22 September 2019

Puisi Kolaborasi : PUISI MELAWAN KOPI

PUISI MELAWAN KOPI

Senja telah luluh di kaki langit
segelas kopi menjuntai hingga ujung gelas
tak juga digapai
laki-laki berwarna abu-abu melahap puisi-puisi
berserak di halaman buku
kopi berbisik "Tuan kenapa tak kau sentuh bibirku dengan bibirmu?"

Senja telungkup ditimpa gelap malam
"kau serupa diriku hitam", kata kopi
keduanya menyatu

Kopi tubruk sedikit gula
pasang mata sehangat senyuman
di lepek kutuang menantang rasa
pahit sedikit manis
gula-gula kehidupan dan
binarmu pengharapan

Uhuuuyyy..sruuupppp

Sementara, kita istirahat ngomong politik; nikmati semilir angin bersama secangkir kopi...

melayang angan di kepul kopi panas
sehirup sekecup pada bibir mug yang genit
nikmati saja bertindih ganti
kopi dan nikotin tanpa filter
lepas letih menyisih risih

Terasa perih, ketika secangkir kopi merayuku dengan mantra suci
"Hirup aku, reguk aku!"
Lambaianya penuh senyum

Tiba-tiba, aku tak ubahnya ketemu bakal madu yang dibawa suamiku
Ingin kurengkuh, agar hangat meruap dadaku
Namun, gelombang pasang tiba-tiba mengamuk di lambungku

Mohon, jangan dera aku dengan wangimu!

Aku mengenalmu sebagai lelaki kopi yang hangat
ketika kata-kata kau lontarkan sebagai mantra, senja terpesona
di dalam remang kau ulurkan tangan berjabat - aku terperanjat
secangkir kopi-kepul puisi dikekalkan waktu
jejak bibirmu di cangkir telah kusesapi - di bawah langit langit yang dingin
senja- berkata terbata-bata : "malam segera datang pulanglah segera!" Em

Jakarta, Denpassar, Kalimantan Selatan, Tangerang, Probolinggo, 23 Desember 2016

___

Puisi Kolaborasi : Warih Subekti, Ersa Sasmita, Emi Suy Haryanto, Dewi Nurhalizah, Winar Ramelan dan Agustina Thamrin.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...