24 October 2019

Puisi-puisi Balada Penyair Balada : Warih W Subekti

Balada Penyair, Kopi dan Buku Puisi

Seorang penyair kebingungan, bagaimana tidak sudah dua kali dia menyedu kopi
dan belum sempat meminumnya
(rupanya dia tengah asyik menulis puisi dan sesekali pergi ke kamar kecil)
namun kopi yang berada di meja didekat tumpukan buku puisi dan mesin ketik jinjing tahu-tahu kosong dari gelasnya

siapa yang meminumnya, itu pertanyaan yang ada dibenak tapi tak dia ungkapkan
dengan kata-kata, tiba-tiba dari balik tumpukan buku puisi ada penyataan yang membuatnya lega, "Aku yang telah menghabiskan kopimu" dan penyair itupun terdiam seribu kata

sebab puisi telah jujur mengakui perbuatannya, baru tahu kini bahwa puisi-puisi itu yang telah menghabiskan beribu-ribu gelas kopi, sepanjang proses kreatifnya

pantes saja kalau bini sewot "minum kopi kaya minum sirup saja", ujarnya

Jakarta, 2014.

 

Balada Penyair, Istrinya dan Tukang Koran Bekas

Seorang penyair bangun tidur sudah menjelang ashar, tampak linglung dan bingung istrinya mendekat dan menanyakan sesuatu, "cari apaan sih Pak?", kata istrinya

dia tetap diam sambil cligak-clinguk mencari sesuatu, akhrinya dia nyerah dan buka suara "kau lihat tumpukan kertas di sini" kata dia pada istrinya sambil menunjuk kursi dekat mesin ketik tua

"Aku jual ke tukang loak sama kerdus bekas pemberian tetangga, dan aku belikan kopi dan pisang goreng yang aku taruh di meja" kata istrinya

"tumpukan kertas di kursi itu kamu kiloin, itu naskah puisi yang akan kukirimkan pada penerbit" kata penyair itu lemas dan terkulai di kursi tua

"habis kau tak kasih uang belanja dan anak-anak minta ongkos ke sekolah" kata istrinya merasa tak bersalah

sia-sia naskah puisi yang selama ini dia kumpulkan dan siap dikirimkan ke penerbit jatuh ke tangan tukang loak dan dihargai secara kiloan
hanya bernilai segelas kopi dan gorengan pisang, ratap sang penyair mudah-mudahan didengar alam semesta

Jakarta, 2014.

 

Balada Penyair dan Baju Lebaran Anak-anaknya

Menjelang lebaran seorang penyair bingung, bagaimana tidak dia belum membelikan baju baru untuk kedua putrinya belum lagi ini tahun ajaran baru, dia mesti belikan seragam dan buku-buku sekolah

bukan penyair namanya kalau tak bisa mengatasi ini semua, maka dituliskannya puisi "Baju Baru Untuk Anak-anakku", dan dia bacakan puisi tentang baju baru dihadapan istri dan anak-anaknya juga diundangnya para tetangga

(maka usailah puisi dituliskan dan dibacakan)

"Hore-hore, kita punya baju baru", sorak-sorai kedua anaknya

istrinya cuma mangut-mangut tak mudeng sambil melepas tetangga kanan-kirinya, tapi ia juga merasa senang, sebab anak-anaknya tak lagi merengek padanya dan lupa dengan baju barunya

Jakarta, 2014

 

Balada Penyair, Puisi dan Buku Puisi yang Pulang Kampung

Seorang penyair kaget, pagi-pagi buta puisi telah membangunkannnya
padahal baru seperempat jam ia berbaring diranjang kesayangannya

"Maaf tuan penyair saya mesti pulang sekarang mengejar kereta yang pertama dan mau merayakan lebaran di kampung saja" kata puisi sambil mencium tangan penyair dan lari tergesa-gesa

"Ya ya ya hati-hati di jalan kenapa mendadak begini, aku tak bisa mengatarkanmu sampai stasiun kereta " jawab penyair sambil ucek-ucek mata
(penyair berikan semua honorariumnya dalam amplop warna jingga)

Penyair lalu melanjutkan tidurnya, saat terbangun dia kaget sebab beberapa buku puisi tak ada ditempatnya, ia menduga buku-buku itu pulang bersama puisi ke kampung halamannya

hampir sebulan dia lontang-lantung tak karuan, dan nongkrong di warung kopi tapi tak pernah lagi ketemu sama puisi

dan dia mendapat kabar bahwa puisi tak mau lagi kembali ke kota, beralih profesi menjadi petani bunga

Jakarta, 2014

 

Balada Penyair dan Sejumlah Puisi yang Mejeng di Media Jakarta

Sesuai janjinya usai berbuka puisi menemuiku, sungguh aku terpana betapa cantik ia dan memepesona, kata pujangga 'bagai bidadari turun dari surga'

"Malam Mas Penyair, saya datang kali ini mau pamit", tuturnya lembut sambil membetulkan blezer warna unggu kesukaannya

"Lho memang mau ke mana?" kata Mas Penyair pura-pura bertanya
"Saya malam ini mengejar dead line, untuk tampil di media massa nasional Jakarta dan membawa namamu" katanya meyakinkan aku

"Ha lha kamu tahu darimana?" kata Mas Penyair binggung
"Lha membaca SMS redaktur budaya dari Jakarta, di HP Mas Penyair" kata puisi sambil melompat dan terbang bersama angin

Betapa kagetnya Mas Penyair melihat puisi tampil di Media Massa Nasional Jakarta dengan wajah yang fotogenik dengan senyuman Monalissa

