31 March 2020

Puisi : Kembali ke Rumah Asal, Sebab Tak Cinta kecuali Setelah Kematian

Puisi-puisi Dira Diptya ...

KEMBALI KE RUMAH ASAL

Gemerisik dedaunan, lirih berbisik  
senandungkan gelombang kehidupan.
Melambai-lambai tak tentu arah di tiap episode

Kemudian aku bertanya, "untuk apa hidup?"
menjadi butiran tebu yang maniskah?
atau menjadi empedu hitam yang pahit?
atau setengah-setengah saja?  

Tanya tak pernah atau mungkin sebagian terjawab
karena diri-diri ini tetap lalai, tetap merasa hebat
 
Meski sebagian mimpi getir tak pernah menguap
tapi penyesalan pun tak bersungguh-sunggh
luruh airmata tertelan waktu berlalu, sia-sia 

Kini senja telah mencapai puncak bukit,
rambut yang semakin putih sebagai penanda    

Siap ataupun tidak itu bukan pilihan
Sebab bumi telah meminangmu untuk pulang

Perlahan tapi pasti senyap akan datang
membungkusku dalam selembar kain 

Rumah Duka, 26 Mei 2014

 

TAK ADA CINTA KECUALI SETELAH KEMATIAN

Pagi yang lengang
langit mati

Sebuah bayang membentuk sosok

Air liur beku di ujung lidah,
bola mata berkubang setengah

Dada tiba-tiba diberati bebatuan
dan nafas hampir lumpuh

Rasa itu sangat bersahabat

Ketika aku kehilangan sebuah figur
kekasih yang tak benar-benar
kumiliki

Subuh, 26 Mei 2014

*) Dira Diptya, Saat ini bekerja dan berkarya di Semarang. Tergabung dalam Kumandang Sastra Semarang. (Warih)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...