22 September 2019

PUISI: KELUARGA

KELUARGA (1)

 

Selaiknya mataharinya bumi.

Tak ubahnya nutrisi bagi tubuh.

Seperti nafas bagi detak kehidupan.

Itulah makna keluarga teruntuk keberlangsungan hidup manusia.

 

KELUARGA (2)

Saling mengingatkan,

saling perhatian,

saling memafkan,

meski tak jarang muncul perdebatan,

yang lebih terlihat pertengkaran,

dan tak berapa lama teruraikan,

dalam kebersamaan.

 

KELUARGA (3)

Berbeda, sudah pasti.

Tak senantiasa bersama, itu ketentuan.

Tidak pasti dipertemukan, memang.

Berada saling berjauhan, resiko menuju kedewasaan-kemandirian.

Satu hal yang telah ditentukan Tuhan,

terlahir dari rahim yang sama,

terbentuklah keluarga.

 

KELUARGA (4)

Kedekatan hubungan di luar sana,

masih memiliki batas,

dan kadang ketentuan.

Jika berhubungan dengan persaudaraan,

darah yang mengalir,

tak ubahnya perekat yang mengeratkan.

 

KELUARGA (5)

Tentu ada kurang lebih,

dari tiap pribadi yang terlahir.

Bukan untuk menandai kekurangan,

satu dengan yang lain.

Tapi pertanda,

harus melengkapisatu dengan yang lain.

 

KELUARGA (6)

Perbedaan menjadi rahmat,

itulah kenapa ada garis penciptaan.

Pun pertanda,

hanya Tuhan pemilik kesempurnaan.

 

KELUARGA (7)

Jika hubungan di luar sana berjarak,

karena sebuah alasan dan perbedaan,

tak begitu dengan silisilah kekerabatan.

Siapa sanggup menukar darah yang telah mengaliri kehidupan?

Tentu alasan Tuhan begitu gemilang,

kenapa dititahkan.

 

KELUARGA (8)

Menapaki tangga kehidupan,

tak lepas usaha yang teguh diperjuangkan,

oleh diri,

pun keluarga disekeliling.

Bila penghormatan tak seteguh perjuangan di awal,

bisakah disebut syukur mendalam?

 

KELUARGA (9)

Sedekat apapun hubunganmu dengan teman seperjalanan,

tak ada yang melebihi lekatnya bathin persaudaraan,

meski jarak tempuh tak diragukan.

 

Karena,

tetap terjalin komunikasi jiwa,

meski raga tak bersama-sama.

Ada doa mengalir,

di sanubari dan kerling,

di tiap langkah kehidupan.

 

KELUARGA (10)

Keanggunan sikap dan akhlak di luar,

seringkali disebut cermin tingkah dan didikan,

keluarga di rumah.

Kesantunan ucap dan ramah,

pun tak jarang dikatakan wujud bimbingan di rumah.

Pembawaan diri pada kehidupan di luar sana,

seolah penentu kualitas kehidupan keluarganya.

Bagaimanapun kacamata ini diperdebatkan,

lebih banyak yang bersudut pandang demikian.

Meski kadang tak adil bagi sebagian,

tak nian kebiasaan ini hilang.

 

Oleh: Anis Fuadah Zuhri

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...