25 August 2019

Puisi: Sekolah

Sekolah (1)

Telah meleburkan,
riak-riak tajam zaman lalu,
musim tumbuhnya kesenjangan,
antara penguasa dan biasa,
untuk sekadar mendapat hak sama,
berupa pendidikan berseragam.

 

Sekolah (2)

Benarkah telah demikian terbebas?

Untuk bersekolah,
untuk mendapat pengetahuan,
untuk memperoleh pengajaran,
untuk menenteng buku-buku pelajaran.

Betulkah telah demikian tak berbeda, untuknya si kaya dan biasa?
Untuk sekadar berjalan tegap, menggenggam hasil sekolah, yang katanya bernama ijazah.

 


Sekolah (3)

Riwayat perjuangan,
kisah menyuarakan tak kan lekang,
meski waktu telah beralih,
dari ringkihan suara piringan musik,
menjadi riuh ramai kendaran sekelas pesawat terbang.

Apa yang terjadi,
apa yang diusaha rengkuh,
atas persamaan derajat kenikmatan pendidikan,
atas persamaan hak dan kewajiban,
atas nama baik dan warga yang benar diperhitungkan.

Bernama sejarah panjang,
negeri tercinta,
Indonesia.

 

Sekolah (4)

Telah lebih setengah abad, kemerdekaan berkumandang;
nyanyian lagu kebangsaan berdendang,
meremukkan pagi,
diikuti malam.

Telah menjelang 70 tahun, pesta pertama kali digelar,
untuk mengenang, bahkan mengabadikan perjuangan.

Telah berganti generasi,
untuk seharus-bernanya menikmati,
kedigdayaan kebebasan penjajahan,
bernama kemenangan.

Seharusnya,
seharusnya yang telahkah?

 

Sekolah (5)

Saban hari, sedari pukul enam pagi,
telah riuh ramai,
hilir mudik pengendara berseragam,
bergantian menikmati perjalanan,
kadang bernama murid,
ada juga yang terpanggil guru.

Menuju sebuah bangunan sederhana,
bertuliskan sekolah.

Sekolah, madrasah, taman bermain, dan bahkan rumah belajar, kini..
telah lumrah berdiri,
meraih konsumsi sana-sini,
menjadi saksi pencarian pesertanya ke sana ke mari,
demi melanjut-juangkan, katanya, pendidikan anak negeri.

 


Sekolah (6)

Sayangnya, pendidikan membebaskan yang digalakkan,
belum seideal rencana besarnya,
masih terlihat kocar-kacir,
entah berupa berkas tulisan,
atau bahkan kebimbangan menerapkan.

Puluhan tenaga pintar telah dikerahkan,
berargumen, bertanding kecerdasan,
melawan noda-noda ketakruntutan,
sebuah penerapan di lapangan.

 


Sekolah (7)

Sekolah,
sekolah menjadi kesukaan para pelajarnya pagi hari,
dengan parfum dan seragam rapi,
tak lupa seabrek buku di sebuah tas yang tak ubahnya karung beras,
karena pasti harus menundukkan punggung,
menenteng dan menyeretnya menuju kelas.

 


Sekolah (8)

Tak sedikit, yang gedhe antusias,
untuk menikmati dan mencintai dunia sekolah,
meski sekadar menunggu rentetan bel masuk dan instruksi pulang.

Membelanjakan duit, di kantong celana atau bahkan tersimpan di lipatan saku.
Mendapatkan sebutir permen, sekantong mie, atau sesunduk pentol bahkan sossis berbau tak karuan,
Setiap jenis itu bernama jajanan sekolahan.

Siapa yang tak kenal?
Hampir setiap berstatus murid, hafal, bahkan melebihi fahamnya pelajaran.

Merah pekatnya saus sambal,
hijau bangetnya kuah es lima ratusan,
sampai gurihnya minyak tahunan.

Ohoo..
ironis, tapi sulit berkata miris.
Ini fakta yang telah membumi,
di kampung bernama dunia pendidikan.

Seperti tak ada lagi pilihan,
karena menjadi sebuah keharusan,
coba saja sebutkan, atau berani utarakan,
tuliskan makanan mengenyangkan berlebel kesehatan manakah,
seharga koin lima ratus rupiahan?

 


Sekolah (9)

Tak ada yang berpangku tangan,
membereskan bahkan mendiplomasikan masalah kesehatan,
utamanya untuk para pelajar,
generasi penerus masa depan.

Nutrisi,
keharusan sarapan,
mengiklankan berbagai cara meningkatkan daya tahan,
agar lebih mudah dikatakan cerdas dalam menjaga kesehatan.

Benarkah, tak semudah membalik telapak tangan?
Nyatanya, siapa yang tercepat, di antara deret ukur dan hitung.

 

Sekolah (10)

Kapok lombok,
istilah Jawa Timuran,
menyatakan ketakberanian mengulang,
sementara.

Iya, itu terjadi untuk soal keracunan makanan.
Entah karena bahan yang bernama pengawet, zat pewarna berlebih, atau mungkin status makanan bungkusan yang telah jamuran.

Sakit perut, diikuti pusing, bahkan mual berlebihan.
Bukan lagi sering, kejadian terulang.
Bahkan, seperti kebiasaan.

Mereka yang mengalami demikian,
esok kan mengulang mengonsumsi yang serupa,
mengagungkan lupa,
jika pernah kesakitan.

Bukan tak ada yang mengingatkan,
dari guru, sampai hadir peringatan di teks pelajaran telah berjajar,
tentang makna kesehatan.

Tapi,  
menjadi seperti,
lumrah dan tak masalah.

 

Oleh: Anis Fuadah Zuhri

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...