9 December 2019

Pusaka Indonesia ala Radhar Panca Dahana & BPPI

Dengan suara pelan dan serak terbata Radhar membuka sesi pertemuan di Bentara Budaya Jakarta dalam tajuk “ Pelestarian Pusaka Indonesia oleh BPPI & Kompas “ ini dengan gaya dan sikap yang sama. Khas dan otentik ala seorang Radhar Panca Dahana yang jenius dan positif tinggi dalam mengurai segala macam permasalahan di negeri ini, beberapa anekdot ia utarakan sekaligus dengan solusi nya. 

Kondisi sakit yang sangat kompleks menyerang ragawinya, Radhar memberi sinyal bahwa ini semua tak kan mematikan semua pemikiran, gagasan dan progresinya akan misi mulia untuk membuat manusia Indonesia menjadi manusia seutuhnya, segenap suku-suku, para sahabat sehati nusantara nya mampu untuk memaknai sebagai putra di bumi surga yang masih merana ini.

“Anak saya ditanya HP nya di mana, ia jawab di kantong saku Pak. Saya melihat jadwal dan game semua di HP.” Lantas Radhar menanya sekelompok orang Baduy yang menginap di rumahnya dengan tanya yang sama. “ Di mana HP mu, kok bisa sampai sini? Saya titipkan di rumah teman Bapak.”

Dari satu contoh ilustrasi di atas Radhar mengambarkan bagaimana tidak sesederhana permasalahan kemajuan zaman dan gadget sebagai kebutuhan pokok. Diri kita tersandera dan masuk di jiwa, filosofik HP.

Pun sama Radhar memberi analogi yang sama pada kisah Orang Utan, baju kemeja nya buatan Eropa, para Sarjana lulusan Barat dll.

Peraih Paramadina Award 2005 serta Presiden Federasi Teater Indonesia, Pendiri Perhimpunan Pengarang Indonesia, Dosen UI, pengasuh rubrik Teroka Kompas dan banyak rekam jejak kesastraan dan kebudayaan di negeri ini memang spesial.

 Radhar yang mengaku terpengaruh dan di pengaruhi oleh 3 sosok yakni WS Rendra, Noorca M Massardi dan Anto Baret.

Radhar Panca Dahana tetap seorang Radhar. Yang mempunyai gagasan cemerlang, visioner dan khas. Kini dengan semakin matang nya usia, karya dan beragam pencapaian atau perspektif dan persilangan pengalaman yang dialami dari alumni Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, Perancis ini sekarang lebih sedikit elegan yakni membumi & sufistik.

Kesemuanya bisa di tarik benang merah. Bahwa dari fase awal seorang Radhar Panca Dahana yang memang bakat unggul dan kini ada di fase seorang bintang bangsa yang sedang menyaksikan bangsanya sedang sakit dan tersungkur parah, seperti yang ia alami sendiri. Tapi cahaya itu masih tetap ada walau di ujung lorong yang tanpa ujung terang.

________________________

Oleh: Ilhan Erda MS

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...