

Banjarmasin 3 februari 2014

 

 

MUSIM BULAN

 

kalau malam ini ada bulan

meski tanggal geming

datanglah padaku

aku punya hujan 

yang selalu membasahi waktu

 

Banjarmasin 2 februari 2014

 

SUNGAI MALAM BANJARMASIN

"kalau aku tak pulang

maka, tengoklah ke belakang sungai

mungkin aku lagi melihat langit malam

pada ruang yang selalu sendiri"

 

tak ada lagi pitutur

atau hujan yang biasa datang sore ini

yang segalanya membentuk kesunyian

atau bunga rontok ke dasar sungai

semuanya kini seperti diaknosa bulan

 

"aku ingin sendiri Ibu,

hanya pada puisi

tubuhku menampung nyeri

atau sekadar menatap langit

lalu bermimpi kau mendongeng"

 

kalau malam ini benar-benar tak ada bintang

biarlah bulan mendekap segala matamu

dan mataku menampung segala cemas dan teduh kisah kita

maka, datanglah padaku

dimalam hari tepat di sungai barito petang

disana, segala mimpi menjadi perahu  yang menyenangkan.

 

Banjarmasin 2 februari 2014

 

_______________________________________

 

Moh Mahfud lahir di Sumenep Madura, kini sedang menempuh kuliah di IAIN Antasari banjarmasin jurusan perbandingan Mazhab. ia aktif menulis diberbagai media baik lokal dan naional.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...