18 June 2019

Puisi: Geming Malam

Dalam balutan remang
jari-jari mencoba berlari
Menghampiri telepon genggam
lalu mencari sebuah nama

Entah dimana pikir sehat
malam
masih saja
mencoba meledakkan pilu
Rangkai kata
bukan saja
memecah tangis Ibu
Namun
menikam pergelangan nadi sendiri

"Bu, bolehkah ku pinjam uang"

Purnama
membungkam kata
temaram
nampak ketakutan
Seketika
setiap penjuru tatap
nampak sesak

"Ibu pun sedang bingung. Bahkan, Sepatu Ayahmu saja masih tak terbeli. Kasihan, sepatunya sudah Sobek"

Malam menginginkan hujan
Air mata
mengikat dada
bintang-bintang pun tak sanggup menghela napas

Entah apa
yang menyeret pikir
Kembali membuka
Luka
Kian menganga
Ingin rasa untuk menarik semua ucap

2015

Tenggelam

Semakin dekat. Telah nampak Pusaran Besar di kejauhan
Kuat Arus
menyeret ketidak berdayaan Tubuh rapuh

Seketika, Telunjuk mengarah
pada Titik dimana Raga akan
tenggelam.
"Di tempat itu, tanpa kata, tanpa suara, karena memang disanalah waktunya. Penghabisan!"
Begitu lantang Pasrah menghujat.

Serpihan kecil
yang tidak lagi berguna, lenyap
ditelan senyap.

Tahukah, sebelumnya
Remah-Remah menopang
kokoh mereka yang kebal Badai
Mereka yang Rapuh.

Inilah waktunya
Tanpa kata, tanpa suara
Mengasing dalam sosok terlupakan.

Mei 2015

Muhamad Seftia Permana (Vjay)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...