21 August 2019

Puisi : Mematuk Rindu Bulan

Konfrontasi-Puisi-puisi di bawah ini saya tulis melalui Hp Nokia 330 dan saya kirim ke keponakan saya untuk dimasukan dalam blog pribadi saya, bahasa kerennya dia admin, maka pada satu saat saya kirim puisi-puisi ini lewat sms ke Penyair Binhad Nurochmat, dia agak kesal dan bilang ke saya ' kayak baca spanduk ' kala itu saya merasa malu.(Warih W Subekti)

WAJAH BARU

Kini tak lagi kukenali dirimu
Sebab malam tlah menukar wajahmu dengan gelap
gelap tlah membawamu pada belantara yang asing dan gersang
Dan tak menyisakan jejakmu di sana
Dimana tempat itu tak sempat kau catat dalam peta

Lalu siapa yang datang padaku dengan senyuman palsu
Dengan setangkai bunga yang nyaris layu
Ia tak mengatakan sesuatu
Hanya lewat bibirnya kutangkap makna yang tak kau ungkap
Tapi berkelebat, dan kutangkap isyaratnya.

Gombong, 2005

MEMATUK RINDU BULAN
Untuk : Aprilia Candra Subekti

Angin bergerak dalam pusaran waktu
Begitupun aku tak kutahu kemana ini kan bermuara
Seperti juga usia tak kutahu di mana ujungnya

Engkau senantiasa menengadah dalam hening malam
Merekah diam dan pasrah
Rindumu terkulai dalam balutan waktu
Yang sangsi oleh duka dan seolah lenyap asa

Mengertap seperti seperti sayap
Dan paruhmu mematuk bulan
Kau sadari itu bukan nyanyian keabadian
Tapi kutukan
Dan batu menjadi ujudmu kembali.

Gombang, 2005

SAAT BERSAMAMU
Untuk : Anindya Candra Arjana

Ini tempat yang paling aku sukai
yang paling sering aku kunjungi
Seperti kembali aku di rahim ibu
Tak kupikirkan apa - apa
Kecuali kedamaian begitu rupa

Aku merasakan dan menyaksikan
Semua bukan dari mataku
Semua bukan dari telingaku
Tetapi dari segenap rasa dalam jiwa

Semakin dalam aku tenggelam
Engkau kulupakan
Eangkau kuabaikan
Aku terbakar sampai ke akar.

Gombong, 200

TANPA KAU UNDANG

Tanpa kau undang
Malam riang melenggang
Menyusup dalam selimut
Dan kau terpanggang dalam dingin kabut
Lalu dekapan malam kau rapatkan

Diam - diam pagi tlah menanti
Untaian embun seperti permata terhampar
Mengiringi jejak kaki yang hendak kau lalui

Kau bosan menatap rembulan
kau juga enggan bertemu matahari
Yang kau yakini tlah mengkhianati
Embun dan kabut dengan kibasan cahayanya
Hingga dirimu tampak di sana
Dan bayang - bayangmu indah menggoda.

Gombang, 2005

_________________________________________________________________

Warih W Subekti, Saat ini tinggal di Jakarta, Semua puisi-puisi di atas ada dalam Blog pribadi saya di www://warihsubekti.blogspot.com.(Kf)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...