26 February 2020

Puisi-puisi Winar Ramelan

SELEPAS HUJAN

Kukemas lagu rindu
Dari derai-derai yang lewat
Usai tirai kunaikan
Karena tempias tak lagi datang

Selengkung bianglala
Sudah terpahat di pintu
Dengan setitik embun
Sebagai manik-manik

Renik, hanya menjadi hiasan
Boleh dikenang, tidak pun tak apa
Mengenangnya hanya menjadikan seperti ilalang terendam air telaga
Menua dan membusuk tanpa daya

Selepas hujan
Isi gelas tak lantas tandas
Setengah isinya masih terasa hangat
Merayapi dada meski tak ada sesiapa

Selepas hujan
Tak menjadikan hati retak
Bila menjadi kepingan
Itu mozaik yang perlu ditata
Ornamen baru akan tercipta

Genangan hanya milik jalan berlubang
Menghitam dan keruk hanya milik luka nganga
Menawarkan diri bagi yang mau terjebak
Membuat goresan dan lelehan air mata

Selepas hujan
Aku bertelanjang kaki
Tak ada gigil yang kan merayapi
Karena aku masih bisa menari
Di lantai keramik tanpa daki

Denpassar, 2016.

 

LIMA DESEMBER

Lima desember
Angin pagi mengajakku menziarahimu
Menanam biji-biji sepi
Memetik bunga-bunga rindu

Telah lama aku ingin menidurkanmu
Melepas bayang bangku panjang
Juga gradasi senjamu
Menjadi kafan putih panjang yang menutup inginku akanmu

Benih nafsu pun telah aku masukkan lemari pembeku
Agar keliaran tak lagi bersulur
Yang akan merambati pikiranku

Lima desember
Angin pagi teramat nakal
Telah kuhalau agar ia terbang
Untuk sembunyi di bukit tua
Tempat aku menghatur puja

Namun, dingin pagi
Membawaku ke pekuburanmu yang ada di kepalaku
Mengajakku menumbuhkan sayap
Agar terbang bersamamu
Lintasi ruang dan waktu

5 desember 2016

_______

Winar Ramelan, Saat ini tinggal dan berkarya di Denpassar Bali.(WS/Kf)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...