Tetangga kanan kirinya berebut menyaksikan hingga koran terbitan Jakarta itu robek dan tak terbaca

Jakarta, 2014

 

Balada Penyair dan Wawancara Puisi dengan Sastrawan Mashur

Sudah hampir seminggu puisi tak bertandang ke rumahku, kemana gerangan perginya pikirku dan rasa penasaran ini membawaku pada Sebuah Cafe di bilangan Jakarta Pusat

saya masuk seolah-olah sudah biasa padahal baru pertama kalinya, kusaksikan puisi sedang duduk satu meja dengan seseorang, dilihat dari penampilannya dia seorang wartawan

saya berusaha cari posisi duduk yang paling dekat dan nguping pembicaraan keduanya

Puisi : sebagai wartawan saya perhatikan belakangan ini anda jarang menulis laporan jurnalistik dan lebih banyak menulis puisi apa alasan anda?, sambil menyorongkan tape kecil dan sesekali membuka catatan

Wartawan: ah menurut saya tidak puisi bagi saya juga karya jurnalistik anda ingat yang disampaikan SGA ( Seno Gumira Adjidarma-red) bila jurnalisme dibungkam maka puisi yang bicara

Puisi : ya ya ya saya ingat itu, tapi pada perkembangan selanjutnya apakah puisi akan diakui sebagai karya jurnalistik dan mendapatkan award yang selama ini diberikan pada karya-karya jurnalistik seperti Adinegoro dan Juga Pena Emas

Wartawan : saya yakin dan percaya bahwa perkembangan ke depan akan mengarah ke sana, bahkan Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan juga Perda-perda akan ditulis dalam bentuk puisi

Ha ! sungguh saya tak percaya melihat dan mendengar itu semua, ujar penyair
ternyata puisi mewawancari wartawan senior yang mempunyai kredo yang sangat masyur dan populer itu "Bila Jurnalisme Dibungkam, Maka Satra yang Bicara"

Saya pun menyelinap dan keluar cafe dan kembali menyusuri rimba jakarta dan berharap mendapat inspirasi dari pembicaraan puisi dan wartawan tadi.

Jakarta, 2014.

 

Balada Penyair, Puisi dan Kopi Dangdut

Puisi telah lupa pada janjinya, ia tertidur pulas di sofa
semalam dia bilang "Tuan Penyair besok pagi kan kubuat kopi dangdut, biar sehat dan tidak gendut" katanya bersemangat

saya tak bisa tidur membayangkan aroma dan seperti apa 'kopi dangdut' yang ditawarkan puisi hingga pagi ini

aneh kadang-kadang bila saya mengenang kelakuan puisi yang datang pergi di rumahku dan mengganggu pikiranku

kopi dangdut?, saya mengulang-ulang kata itu, saya yakin ini bukan jenis kopi, ah puisi terkadang asal sebut untuk sekedar menyenangkan hatiku saja

bukankah kopi dangdut itu judul sebuah lagu, puisi kau telah membohongi aku
tunggu nanti balasanku

tiba-tiba tak saya ketahui datangnya puisi telah hadir dihadapanku

"Tuan Penyair ini dia kopi dangdut yang aku maksudkan" dia bawakan kaset CD lagu kopi dangdut dan segelas kopi tubruk beraroma duren

oh puisi-puisi meski puluhan tahun kita saling kenal tapi jalan pikiranmu kadang susah aku pahami...

Jakarta, 2014.

 

Balada Penyair dan Demo Puisi dan Buku Kumpulan Puisi

Benar-benar saya lagi kesal dengan kelakuan sejumlah puisi di perpustaan pribadiku, tiba-tba mereka menghilang bersama sejumlah buku

gila apa maksudnya, mungkinkah mereka demo sebab tak puas dan merasa diperlakukan semena-mena oleh saya?

ribuan puisi dalam sejumlah buku raib tak saya ketahui rimbanya, ada satu puisi yang tertinggal dan nyelip di dekat kaleng alat-alat tulis

saya comot dan saya intrograsi dia,"He puisi apa maksud kalian pergi dan tinggalkan kami, kalian merasa tersiksa dan tak sejahtera, kalian menuntut kehidupan yang lebih baik atau kalian menuntut THR dinaikkan angkanya?"

"Maaf Tuan Penyair saya tak ikut-ikutan dengan rekan-rekan, yang saya tahu mereka pergi sebab tuan sudah jarang menyapa dan membacanya tuan saat ini lebih asyik menjadi pengamat politik dari pada penyair" kata puisi terbata

"Oh begitu maumu, oke tapi kau tahu berapa honor puisi untuk media nasional cuma lima puluh ribu, dan space untuk rubrik puisi pun telah digusur oleh iklan, jadi kau mesti tahu kalau aku mengembangkan sayap merangkap jadi pengamat, demi kesejahteraan kalian juga" kata-kata penyair meluncur membasahi sejumlah puisi

"Kalian tahu ada seorang budayawan yang juga penyair bilang akhir-akhir ini malas nulis puisi sebab honorariumnya kecil dan tak bisa menutup biaya hidupnya" lanjutku

puisi-puisi itu kembali berkumpul dan datang padaku tak tahu dari mana arahnya mereka bawa buku mereka masing-masing dan serempak mereka katakan padaku "Maafkan kelakuan nakal kami Tuan Penyair" kata-kata itu bergema di ruang baca

Jakarta, 2014

Warih W Subekti, penyair dan pengamat sosial, saat ini tengah menekuni hobi menulis puisi tentang puisi. (War/konfrontasi)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...