22 August 2019

Puisi: Telinga Berkaki

Tempat puja-pujian,

mengelola hubungan baik pada Sang.

 

Tempat aman,

melaksanakan penyembahan pada Yang.

 

Tempat sakral,

penumbuh subur kemesraan,

saat ritual shubuh hingga malam.

 

Tempat suci,

yang terkadang jauh,

dari sunyinya kenyamanan.

 

Tempat peribadatan,

yang sesekali dekat dengan kelucuan,

sebuah ungkapan sana-sini,

seperti iklan di antara kekhusyu’an.

 

Meski tak tertempel sebuah arahan,

tuk bicara lemah-sopan,

selaikanya ponsel yang harap digetarkan.

 

Kadang telinga yang menganga jalan-jalan,

buat pemiliknya cekikian,

oleh ungkapan tak masuk hitungan,

ketika musim hujan tak kunjung datang.

 

Tak jarang lisan di sana melahirkan celetukan;

“Gusti, rasane koyo digodhok.”*

atau bahkan,

 “Jan, koyo neng neraka Jahannam.”*

 

Meski;

hanya siri menertawakan,

seolah humor ringan gratisan,

semacam ini,

telah jadi kebiasaan.

*

”Tuhan, seperti serasa direbus.”

“Benar-benar seperti di neraka Jahannam.” 

 

Oleh: Anis Fuadah Zuhri

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...